Sabda Bumi adalah tayangan siniar di YouTube yang menghadirkan dokumentasi informatif mengenai kearifan lokal di Indonesia. Dipandu oleh fotografer dan traveler, Kiki Nasution, siniar ini sudah sudah berjalan sejak 2023 lalu.
Mengenai namanya yang menggambarkan ke-Indonesia-an dalam segi bahasa, Kiki mengaku ide itu diambil dari saran pengarah kreatifnya. Sebelumnya sebenarnya Kiki ingin menamainya dengan nama berbahasa Inggris. Akan tetapi, karena siniar akan dikemas dengan mengangkat unsur lokal nama Sabda Bumi pun akhirnya disetujuinya.
“Creative director-ku yang membikin logo dan branding-nya itu namanya Ace. Terus Ace bilang, ‘Kalau gua ngerasa kayak Sabda Bumi aja deh gitu’. Wah terdengar menarik kan, soalnya semua part of the system dan yang diceritakan tokoh-tokoh yang memberi pesan dari alam. Dia hanya medium, jadi yang bersabda itu bukan manusia, tapi bumi. Oke, langsung pakai,” ucap Kiki kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Sabda Bumi kini sudah mencapai 24 episode di mana ada banyak kisah menarik yang dihimpun Kiki dari para penganut tradisi lokal. Banyak pengalaman berharga didapati Kiki dari narasumbernya, salah satunya tentang menghargai jeda waktu dalam berkehidupan.
Bagi masyarakat perkotaan sendiri mengambil jeda di tengah kesibukan aktivitas pastilah sangat langka. Bila ada waktu luang tak jarang pikiran tetap terpusat untuk mengerjakan apa saja agar lebih produktif.
Nilai-nilai seperti itu tidak dipungkiri bermanfaat bagi diri sendiri, walaupun sayangnya bertentangan dengan prinsip kearifan lokal di Indonesia. Kiki pun menilai mengambil jeda sepatutnya memang perlu karena secara tidak langsung bisa berkontribusi dengan pemeliharaan alam.
“Jeda di kepercayaan tradisional tuh memang mereka para leluhur mendidik gimana semua masyarakatnya untuk mengenal jeda. Makanya adanya ritual kapannya, waktunya, mereka mengambil secukupnya. Karena jeda itu memang perlu gitu kalau alam juga untuk sembuh,” ujar Kiki.
Seperti yang sudah disinggung di atas, masyarakat perkotaan sulit menerapkan konsep jeda dalam berkehidupan. Mereka dituntut untuk beraktivitas yang sayangnya membuat kehilangan rasa akibat kurangnya kontemplasi di jeda kehidupan.
“Jadi karena kehilangan jeda kita kehilangan rasa, dan karena kita kehilangan rasa kita melihat alam hanya sebagai objek. Sesuatu yang bisa kita keruk. Kita kehilangan renungan kan. Aku ngerti juga sistem yang kita hidupi sekarang di kota memang didesain untuk enggak mengenal jeda. Gimana dia untuk jeda memikirkan alam dan hal-hal lainnya? Itu kan pada akhirnya masalah sistem yang membuat mereka enggak bisa ada ruang waktu. Yang dibutuhkan manusia urban sekarang tuh mengenal jeda, kembali sesuai pesan para leluhur,” lanjut Kiki.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

