AIESEC in UGM telah sukses menyelenggarakan acara Global Village Winter Peak 2026 yang bertempat di Student Center Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Global Village Winter Peak 2026 merupakan festival budaya internasional yang menampilkan ragam budaya dari berbagai negara dan daerah di Indonesia.
Beragam pertunjukan seni, tarian tradisional, pameran busana khas, sajian kuliner internasional, serta aktivitas interaktif berbasis permainan budaya dihadirkan untuk memberikan pengalaman eksplorasi budaya yang imersif bagi para peserta.
Mengusung tema “Beyond Borders, Across The Lost Tide”, AIESEC in UGM mengajak peserta untuk memulai petualangan lintas budaya yang seru dan bermakna.
Layaknya sebuah permainan petualangan, setiap peserta akan menjalani “misi” khusus untuk memperluas wawasan lintas budaya sekaligus berkontribusi dalam menciptakan dampak positif melalui ruang kolaborasi yang inklusif.
“Pada dasarnya, AIESEC bertujuan untuk mencapai perdamaian melalui pertukaran antar-budaya. Dan salah satu cara hal ini bisa dilakukan adalah melalui Global Village, yang memberikan kesempatan bagi anak muda untuk belajar mengenai kebudayaan-kebudayaan negara lain, ataupun kebudayaan Indonesia. Dengan ini, Global Village menjadi suatu langkah kecil dalam upaya anak muda dalam mencapai perdamaian,” ungkap Muhammad Alif Aryaguna, selaku koordinator umum Global Village 2026.
Dalam rangkaian acara Cultural Parade, exchange participants menampilkan busana tradisional khas dari negara asal masing-masing dengan beragam warna, motif, dan detail yang mencerminkan kekayaan estetika budayanya.
Negara seperti Myanmar, Taiwan, Nigeria, Timor Leste, dan Pakistan turut berpartisipasi dalam parade ini. Penampilan ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk menunjukkan ciri khas pakaian tradisional yang mereka kenakan secara langsung.
Selain pertunjukan dari exchange participants, juga ada pertunjukan budaya lokal berupa Tari Golek yang dibawakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) SWAGAYUGAMA yang tidak kalah menarik. Penampilan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap seni tari tradisional Indonesia sekaligus upaya dalam menampilkan kekayaan budaya Nusantara.
Keseruan acara berlanjut dengan adanya rangkaian Live Countries Booth, yaitu sesi interaktif yang menempatkan exchange participants menjadi tuan rumah stan negara masing-masing.
Dalam sesi ini, para exchange participants memperkenalkan negara asal mereka secara langsung kepada para peserta melalui berbagai aktivitas menarik, seperti penjelasan singkat mengenai budaya, pembagian camilan khas, permainan tradisional, serta interaksi ringan yang mengundang antusiasme. Live Countries Booth menghadirkan suasana yang hidup dan dinamis, sekaligus memberikan pengalaman eksplorasi budaya yang menyenangkan bagi seluruh peserta.
Sesi Collaborative Space menjadi titik temu antara para peserta, exchange participants, dan mahasiswa internasional UGM. Pada sesi ini, seluruh peserta dibagi ke dalam sepuluh kelompok dan diminta untuk menyelesaikan dua aktivitas utama.
Aktivitas pertama berupa penempelan tutup botol pada desain yang telah disediakan, sementara aktivitas kedua mengajak peserta untuk menggambar makanan favorit dari negara masing-masing pada sebuah sticky note yang kemudian ditempelkan pada kertas berbentuk piring.
Rangkaian aktivitas ini mendorong keterlibatan aktif peserta dalam suasana kolaboratif yang kreatif dan menyenangkan.
Pada sesi talkshow, exchange participants, yaitu Min Sitt dari Myanmar, Nick Ho dari Taiwan, dan Adam Aufaa Kurniadi, berbagi pandangan mengenai budaya, perbedaan latar belakang, serta pengalaman mereka dalam berinteraksi di lingkungan internasional.
Selain itu, sesi ini juga menghadirkan Arfiansyah Arfi, Area Head Gojek Yogyakarta, yang membahas perjalanan Gojek dari layanan transportasi hingga menjadi bagian dari ekosistem digital, termasuk pentingnya kolaborasi lintas mitra serta konsistensi branding di tengah perubahan.
Pelaksanaan acara ini didukung oleh GIK UGM, UGM Channel, Office of International Affairs (OIA) UGM, Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, Balai Pelestarian Kebudayaan, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, Dinas Sosial Kabupaten Sleman, serta Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman.
AIESEC in UGM mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kolaborasi yang telah diberikan kepada mitra dan pemangku kepentingan.
Kesuksesan acara ini juga tidak lepas dari dukungan para partner, yaitu Gojek, Joglo Ayu Tenant, Arsada Production, GIK UGM, Batik Yudhistira, Sewa HT Area Jogja, Deorex, Batik Putra Boko, Bakpia Jiwa Jogja, Cleo, Sediain Photobooth, Jogja Traditional Treatment, Waroeng Spesial Sambal 'SS', Rajawali Studio, dan D'Crepes yang bersama-sama berkontribusi dalam menghadirkan pengalaman bermakna bagi para peserta.
Melalui keseluruhan rangkaian kegiatan yang telah terlaksana, Global Village Winter Peak 2026 oleh AIESEC in UGM berhasil diselenggarakan dengan lancar dan penuh antusiasme. Acara ini menjadi ruang advokasi lintas budaya yang melibatkan masyarakat dalam perayaan keberagaman budaya internasional dan lokal.
Global Village turut mendorong peningkatan kesadaran global (world awareness) melalui interaksi langsung, pertunjukan budaya, serta kolaborasi yang terjalin selama acara berlangsung. AIESEC in UGM berharap Global Village Winter Peak 2026 dapat terus menjadi wadah berkelanjutan yang memperkuat nilai toleransi, memperluas wawasan global, serta mendukung keberlanjutan sosial dalam semangat saling memahami dan menghargai perbedaan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


