10 bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di asia tenggara bahasa madura masuk daftar - News | Good News From Indonesia 2026

10 Bahasa Daerah dengan Jumlah Penutur Terbanyak di Asia Tenggara: Bahasa Madura Masuk Daftar!

10 Bahasa Daerah dengan Jumlah Penutur Terbanyak di Asia Tenggara: Bahasa Madura Masuk Daftar!
images info

10 Bahasa Daerah dengan Jumlah Penutur Terbanyak di Asia Tenggara: Bahasa Madura Masuk Daftar!


Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan dengan lanskap linguistik yang sangat beragam. Banyak bahasa daerah yang dituturkan oleh masyarakatnya dalam kehidupan sehari-hari di luar bahasa nasional mereka, termasuk Indonesia.

Bahkan, Indonesia secara global menempati peringkat teratas bersama Papua Nugini sebagai negara dengan bahasa terbanyak di dunia. Data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tercatat ada sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia yang digunakan di seluruh provinsi.

Selain Indonesia, ada pula Filipina yang memiliki sekitar 170 hingga 180-an bahasa daerah. Thailand, Myanmar, sampai Malaysia pun memiliki ragam bahasa daerah hingga dialek yang unik dan berbeda-beda.

Kira-kira, bahasa daerah apa saja yang memiliki jumlah penutur terbesar di Asia Tenggara?

baca juga

10 Bahasa Daerah dengan Penutur Terbanyak di Asia Tenggara

Hasil riset Seasiastats, di bawah ini adalah daftar 10 besar bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Asia Tenggara:

  1. Bahasa Jawa – 68 juta penutur
  2. Bahasa Sunda – 32,4 juta penutur
  3. Bahasa Cebu – 20 juta penutur
  4. Bahasa Hiligaynon/Ilonggo – 9,1 juta penutur
  5. Bahasa Ilocano – 8,5 juta penutur
  6. Bahasa Madura – 7,7 juta penutur
  7. Bahasa Melayu (Sumatra/Kalimantan) – 7,5 juta penutur
  8. Bahasa Minangkabau - 4,8 juta penutur
  9. Bahasa Banjar – 3,7 juta penutur
  10. Bahsa Bugis – 3,5 juta penutur

Kawan GNFI, bisa dilihat dari daftar tersebut jika bahasa daerah dengan penutur terbanyak di Asia Tenggara didominasi oleh Indonesia. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu pusat keragaman linguistik terbesar di kawasan.

Yang menarik, meskipun memiliki ratusan bahasa daerah, penduduk Indonesia juga bisa bahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang mempersatukan ujung barat hingga timur Indonesia.

Dalam daftar, bahasa Jawa masuk sebagai posisi teratas. Tampak pula bahasa Sunda, Madura, Melayu Kalimantan dan Sumatra, Minangkabau, Banjar, dan Bugis yang bertengger di 10 besar. Penggunaan bahasa daerah dengan kuantitas yang sangat besar ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa lokal masih sangat hidup di masyarakat di tengah arus globalisasi yang semakin meningkat.

Di sisi lain, bahasa daerah asal Filipina juga masuk ke dalam daftar. Ini menunjukkan bahwa Asia Tenggara sama-sama memiliki komunitas penutur bahasa daerah yang besar.

Eksistensi Bahasa Daerah

Besarnya jumlah penutur bahasa daerah tidak lepas dari faktor demografi dan persebaran wilayah. Bahasa Jawa misalnya. Bahasa ini dituturkan oleh mayoritas masyarakat di Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur. Menariknya, di daerah Jawa Barat yang masyarakatnya banyak menuturkan bahasa Sunda, terdapat daerah yang menggunakan bahasa Jawa dengan dialek yang khas.

Jika dilihat dari sejarah, di masa penjajahan dahulu, banyak sekali kuli-kuli Jawa yang dibawa ke luar daerahnya untuk dipekerjakan, seperti di daerah Sumatra, Kalimantan, dan sebagainya. Kuli-kuli ini bekerja di area perkebunan bersama dengan buruh-buruh yang “diimpor” Pemerintah Hindia Belanda dari Tiongkok.

Hal ini membuat penyebaran bahasa Jawa semakin meluas. Belum lagi program transmigrasi yang dilakukan pemerintah Indonesia pasca-kemerdekaan yang membawa masyarakat Jawa ke berbagai provinsi lainnya, sehingga penggunaan bahasa Jawa tidak hanya terbatas di Jawa saja.

Hal yang sama juga berlaku pada bahasa daerah lainnya, seperti bahasa Sunda yang banyak digunakan di Jawa Barat dan sekitarnya serta bahasa Madura yang dituturkan di Pulau Madura dan sebagian wilayah pesisir Jawa Timur.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.