Daftar Negara dengan Populasi Keturunan Tionghoa Terbanyak: Indonesia Nomor 1!
Orang Tiongkok terkenal gemar merantau dan berdagang sejak dahulu. Tak heran jika jejak-jejak anak keturunan mereka banyak ditemukan di berbagai belahan dunia.
Per 2025, jumlah total penduduk Tiongkok tercatat lebih dari 1,4 miliar jiwa, menjadikannya salah satu yang terbanyak di dunia bersama India. Di luar Tiongkok daratan, populasi keturunan Tionghoa banyak tersebar di negara-negara seperti Tailand, Malaysia, Amerika Serikat, sampai Indonesia. Hal ini banyak dipengaruhi oleh jejak sejarah masa lalu dipicu oleh banyak faktor, mulai dari ekonom, perdagangan, sampai kondisi politik di Tiongkok.
10 Negara dengan Populasi Keturunan Tionghoa Terbanyak
Data Statista dan Badan Pusat Stastistik (BPS) yang dirangkum oleh Goodstats, berikut adalah 10 daftar negara dengan populasi keturunan Tionghoa terbanyak di dunia:
- Indonesia – 11,26 juta
- Tailand – 7 juta
- Malaysia – 6,88 juta
- Amerika Serikat – 5,82 juta
- Singapura – 3,09 juta
- Kanada – 1,95 juta
- Australia – 1,46 juta
- Myanmar – 1 juta
- Filipina – 1 juta
- Prancis – 1 juta
Indonesia menjadi negara dengan jumlah keturunan Tionghoa terbanyak di dunia, yakni 11,26 juta atau sekitar empat persen dari populasi Indonesia saat ini. Di sisi lain, dilihat dari daftar, mayoritas keturunan Tionghoa di luar Tiongkok banyak dijumpai di Asia Tenggara.
Besarnya populasi keturunan Tionghoa di Asia Tenggara disebabkan oleh migrasi besar-besaran di masa lalu. Banyak pedagang Tiongkok yang merantau dan bergadang di banyak negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ditambah lagi, secara geografis Asia Tenggara tidak begitu jauh dengan Tiongkok, sehingga banyak di antara pedagang memilih untuk singgah dan tinggal di Asia Tenggara.
Mengapa Banyak Keturunan Tionghoa di Indonesia?
Sebuah tulisan di Chinese.binus.ac.id yang dikelola Binus University, hubungan Tiongkok dan Indonesia sejatinya sudah berlangsung sejak sangat lama. Bahkan, dikatakan bahwa interaksi antarmasyarakatnya sudah ada sejak abad pertama dan kedua.
Di masa lalu, banyak orang Tiongkok yang berprofesi sebagai pedagang. Mereka gemar mengembara di banyak tempat di dunia, termasuk di Nusantara. Umumnya, mereka berlayar dan singgah di daerah-daerah di pantai timur Sumatra dan pantai utara Jawa.
Mereka membangun permukiman yang juga banyak diisi oleh etnis mereka. Pedagang-pedagang ini biasanya akan menunggu musim yang baik untuk berlayar kembali ke Tiongkok. Hal ini terjadi berulang-ulang, mengingat Nusantara saat itu juga menjadi salah satu poros maritim dan perdagangan yang disegani di dunia.
Namun, sebenarnya kedatangan orang Tionghoa ke Indonesia hingga akhir abad ke-19 cukup terbatas karena saat itu teknologi transportasi belum canggih. Di antara perantau dan pedagang itu, mayoritas yang tiba di Nusantara, khususnya Jawa, adalah laki-laki. Mereka umumnya berasal dari daerah selatan Tiongkok.
Sebagian dari mereka adalah orang Hokkian. Beberapa ada yang memutuskan untuk menikah dengan wanita pribumi. Hal inilah yang kemudian mendorong terbentuknya komunitas Tionghoa Peranakan.
Mereka mengadopsi bahasa lokal penduduk setempat. Bahkan, tradisi-tradisi lokal pun diikuti oleh para imigran itu.
Namun, ada pula yang memutuskan menikah dengan wanita yang sama-sama berasal dari etnis Tionghoa. Bahkan, sampai saat ini masih banyak keturunan-keturunan Tionghoa di Indonesia (biasa disebut Cindo) yang masih mempertahankan “budaya” untuk menikah dengan sesama keturunan Tionghoa agar marga mereka tetap terjaga.
Selain perdagangan, di masa penjajahan Belanda, pemerintah Hindia Belanda mengimpor banyak sekali buruh-buruh asal Tiongkok. Konon, mereka dipekerjakan sebagai buruh perkebunan dan pedagang. Hal ini terjadi di abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Buruh-buruh asal Negeri Tirai Bambu itu banyak dipekerjakan di perkebunan tembakau di Sumatra, perkebunan tebu di Jawa, sampai pertambangan di daerah Bangka Belitung. Mereka bekerja dengan sistem kontrak. Konon, ada lebih dari 200.000 buruh asal Tiongkok yang didatangkan untuk bekerja di perkebunan di wilayah Sumatra.
Sampai saat ini, tradisi-tradisi khas Tiongkok yang dibawa oleh pedagang maupun buruh-buruh di masa lalu masih banyak dilestarikan oleh keturunannya di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


