suku lamalera dan tradisi perburuan paus di era modernitas - News | Good News From Indonesia 2026

Suku Lamalera dan Tradisi Perburuan Paus di Era Modernitas

Suku Lamalera dan Tradisi Perburuan Paus di Era Modernitas
images info

Suku Lamalera dan Tradisi Perburuan Paus di Era Modernitas


Kawan GNFI, banyak hal yang unik dari Nusa Tenggara Timur (NTT) tepatnya bagi suku Lamalera yang dikenal dunia sebagai pemburu paus ulung. Bagi suku Lamalera berburu paus merupakan suatu tradisi bahkan menjadi ciri khas dari nelayan Lamalera.

Meski perburuan paus di beberapa negara dunia dianggap ilegal karena masalah konservasi hingga terancam kepunahan, tapi perburuan paus di Lamalera masih dilakukan secara tradisional bukan untuk kepentingan industri.

Lalu, masih relevankan tradisi perburuan paus suku Lamalera di era modernitas dan apa saja yang menjadikannya tetap dipertahankan? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuNTT.

Tradisi Perburuan Paus bagi Suku Lamalera

Dari ujung selatan Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur penduduk lokalnya masih mengandalkan laut sebagai sumber kehidupan selama berabad-abad.

Masyarakat Lamalera kerap mempertahankan cara tradisional dalam berburu khususnya menangkap paus atau dikenal dengan koteklema. Hal ini telah menjadi tradisi yang berkembang dari generasi ke generasi dan bagi suku Lamalera, Laut Sawu menjadi denyut kehidupan mereka.

Musim kemarau di bulan Mei—September menjadi waktu yang pas untuk mulai berburu ikan paus atau dikenal dengan mussi leffa atau leffa nuang.

Dalam aktivitas perburuan paus, para nelayan (lamafa) menggunakan paledang (perahu kayu tanpa mesin) dan tempuling (harpun/ tombak tradisional) menuju ke tengah laut.

Paledang dan tempuling tak hanya menjadi alat tradisional saja, tapi simbol akan keharmonisan alam dan leluhur mereka. Berbagai ritual dilakukan sebelum benar-benar turun kelaut. Mulai dari do’a, nyanyian, dan sesaji sebagai tanda keselamatan dan harapan untuk diberikan hasil yang melimpah.

Tak sembarang paus yang diburu karena suku Lamalera hanya memburu paus jenis Physeter macrocephalus (paus sperma) dan dilarang keras menikam paus biru, paus yang sedang hamil, atau anak paus. Hal ini menunjukkan betapa leluhur suku Lamalera sangat menghormati dan menjaga keseimbangan alam sejak sedari dulu.

Perburuan paus biasa dilakukan di Perairan Selatan Laut Lembata dan apabila ada paus yang lewat para juru tombak (lamafa) akan melemparkan tombak ke arah paus dari haluan kapal.

baca juga

Untuk Apa Suku Lamalera Berburu Paus?

Berburu paus bagi masyarakat dunia memang kerap dianggap kontroversial, apalagi statusnya yang terancam punah, khususnya paus sperma yang masuk daftar satwa berstatus rentan menurut Daftar Merah IUCN 2018. Artinya populasi di alam menurun.

Meski begitu, hal ini berkaitan dengan tradisi dan masih tetap dijalankan oleh masyarakat Lamalera dengan cara tradisional.

Dilansir dari laman National Geographic, Komisi Perburuan Paus Internasional telah mendefinisikan perburuan paus di Lamalera sebagai perburuan tradisional yang masih diperbolehkan untuk dilakukan dengan mempertimbhakan banyak hal, yaitu:

  1. Pembatasan teknologi
  2. Perburuan hanya menggunakan perahu layar tanpa mesin
  3. Menggunakan senjata tradisional
  4. Berada pada wilayah perburuan
  5. Mempertimbangkan jumlah dan jenis paus yang ada untuk dapat/boleh diburu

Hal ini untuk memastikan bahwa perburuan tradisional memang dilakukan secara cermat dari sisi sains, sosial budaya, dan kearifan lokal yang melekatnya.

Masyarakat Lamalera juga berburu paus bukan untuk eksploitasi, tapi ada adat dan spiritualitas dari kearifan lokal yang sarat ritual. Prinsip adil dan hasil tangkapan yang tidak diperjualbelikan dalam skala besar, tapi dalam bentuk barter (mene’u) dengan hasil bumi masih dipertahankan disini.

Perburuan paus juga tak selalu dilakukan karena para nelayan perlu untuk menentukan waktu yang tepat dalam hal melaut dan mereka percaya akan perhitungan alam untuk membawa hasil tangkapan yang baik.

Dari hal ini, perburuan paus di Lamalera menjadi identitas budaya yang sulit untuk dihilangkan mengingat akan adanya nilai gotong royong, kesederhanaan, dan saling berbagi yang masih dilakukan.

baca juga

Gunakan Sistem Barter yang Relevan di Era Modernitas

Seekor paus yang didapat hasilnya pun akan dibagikan kepada seluruh warga desa, mulai dari janda, anak yatim, hingga pemilik perahu dan para pendayung semuanya terbagi rata.

Hal unik ini masih terjadi di masa modern. Apalagi, bagaimana masyarakat Lamalera yang menjalankan sistem barter (mene’u) masih relevan dalam konteks ketahanan pangan dengan membentuk ekonomi sirkular tradisional yang menjaga hubungan sosial antara masyarakat yang mendiami wilayahnya.

Di era modern ini, sistem barter relevan dengan pesan moralnya dan tradisi perburuan paus ini mengajarkan banyak hal, mulai dari keberanian kolektif dari para pemburu paus untuk kerja sama tim, keadilan sosial, dan penghormatan pada alam dengan mengambil secukupnya melalui ritual panjang bukan eksploitasi masif menggunakan kapal pukat harimau.

Barter (mene’u) di sini tak hanya menyoal tentang uang yang ada di tengah modernitas, tapi tentang bagaimana menjaga keharmonisan dan tali persaudaraan antara warganya.

Perburuan paus suku Lamalera ini menjadi pengingat bahwa modernitas tak selalu menghapus tradisi. Namun, dengan mempertahankan cara tradisional sebagai bentuk keadilan sosial saat sistem ekonomi begitu 'dingin' pada saat ini.

Menarik sekali, ya, Kawan GNFI?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.