bernostalgia dengan iklan tv jadul bukti perkembangan media dan telekomunikasi di indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Bernostalgia dengan Iklan TV Jadul: Bukti Perkembangan Media dan Telekomunikasi di Indonesia

Bernostalgia dengan Iklan TV Jadul: Bukti Perkembangan Media dan Telekomunikasi di Indonesia
images info

Bernostalgia dengan Iklan TV Jadul: Bukti Perkembangan Media dan Telekomunikasi di Indonesia


Siapa di sini yang selama hidupnya tidak pernah menonton TV (televisi)? Baik penulis maupun Kawan GNFI, di era sekarang setidaknya kita sudah memahami seperti apa bentuk TV yang biasa terpasang di ruang keluarga.

Dengan mengandalkan remote sebagai sarana dalam penggantian channel atau saluran bernomor dan antena bahkan parabola untuk menghimpun frekuensi sinyal, para pemirsa akan menyaksikan beragam tayangan yang disuguhkan, entah itu bergenre siaran informasi, hiburan, edukasi, hingga promosi. Kira-kira, bagaimana perjalanan TV semenjak kemunculannya serta relevansinya dengan masyarakat Indonesia?

Sejarah TV dan Sistem Periklanan

Perjalanan untuk memunculkan TV di khalayak ramai sangatlah panjang. Melansir gramedia.com, diketahui terdapat dua orang ilmuwan yang berjasa besar terhadap perkembangan TV. Mereka adalah John Logie Baird dan Philo Farnsworth.

Logie Baird merupakan pria berkebangsaan Skotlandia yang lahir pada 13 Agustus 1888 di Helensburgh; beliaulah yang berinisiatif dalam upaya menunjukkan bahwa citra visual dapat ditransmisikan, serupa dengan logika sinyal radio yang sudah lebih dulu ditemukan.

Dedikasi Logie Baird sebagai penemu TV mekanik mulai tampak sejak dekade 1920-an. Kala itu, purwarupa TV pertama masih terbuat dari kardus, benang, lilin, sepeda, dan lampu—inipun diciptakan karena ia kekurangan sponsor sehingga terpaksa memanfaatkan bahan-bahan seadanya.

Setelah melalui perjuangan yang rumit, akhirnya Logie Baird berhasil mengirimkan gambar dan suara dengan jarak sejauh 643 kilometer via kabel telepon dari London ke Glasgow, suatu jarak yang cukup jauh untuk percobaan yang kesekian kalinya. Pada tahun 1928, Logie Baird berhasil mengirimkan transmisi TV pertamanya melewati Samudra Atlantik dari London ke New York.

Setahun berselang, BBC mulai mengadopsi teknologi beliau untuk menyiarkan program TV pertama mereka. Meskipun memang citra visual yang ditampilkan masih dominan buram dan terkadang berkedip-kedip, setidaknya ini menjadi tonggak awal dalam proses penciptaan TV yang kita kenal sekarang.

Asa pengembangan TV rupanya dilanjutkan oleh Philo Taylor Farnsworth, pria yang lahir pada 19 Agustus 1906 di Amerika Serikat. Saat berusia remaja, ia beranggapan bahwa sistem mekanik yang dipakai waktu itu terlalu lambat dalam menyusun dan membaca gambar per hitungan detik, sehingga memicu ketertarikannya mempelajari teknologi TV.

Walaupun perjalanan hidupnya sempat pasang surut karena masalah keluarga, pada tahun 1926, Farnsworth berhasil memersuasi Leslie Gorrell dan George Everson untuk mendanai produksi sistem TV elektronik yang telah dirancangnya.

Tidak lama kemudian, ia pindah ke Los Angeles dan memulai pekerjaannya dengan dana sebesar US$6.000 yang diperoleh dari Gorrell dan Everson. Bahkan, ia mendapatkan tambahan dana sekitar US$25.000 serta ruang laboratorium yang berlokasi di Crocker First National Bank of San Franscisco berkat bantuan Everson.

Akhirnya, Philo Farnsworth berhasil menyiarkan sebuah tayangan melalui TV elektronik buatannya lalu mematenkan inovasinya tersebut pada tahun yang sama, pada 7 September 1927.

Singkat cerita, Radio Corporation of America atau RCA mengadopsi sistem televisi CBS yang berwarna untuk digunakan pada TV ciptaannya. Pada akhirnya, sistem yang dibuat oleh RCA berhasil menayangkan gambar berwarna dan mampu diterima oleh TV dengan format warna monokrom.

Setelah itu, sistem warna yang selanjutnya dipatenkan oleh National Television Standards Committee (NTSC) merupakan sistem TV analog yang sebagian besar diterapkan di Amerika Serikat dan beberapa negara Asia Timur seperti Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Mongolia, serta Taiwan.

Adapun sistem Phase-Alternating Line (PAL) adalah sebuah pengkodean encoding warna yang dipakai pada sistem TV broadcast secara global, yang kemudian dikembangkan lagi di Jerman oleh Walter Bruch.

Mengenai sistem periklanan sendiri, laman madhive.com (2/12/2024) menjelaskan bahwa iklan TV berlisensi pertama mulai mengudara pada tahun 1941. Kala itu, produsen jam tangan asal AS bernama Bulova melakukan pembayaran iklan yang ditayangkan di TV secara perdana.

Sejak saat itulah, iklan dari Bulova ini dianggap memelopori perkembangan iklan komersial di masa depan. Berbagai produk seperti mobil, bahan pembersih, obat-obatan bebas resep, dan produk tembakau saling berlomba-lomba untuk menarik perhatian konsumen. Melalui program bersponsor, iklan singkat, serta penempatan pada jam tayang utama menjadikan pemirsa semakin terpapar oleh keberagaman iklan TV.

Perkembangan TV di Indonesia: Keterlibatan Iklan yang Memengaruhi Keruntuhan Rezim

Sebagaimana telah diketahui, Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan awal perkembangan bagi dunia pertelevisian Indonesia, yang didirikan pada 24 Agustus 1962. Menyadur tirto.id (24/8/2018: diperbarui), kelahiran TVRI sebenarnya sudah diwarnai oleh berbagai drama politik pada era Orde Lama maupun Orde Baru.

Wajar saja, Indonesia yang ibaratnya adalah ‘negara belia’ saat itu sudah mampu menghadirkan teknologi TV, sesuatu yang hanya dialami oleh negara-negara industri yang matang secara sumber daya hingga infrastruktur.

Bermaksud demi ‘keuntungan’ kampanye PNI pada Pemilu 1955, gagasan pembentukan stasiun TV oleh Maladi selaku Menteri Penerangan, yang sejatinya direstui Sukarno sempat mendapat penolakan dari jajaran kabinet. Semuanya mulai berubah semenjak dirilisnya Dekrit Presiden 1959, bersamaan dengan ditunjuknya Indonesia untuk menyelenggarakan Asian Games IV 1962, salah satu tugas TVRI adalah menyiarkan acara beken tersebut.

Setelah tampuk kuasa berpindah ke Presiden Suharto, program TVRI mulai cenderung menampilkan tayangan yang sarat propaganda rezim. Terdapat enam program siaran utama yang telah diizinkan oleh pemerintah saat itu, antara lain acara edukasi, acara penerangan, acara khusus usia anak-anak, acara budaya, acara olahraga, dan acara hiburan yang layak.

Siaran yang disajikan terkesan lebih menunjukkan kinerja pemerintahan yang nircela dan banyak memberitakan tentang keburukan negara lain, misalnya program Dunia Dalam Berita yang membahas soal bencana kelaparan di Afrika atau konflik bersenjata di Afganistan. Begitupun dengan iklan yang ditayangkan, yang dikemas dalam satu program tersendiri bernama Mana Suka: Siaran Niaga, dan ini pastinya mendapatkan sortiran dari pemerintah.

Malahan, Suharto pernah melarang penayangan iklan di TVRI terhitung pada 1 April 1981, karena dikhawatirkan akan memicu budaya konsumerisme di tengah masyarakat. Menjelang periode 1990-an, kemunculan RCTI, SCTV, Indosiar, dan berbagai stasiun TV swasta lainnya perlahan mulai melunturkan kekangan hak siar dari pemerintah.

Dikutip dari yoursay.suara.com (6/1/2022), kasus “pita hitam” yang diikat di lengan kiri Desi Anwar saat membawakan Seputar Indonesia di RCTI tentang tragedi Trisakti pada 13 Mei 1998, dinilai sebagai awal pemberontakan di dalam ruang berita TV swasta. Selain itu, kiblat TV swasta lebih menganut mekanisme pasar; selama produk yang diiklankan laku dan untung besar, sah-sah saja bagi produsen untuk terus bekerjasama dengan pihak stasiun TV terkait.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.