Di tengah gelapnya malam di ujung timur Pulau Jawa, muncul nyala biru elektrik yang tampak seperti lava bercahaya dari dunia lain.
Fenomena api biru di Kawah Ijen bukanlah sihir, melainkan hasil reaksi kimia alami yang sangat langka. Peristiwa ini hanya terjadi di dua lokasi di dunia, menjadikannya keajaiban geologi.
Kawah Ijen dan Lanskap Vulkaniknya
Kawah Ijen terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur. Kawah ini merupakan bagian dari kompleks Gunung Ijen yang masih aktif dan dikenal memiliki danau kawah asam terbesar di dunia.
Lingkungan di sekitar kawah dipenuhi aktivitas vulkanik berupa fumarola, yaitu celah di permukaan bumi yang mengeluarkan gas panas dari dalam perut bumi.
Pada malam hari, terutama menjelang dini hari, cahaya biru terang dapat terlihat keluar dari retakan batuan di sekitar kawah. Banyak wisatawan menyebutnya sebagai blue fire atau api biru.
Fenomena ini bukanlah lava berwarna biru, melainkan hasil pembakaran gas sulfur yang teroksidasi saat bersentuhan dengan oksigen di udara.
Proses Oksidasi Gas Sulfur
Fenomena api biru terjadi akibat proses kimia yang melibatkan gas sulfur dalam jumlah besar. Di dalam sistem vulkanik Kawah Ijen, magma yang berada jauh di bawah permukaan menghasilkan berbagai jenis gas, termasuk sulfur dioksida dan hidrogen sulfida.
Gas-gas ini keluar melalui celah batuan dengan suhu sangat tinggi, yang bisa melebihi 600 derajat Celsius.
Ketika gas sulfur tersebut mencapai permukaan dan bertemu dengan oksigen di atmosfer, terjadi proses oksidasi.
Oksidasi adalah reaksi kimia ketika suatu zat bereaksi dengan oksigen dan melepaskan energi dalam bentuk panas dan cahaya. Dalam kondisi tertentu, sulfur yang teroksidasi akan terbakar dan menghasilkan nyala berwarna biru terang.
Warna biru muncul karena sifat spektral dari pembakaran sulfur pada suhu tinggi. Ketika sulfur cair terbakar, ia memancarkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu yang tampak biru bagi mata manusia.
Jika suhu dan tekanan tidak cukup tinggi, gas sulfur hanya akan terlihat sebagai asap putih kekuningan tanpa nyala api.
Menariknya, gas sulfur yang keluar sering kali mengembun menjadi cairan merah menyala sebelum akhirnya mengalir seperti lava kecil dan tetap menyala dalam warna biru. Aliran inilah yang sering disalahartikan sebagai lava biru, padahal sebenarnya adalah sulfur cair yang terbakar.
Hanya Ada di Dua Lokasi
Fenomena api biru sangat jarang karena memerlukan kombinasi kondisi geologis dan kimia yang sangat spesifik. Pertama, harus ada kandungan sulfur yang sangat tinggi di dalam sistem vulkanik.
Kedua, suhu gas yang keluar harus cukup panas untuk memicu pembakaran spontan saat kontak dengan oksigen. Ketiga, tekanan dan jalur keluarnya gas harus memungkinkan akumulasi sulfur cair dalam jumlah besar.
Selain di Kawah Ijen, fenomena serupa hanya tercatat terjadi di Dallol, wilayah hidrotermal di Ethiopia. Di sana, aktivitas vulkanik dan kandungan mineral yang ekstrem menciptakan kondisi yang memungkinkan pembakaran sulfur menghasilkan cahaya biru.
Namun, intensitas dan aksesibilitas api biru di Kawah Ijen menjadikannya lokasi paling terkenal di dunia untuk menyaksikan fenomena ini secara langsung.
Kombinasi danau asam, aktivitas penambangan sulfur tradisional, dan nyala biru yang dramatis menjadikan kawasan ini unik secara global.
Peran Aktivitas Vulkanik dan Tekanan Gas
Aktivitas vulkanik di Kawah Ijen sangat berperan dalam menjaga keberlangsungan fenomena ini. Pergerakan magma di bawah permukaan menghasilkan suplai gas sulfur yang terus-menerus.
Selama sistem magmatik tetap aktif dan menghasilkan tekanan yang cukup, gas akan terus terdorong ke permukaan.
Tekanan gas yang tinggi memungkinkan sulfur keluar dalam bentuk cair dan gas bersuhu tinggi. Jika tekanan menurun atau jalur gas tersumbat, intensitas api biru dapat berkurang atau bahkan tidak terlihat sama sekali.
Oleh karena itu, fenomena ini tidak selalu bisa muncul dan disaksikan dengan kekuatan yang sama setiap malam.
Faktor waktu juga penting. Api biru paling jelas terlihat dalam kondisi gelap total karena cahaya matahari akan mengaburkan nyala biru yang relatif redup dibandingkan cahaya siang.
Itulah sebabnya pengunjung biasanya mendaki pada tengah malam untuk menyaksikan pemandangan ini sebelum fajar menyingsing.
Keindahan Alam dan Risikonya
Walaupun memukau, fenomena api biru juga menyimpan risiko besar. Gas sulfur dioksida yang terhirup dalam konsentrasi tinggi dapat berbahaya bagi kesehatan. Para penambang sulfur tradisional yang bekerja di sekitar kawah sering terpapar gas beracun tanpa perlindungan memadai.
Suhu tinggi, medan terjal, dan potensi letusan freatik juga menjadi ancaman nyata. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan wisata dan pemantauan aktivitas vulkanik sangat penting untuk memastikan keselamatan pengunjung.
Fenomena api biru Kawah Ijen merupakan bukti bahwa proses kimia sederhana seperti oksidasi dapat menghasilkan pemandangan luar biasa ketika terjadi dalam kondisi ekstrem. Di balik keindahannya, terdapat dinamika geologi kompleks yang terus berlangsung di bawah permukaan bumi.
Perpaduan antara sains, alam, dan keunikan geologis inilah yang menjadikan api biru sebagai salah satu keajaiban alam paling langka di dunia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


