Tulisan saya kali ini mungkin bersifat subjektif tentang kecintaan terhadap Bumi Pertiwi Indonesia. Saya yang lahir tahun 1952 adalah asli Surabaya yang waktu tinggal di kampung dengan kondisi rumah separuh tembok separuh papan kayu. Beberapa rumah di wilayah kampung saya itu kondisinya lebih parah yakni gubuk dari anyaman bambu.
Tahun 1980-an saya sudah ke beberapa negara maju seperti Singapura dan Jepang ketika saya mewakili Jawa Timur dalam Program Pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang. Rasanya sebagai orang kampung saya merasa menjadi orang “ndeso” ketika melihat gedung–gedung pencakar langit di Singapura dan Shinjuku Tokyo dan Hiroshima. Saya ndeso—maklum waktu itu baik Surabaya maupun ibu kota Jakarta masih dipenuhi kampung-kampung sehingga Jakarta dijuluki “The Big Village", jauh dari kesan kota modern. Melihat taman-taman yang penuh dengan bunga saja saya ketenggengen alias terkesima karena saya belum pernah melihat taman bunga seperti itu di Surabaya dan Jakarta.
Lalu tahun-tahun berikutnya saya sekolah di University of London Inggris ketika saya masih bekerja di kantor pemerintah, keliling beberapa negara di Eropa, Australia, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. Saya juga sempat lebih dari 25 tahun bekerja di lembaga perwakilan diplomatik Amerika Serikat, di Bank of Tokyo dan bank Belanda ABN AMRO.
Namun dengan berbagai pengalaman yang menakjubkan di luar negeri, bergaul dan bekerja dengan orang asing, saya masih Indonesia, masih berbahasa Indonesia dan Jawa Suroboyoan, saya tidak terlena ikut orang-orang Barat yang meletakkan kedua kaki di atas meja atau misuh dalam bahasa Inggris seperti F…K You!!!. Saya pun tidak pernah menyelipkan kata-kata bahasa Inggris di bahasa Indonesia saya, saya masih bangga sebagai orang kampung Surabaya dan Indonesia.
Kenapa saya masih cinta tanah air dan tidak ingin tinggal di luar negeri walaupun kesempatan sangat terbuka lebar, misalnya saya bisa sangat mudah mendapatkan izin menjadi permanent resident di Amerika Serikat. Itu karena melekat di diri saya wawasan kebangsaan, saya mempelajari sejarah gemilangnya Indonesia sejak zaman kerajaan, juga banyak kisah lainnya mengenai negeri ini. Semua itu saya baca dari ratusan buku peninggalan almarhum Abah saya dari tahun 1936-1950-an.
Saya juga mempunyai beberapa sahabat yang menetap di Amerika Serikat lebih dari 20 tahun, dan saya dapat kabar kalau mereka tetap menjaga budaya Indonesia, berbahasa Indonesia, menyelenggarakan pertemuan dengan masyarakat Indonesia, menyelenggarakan festival batik, ikut menghadiri upacara 17 Agustusan. Meskipun mereka lama di luar negeri, namun mereka masih cinta Tanah Air.
Lalu baru-baru ini muncul video viral seorang ibu muda Indonesia yang kecewa menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Dalam video itu nampak seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) inisial DS membuat kontroversi lewat pernyataannya. Dia viral dan dikecam karena pernyataannya "Cukup saya WNI, anak jangan".
Dalam video itu, ia memperlihatkan tengah membuka sebuah paket yang sudah dinantikannya. Isinya selembar surat dari Home Office Inggris. Surat itu menyatakan anak kedua sang pemilik akun, resmi menjadi warga negara Inggris. Perempuan itu juga memperlihatkan paspor Inggris yang datang bersamaan dengan surat tersebut.
"Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen yang penting banget yang mengubah nasib dan masa depan anak-anakku, kita buka ya," ujarnya.
"Ini adalah surat dari Home Office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua sudah diterima jadi WN Inggris," lanjutnya.
Ia lantas menyebut anak-anaknya kelak akan diupayakan memiliki kewarganegaraan asing. "I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," katanya lagi.
Sontak video viralnya itu menuai banyak kritikan, termasuk dari LPDP yang menyayangkan atas polemik tersebut. DS dinilai tidak mencerminkan nilai integritas.
Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji, mengomentari kasus tersebut dan berpendapat bahwa beasiswa LPDP hanya terkesan dibagi-bagikan tanpa ada ikatan yang jelas. Akhirnya, muncul kasus seperti DS yang tak memiliki tanggung jawab kepada negara.
"Proses seleksi juga kurang ketat. Bukan dipilih mereka yang benar-benar ingin membangun Indonesia dan berjuang untuk Indonesia," ucapnya.
Menurut saya, perguruan tinggi yang para mahasiswanya lolos tes beasiswa LPDP perlu membekali mereka wawasan kebangsaan Indonesia sebelum mereka berangkat ke luar negeri. Mereka perlu paham sejarah dan budaya Indonesia, kemajuan dan tantangan Indonesia. Bekal wawasan kebangsaan itu diperlukan agar para mahasiswa menjaga identitas nasional. Wawasan kebangsaan menanamkan nilai-nilai cinta tanah air, nasionalisme, dan pemahaman terhadap empat konsensus dasar (Pancasila, UUD 1945, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika).
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


