Desa Kalong I, Kecamatan Leuwisadeng, Kabupaten Bogor memiliki beberapa permasalahan lingkungan khususnya pada RW 01. RW 01 menghadapi permasalahan keterbatasan lahan pekarangan rumah hingga pengelolaan sampah-sampah organik karena merupakan daerah pemukiman yang cukup padat penduduk.
Di banyak sudut, lahan pekarangan tidak dimanfaatkan secara optimal, sementara banyak sisa material yang tidak terpakai seperti botol plastik, sisa material bangunan, serta sampah organik seperti daun kering dan sisa tanaman kerap menumpuk tanpa penanganan lebih lanjut.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membatasi peluang masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat, lahan sempit di kawasan permukiman padat tetap memiliki potensi untuk dikembangkan secara produktif.
Kondisi ini mendorong Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB University untuk menghadirkan inovasi sekaligus solusi tepat dalam menghadapi permasalahan tersebut. Dengan melihat potensi sampah organik seperti daun kering dan sisa tanaman yang tidak terdegradasi secara sempurna serta lahan pekarangan yang terbatas, Tim KKNT-Inovasi IPB University menghadirkan solusi berupa pembuatan raised bed sebagai media tanam alternatif.
Program ini dilaksanakan pada Selasa, 6 Januari 2026, kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif warga RW 01, mulai dari pengumpulan bahan organik dan material tidak terpakai, proses pembuatan raised bed, hingga penanaman awal komoditas hortikultura.
Kegiatan dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan sampah organik dan sampah kering seperti botol plastik dan sisa material bangunan pada lahan pekarangan yang sempit yang dapat berguna untuk ketahanan pangan.

Apa itu Raised Bed dan Metode Hügelkultur?
Raised bed yang diperkenalkan kepada warga RW 01 Desa Kalong I ini tidak dibuat secara konvensional. Tim KKNT-Inovasi mengadopsi metode hügelkultur yang berasal dari Jerman dengan memanfaatkan bahan organik seperti daun kering, kayu lapuk, ranting, dan kompos sebagai lapisan media tanam.
Teknik pertanian ini dilakukan dengan membuat gundukan tanah di atas bahan organik yang bertujuan untuk menciptakan sistem “pupuk mandiri” akibat penguraian alami bahan organik seiring waktu sehingga mampu meningkatkan kesuburan tanah.
Selain meningkatkan kesuburan tanah, sistem ini juga mampu menjaga kelembapan media tanam dan mengurangi kebutuhan penyiraman sehingga cocok diterapkan pada kondisi lahan pekarangan yang terbatas dan minim perawatan.

Melalui metode hügelkultur, sampah organik yang selama ini menumpuk dapat dimanfaatkan secara maksimal. Selain itu, metode ini juga memungkinkan media tanam langsung digunakan tanpa menunggu proses pengolahan tanah dalam waktu lama. Hal ini juga dirasakan oleh warga Desa Kalong I yang mengikuti kegiatan ini.
“Saya taunya kalau lahan harus ditunggu sampai tanahnya benar-benar siap pakai. Ternyata kalau pakai metode ini, tanah bisa langsung dipakai untuk media tanam,” ujar salah satu warga Desa Kalong I.
Raise Bed dengan metode hügelkultur ini dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai komoditas hortikultura seperti cabai, bayam, kangkung, dan sayuran lain ataupun TOGA. J
enis tanaman tersebut dinilai sesuai untuk ditanaman di lokasi lahan sempit dan mudah dikelola oleh warga dalam skala rumah tangga. Selain itu, tanaman ini dapat dimanfaatkan lagi oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Kegiatan ini mendapat respon positif dari masyarakat dan perangkat desa karena tidak hanya menawarkan solusi pertanian praktis, tetapi juga mendorong pemanfaatan sampah organik dan sampah barang tidak terpakai serta pekarangan rumah secara efisien.
Melalui inovasi ini, Tim KKNT-Inovasi IPB University berharap warga Desa Kalong I, khususnya warga RW 01 dapat terus mengembangkan dan melanjutkan pertanian skala rumah tangga yang ramah lingkungan untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

