Di bumi bagian mana lagi aku bisa memenangkan diri? Pertanyaan itu terdengar seperti keluhan seorang pengembara. Tapi mungkin ia bukan sedang mencari tempat. Ia sedang mencari jarak.
Kota-kota hari ini tak lagi sekadar ruang; ia telah menjadi arus. Orang lalu-lalang seperti partikel dalam eksperimen raksasa yang tak pernah diumumkan tujuannya. Mereka berdesakan, bukan hanya di trotoar dan gerbong, melainkan juga di layar-layar yang menyala hingga dini hari. Semua bergerak. Semua tergesa. Semua seperti sedang mengejar sesuatu—yang, jika ditanya, mungkin tak seorang pun dapat merumuskannya dengan jernih.
Dulu, kata Blaise Pascal, seluruh malapetaka manusia bersumber dari satu hal: ketidakmampuan untuk duduk tenang sendirian di dalam kamar. Kini kamar pun tak lagi sunyi. Ia ditembus notifikasi. Ia dipenuhi gema percakapan yang tak pernah selesai. Sunyi telah menjadi barang langka—dan karena itu mahal.
Menangkan diri: frasa itu terdengar seperti medan laga. Seolah-olah hidup adalah kompetisi yang tak kita pahami aturannya, namun kita tetap diminta bertanding. Kita belajar sejak kecil untuk menjadi yang pertama, yang tercepat, yang paling tampak.
Kita diajari mengukur diri dengan angka, dengan peringkat, dengan sorak yang datang dan pergi. Tapi tak pernah benar-benar diajari bagaimana berdamai dengan kegagalan, dengan kekosongan, dengan jeda.
Baca Selengkapnya

