Perayaan Imlek selalu punya cara sendiri untuk menghidupkan suasana. Di balik lampion merah yang menghiasi sudut kota, ada denyut ekonomi yang bergerak.
Selain libur panjangnya yang menjadi ajang berkumpul keluarga bagi yang merayakannya, Imlek juga menjadi bahan bakar bagi ekonomi. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan ada uang sekitar Rp9,06 triliun yang berpindah tangan selama momen ini.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, melihat fenomena ini sebagai momen positif bagi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan mencapai 5,5%. Pergerakan masyarakat ini pun turut menciptakan gelombang pendapatan di berbagai lini.
Rezeki yang Mengalir ke Toko Buah hingga Pusat Kuliner
Jika diperhatikan lebih dekat, perputaran uang menyentuh sektor yang sangat dekat dengan keseharian.
Geliat ekonomi ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar, tetapi merembes hingga ke pusat destinasi wisata, mal, gerai kuliner, hingga toko buah-buahan. Tradisi menyajikan hidangan khas dan buah-buahan tertentu membuat omzet pedagang melonjak signifikan di berbagai daerah.
“Permintaan buah khas di atas diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 30% selama perayaan Imlek,” kata Sarman dikutip dari keterangan tertulis.
Selain urusan perut dan pernak-pernik, sektor transportasi juga menjadi pemenang besar dalam momen ini. Sarman menggarisbawahi bahwa perputaran uang di sektor transportasi, termasuk penerbangan, kereta api, hingga kereta cepat, memberikan kontribusi besar pada angka triliunan tersebut.
Dampak Angpao hingga Belanja Ritel
Kadin menghitung bahwa dengan jutaan warga yang merayakan Imlek dan jutaan lainnya yang memanfaatkan libur untuk berwisata, perputaran uang mengalir dari berbagai pintu.
Ada potensi besar yang datang dari sektor ritel, di mana Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) memproyeksikan transaksi yang terus berlanjut hingga Idulfitri nanti.
“Jika selama libur imlek kita perkirakan terjadi transaksi 5%, maka potensi perputaran uang sektor ritel sekitar Rp2.669.000.000.000. Dengan demikian, potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 diperkirakan lebih kurang Rp9.067.480.000,” ujar Sarman.
Menariknya, angka Rp9 triliun ini sebenarnya masih angka minimal. Perhitungan ini belum mencakup biaya tol yang dikeluarkan pemudik, belanja BBM untuk kendaraan pribadi, hingga wisatawan yang menyeberang pulau menggunakan kapal laut. Sehingga, uang yang benar-benar berputar di tengah masyarakat kemungkinan besar jauh lebih tinggi dari angka yang tercatat secara resmi.
Momentum ini menjadi modal berharga bagi para pelaku usaha untuk memulai tahun dengan lebih percaya diri, sekaligus membantu mengerek kontribusi konsumsi rumah tangga dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Pesan persatuan pun turut mengiringi pergerakan ekonomi ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


