mengenal blangikhan tradisi mandi langir warisan leluhur lampung menyambut ramadan - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Blangikhan, Tradisi ‘Mandi Langir’ Warisan Leluhur Lampung Menyambut Ramadan

Mengenal Blangikhan, Tradisi ‘Mandi Langir’ Warisan Leluhur Lampung Menyambut Ramadan
images info

Mengenal Blangikhan, Tradisi ‘Mandi Langir’ Warisan Leluhur Lampung Menyambut Ramadan


Dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadan, masyarakat Lampung memiliki sebuah tradisi turun-temurun yang dikenal dengan sebutan Blangikhan. Secara garis besar, tradisi ini merupakan ritual menyucikan diri di sungai sebagai bentuk persiapan spiritual dan lahiriah sebelum memasuki bulan puasa.

Merujuk pada data dari NU Online, Blangikhan atau Blangiran telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Provinsi Lampung. Penetapan ini dilakukan pada tahun 2019 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam kategori adat istiadat, ritual, dan perayaan. 

Hal ini menegaskan bahwa Blangikhan bukan sekadar rutinitas biasa, melainkan memiliki nilai filosofis mendalam terkait penyucian jiwa serta upaya menolak bala.

Nama Blangikhan sendiri berakar dari kata "langir" yang berarti mandi. Namun, praktik mandi dalam konteks ini berbeda dari mandi harian pada umumnya.

“Bermula dari kebiasaan masyarakat Lampung melakukan mandi sebagai bentuk penyucian diri, kemudian berkembang menjadi adat yang diturunkan dari generasi ke generasi,” tulis Muhammad Alyuda Tri Utama yang dimuat dari Detik.

Tata Cara dan Prosesi Ritual

Berdasarkan informasi dari laman resmi Pemerintah Provinsi Lampung, terdapat beberapa perlengkapan wajib yang harus disiapkan dalam prosesi Blangikhan, di antaranya:

* Air langir
* Bunga tujuh rupa
* Daun pandan
* Setanggi

Air langir yang digunakan tidak diambil secara sembarangan, melainkan berasal dari tujuh sungai berbeda di sekitar lokasi pelaksanaan. Pengambilan air ini dilakukan dua hari sebelum prosesi dimulai.

Rangkaian acara diawali dengan iring-iringan Kereta Kencana yang melintasi jalanan Kota Bandar Lampung. Prosesi pawai ini menjadi bagian dari penghormatan terhadap tradisi dan menciptakan suasana sakral yang menyimbolkan pembersihan diri.

Kegiatan inti dimulai dengan pembacaan doa, disusul dengan pemecahan kendi berisi air dan kembang oleh pemuka adat atau tetua. Setelah itu, puluhan muli mekhanai (pemuda-pemudi Lampung) akan disiram dengan air langir, tangkai padi, serta kembang setaman sebagai simbolis. 

Usai penyiraman tersebut, para muli mekhanai akan masuk ke kolam atau sungai untuk mandi bersama guna menyucikan lahir dan batin demi menyambut Ramadan.

Manifestasi Silaturahmi dan Persatuan

Lebih dari sekadar ritual mandi, tradisi ini mencerminkan kuatnya hubungan silaturahmi, nilai persatuan, gotong royong, serta keharmonisan di tengah masyarakat Lampung. Penggunaan air dari tujuh mata air yang berbeda juga melambangkan semangat penyatuan sekaligus bentuk penghormatan manusia terhadap alam.

Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Tradisi Blangikhan di Lampung Tengah. Menurutnya, acara ini adalah bukti nyata pariwisata yang lahir dari inisiatif masyarakat. 

Wamenpar menilai tradisi ini tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui penguatan ekosistem pariwisata berbasis budaya dan spiritual. Dalam sambutannya di Nuwo Balak, Lampung Tengah, Rabu (18/2/2026), Ni Luh Puspa menegaskan:

"Budaya adalah napas dari pariwisata berkualitas, pariwisata yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berakar kuat pada identitas bangsa."

Dampak positif kegiatan ini juga terlihat dari keterlibatan pelaku UMKM. Kehadiran berbagai produk lokal di lokasi acara membuktikan bahwa tradisi mampu menjadi mesin penggerak ekonomi dan wadah pemberdayaan masyarakat.

“Inilah wujud nyata pariwisata yang tumbuh dari masyarakat, dikelola bersama, dan memberikan manfaat langsung bagi kesejahteraan lokal,” kata Wamenpar Ni Luh Puspa.

Sebagai penutup, ia menambahkan bahwa pelaksanaan Blangikhan yang konsisten menunjukkan bahwa kearifan lokal tetap relevan bagi masa depan.

“Tradisi ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan masa depan yang dapat menjadi fondasi pembangunan pariwisata berkelanjutan.”

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.