Kawan GNFI, di bulan suci Ramadan tren berburu takjil menjadi hal lumrah sebagai kudapan manis yang selalu menjadi incaran untuk makanan pendamping di kala berbuka.
Di tanah Sunda, Jawa Barat terdapat salah satu kudapan terkenal yang banyak dijumpai di sudut kota, kios-kios, maupun street food. Kudapan ini bercita rasa manis, gurih, legit, dan hangat yang dikenal dengan nama Awug beras atau dodongkal/dongkal.
Keberadaan awug beras sudah sangat melegenda dan kepopulerannya tidak pernah pudar sebagai kudapan manis favorit khas Sunda khususnya untuk takjil di bulan suci Ramadan.
Ingin tahu bagaimana awug beras tercipta hingga pesonanya sebagai kudapan legendaris yang tak pernah pudar? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI!
Karakteristik Awug beras dan Filosofi Bentuk Ikoniknya
Dari sekian banyaknya makanan legendaris khas Sunda, pamor awug beras masih tetap dikenal hingga saat ini bahkan menjadi favorit bagi semua kalangan.
Dalam pembuatanya, awug beras diolah dari tepung beras yang dicampur dengan air, daun pandan, garam, gula merah (aren), dan kelapa parut yang dimasak dengan cara dikukus.
Teksturnya yang manis, gurih, legit, dengan parutan kelapa menjadikan awug beras sebagai primadona takjil di bulan suci Ramadan, khususnya di wilayah Jawa Barat seperti Bandung, Garut, dan Tasikmalaya.
Memiliki bentuk yang ikonik berbentuk kerucut seperti tumpeng, sebenarnya bentuk kerucut terjadi karena saat dikukus menggunakan aseupan atau perabot dapur dari anyaman bambu. Ini menjadi tradisi turun-temurun untuk menciptakan aroma wangi dan kesannya yang khas dengan dimatangkan pada sééng selama 10 menit.
Berbeda dengan tumpeng, awug beras memiliki adonan yang dibuat berlapis yang membentuk dua warna, yakni warna putih dari tepung beras dan warna merah kecoklatan dari gula merah (aren).
Hal ini karena dalam proses memasaknya, bahan tepung beras dan kelapa parut diletakkan secara berselingan dengan irisan gula aren di dalam aseupan. Kemudian dikukus hingga matang dengan aroma khas alami daun pandan dan daun pisang untuk hasil akhirnya.
Selain cita rasanya yang khas, awug beras yang legendaris ini pun memiliki keunikan dari cara menghidangkannya.
Ketika sudah matang, makanan ini disajikan pada wadah beralas daun pisang dan dinikmati selagi panas atau hangat lebih baik.
Konon, daun pisang ini menjadi daun yang wajib ada untuk memunculkan harum yang menggugah selera yang tak hanya dari daun pandan saja.
Awug beras jadi Primadona Takjil di Bulan Suci Ramadan
Sebagai kudapan legendaris dan menjadi primadona takjil di bulan suci Ramadan, awug beras dipilih sebagai menu berbuka. Seringkali menjadi pusat perhatian karena kepulan uap panas dari aseupan yang menggugah selera saat dijajakan.
Menu awug beras sebagai takjil memberikan energi instan setelah seharian berpuasa dari kandungan gula aren dan membuat kenyang lebih lama dari tepung beras sebagai karbohidrat, tetapi tetap ringan sebagai menu pembuka.
Biasanya, awug beras dibeli dalam porsi besar yang nantinya akan dipotong-potong untuk dinikmati bersama selama buka puasa.
Pembuatan awug beras yang ikonik dengan menggunakan perabot dapur tradisional khas Sunda ini menjadikan awug beras sebagai kudapan legendaris yang tetap terjaga identitasnya menjadi kuliner masyarakat Sunda.
Awug beras kini tak hanya sebagai kudapan tradisional saja, melainkan sebagai simbol kehangatan dalam tradisi berbuka puasa yang menyebar di masyarakat Sunda.
Nilai spiritual dan sosial yang melekat pada awug beras di bulan Ramadan ini, menjadi media pemersatu yang menghidupkan kembali nostalgia dan kearifan lokal dari keunikan visual, teknik memasak, dan tekstur rasa otentiknya yang tak lekang oleh waktu.
Tertarik untuk mencobanya, Kawan GNFI?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


