kopdes dan warung yang menyala - News | Good News From Indonesia 2026

Kopdes dan Warung yang Menyala

Kopdes dan Warung yang Menyala
images info

Kopdes dan Warung yang Menyala


Di sudut gang sempit,

lampu neon tak pernah padam.

Tak ada baliho,

tak ada pidato peresmian,

tak ada pita merah yang digunting pejabat.

 

Hanya etalase sederhana,

rak berisi gula, kopi, mie instan, rokok,air galon, sabun,

dan jam dinding yang tak pernah diminta berhenti.

 

Orang menyebutnya Warung Madura.

Ia lahir bukan dari rapat panjang,

bukan dari lembaran APBN,

bukan dari cetak biru kementerian.

 

Ia lahir dari perantauan,

dari tekad yang dibungkus doa ibu,

dari solidaritas yang tak tertulis,

dari hutang kepercayaan yang dibayar dengan kerja malam.

 

Ia buka dua puluh empat jam—

seakan berkata:“Rezeki tak mengenal jam kantor.”

 

Ia menjual yang cepat bergerak,

karena hidup pun bergerak cepat.

Ia membaca denyut nadi rakyat,

bukan membaca notulen rapat.

 

Jamur di musim

hujan,kata orang.

Padahal bukan jamur—

ia akar yang menyebar diam-diam,

diikat oleh komunitas,

disiram oleh saling percaya.

Lalu datang gagasan besar:

koperasi desa merah putih,

dengan angka-angka miliaran,

dengan struktur rapi,

dengan papan nama seragam,

dengan niat mulia membela rakyat.

 


Niat itu suci.

Namun suci saja tak cukup.

 


Koperasi bukan gedung,

bukan proposal,

bukan struktur yang memanjang ke atas

seperti menara yang lupa tanah.

 

Koperasi adalah rasa memiliki.

Adalah tangan yang saling menguatkan.

Adalah keputusan yang lahir dari dapur,

dari sawah,

dari nelayan yang pulang dini hari.

 

Jika ia dibangun dari atas

tanpa denyut di bawah,

ia akan megah tapi hampa—

seperti rumah tanpa penghuni.

 

Jika ia lahir dari angka

tanpa jiwa,

ia akan rapi tapi rapuh—

seperti kapal tanpa nahkoda yang mencintai laut.

Belajarlah pada warung kecil itu.

Bukan pada ukuran tokonya,

tetapi pada jaring kepercayaannya.

Bukan pada lampunya,

tetapi pada ketekunan yang menyala di baliknya.

 

Koperasi sejati

tidak dibesarkan oleh subsidi,

tetapi oleh solidaritas.

 

Tidak ditopang oleh anggaran,

tetapi oleh amanah.

 

Tidak hidup oleh regulasi,

tetapi oleh relasi.

 

Anggaran bisa habis.

Struktur bisa runtuh.

Program bisa berganti nama.

 

Tetapi komunitas yang kuat—

ia bertahan seperti akar di musim kering.


Wahai desa-desa,

jangan tunggu diselamatkan.

Bangunlah dari kebersamaanmu.

Jangan hanya menjadi objek kebijakan,

jadilah subjek perubahan.

 

Dan wahai para perancang kebijakan,

turunlah ke warung yang tak pernah tidur itu.

Duduklah tanpa protokol.

Dengarkan denyut ekonomi kecil

yang bekerja tanpa gembar-gembor.

 

Karena koperasi bukan proyek.

Ia adalah perjanjian hati.

Ia bukan sekadar merah putih di papan nama,

tetapi merah keberanian,

putih ketulusan.

 

Jika koperasi lahir dari jiwa rakyat,

ia akan tumbuh seperti doa yang diam-diam dikabulkan.

 

Dan jika tidak—

ia hanya akan menjadi spanduk yang pudar

ditelan hujan waktu.

Nasibnya?

Tuhan Maha Mengetahui.

Tetapi manusia—

tetap diberi akal untuk belajar.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BH
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.