benteng duurstede saksi bisu perlawanan dari pesisir saparua - News | Good News From Indonesia 2026

Benteng Duurstede, Saksi Bisu Perlawanan dari Pesisir Saparua

Benteng Duurstede, Saksi Bisu Perlawanan dari Pesisir Saparua
images info

Benteng Duurstede, Saksi Bisu Perlawanan dari Pesisir Saparua


Di pesisir Pulau Saparua, Maluku Tengah, berdiri sebuah benteng tua yang tak sekadar menjadi penanda masa lalu. Benteng Duurstede adalah saksi bisu dari pergulatan panjang rakyat Maluku melawan kolonialisme.

Benteng ini terletak tepat di tepi pantai, menghadap langsung ke Laut Banda. Posisi strategisnya berada di atas bukit karang setinggi sekitar 20 kaki dari permukaan laut.

Dari titik ini, pandangan lepas ke laut terbuka membuat siapa pun paham mengapa Duurstede dulu begitu penting dalam sistem pertahanan kolonial.

Bagi pengunjung hari ini, panorama tersebut menjelma menjadi suguhan visual yang menenangkan, terutama saat matahari mulai condong ke barat.

Dibangun Portugis hingga Beralih ke VOC

Sejarah Benteng Duurstede bermula pada abad ke-17. Benteng pertama didirikan oleh Portugis, sebelum akhirnya direbut dan dibangun ulang oleh Belanda pada tahun 1691 di bawah Gubernur Ambon, Nicolaas Schaghen.

Nama “Duurstede” sendiri diambil dari kampung halaman Schaghen di Belanda, yang berarti “kota mahal”. Sejak saat itu, benteng ini menjadi salah satu pusat pertahanan VOC di Maluku, wilayah yang kala itu diperebutkan karena kekayaan rempah-rempahnya.

Dari sini, VOC mengawasi perdagangan rempah-rempah bernilai tinggi seperti pala dan cengkeh yang berada dalam sistem monopoli mereka. Letaknya yang menghadap langsung ke Laut Banda membuat benteng ini ideal untuk memantau lalu lintas kapal lewat meriam dan pos pengintai.

Benteng ini juga menjaga wilayah Saparua dari potensi ancaman, baik dari kekuatan Portugis maupun perlawanan lokal.

Di dalamnya, gudang-gudang rempah menopang roda ekonomi VOC. Sementara ruang penjara digunakan untuk menahan pihak-pihak yang dianggap melanggar aturan kolonial.

Dalam perjalanannya, Benteng Duurstede juga sempat berpindah tangan. Inggris menguasainya pada periode 1796–1816, sebelum akhirnya kembali ke tangan Belanda.

Saksi Bisu Perlawanan Pattimura

Peristiwa paling bersejarah terjadi pada 16 Mei 1817. Saat itulah Kapitan Pattimura bersama rakyat Saparua melancarkan serangan besar ke benteng ini sebagai bentuk perlawanan terhadap monopoli rempah dan kerja paksa yang menindas.

Serangan rakyat Maluku menewaskan hampir seluruh penghuni benteng, menyisakan Juan van den Berg, putra Residen, sebagai satu-satunya yang selamat. Kejatuhan Benteng Duurstede ke tangan rakyat membuat posisi VOC di Ambon hingga Batavia terguncang.

Situasi ini mendorong VOC mencurahkan seluruh perhatiannya untuk merebut kembali benteng tersebut. Berbagai upaya pun dilakukan, hingga akhirnya pada tahun 1817 VOC berhasil menguasai kembali Benteng Duurstede dan memaksa Pattimura beserta pasukannya untuk mundur.

Karkteristik Benteng yang Unik

Secara fisik, Benteng Duurstede memiliki bentuk oval yang unik. Satu-satunya desain seperti ini di antara benteng kolonial di Indonesia. Temboknya setinggi sekitar lima meter dengan ketebalan mencapai 1,25 meter.

Untuk masuk ke dalam area benteng, pengunjung harus menaiki 24 anak tangga menuju pintu utama. Di beberapa sudut, masih terlihat meriam-meriam besi yang dulu diarahkan langsung ke laut, seolah masih berjaga dari ancaman yang tak pernah datang lagi.

Benteng Duurstede tampak atas
info gambar

Benteng Duurstede tampak atas | Picryl: Government of Indonesia


Bagian dalam benteng menyimpan tiga ruang utama yang dulunya berfungsi sebagai kantor administrasi, penjara, dan gudang penyimpanan rempah-rempah seperti pala dan cengkeh. Di tengah area terdapat bekas barak serdadu.

Di luar benteng, ada sebuah sumur yang kerap disebut “sumur maut”, menambah aura misterius yang menyelimuti kawasan ini.

Wisata dan Cagar Budaya Nasional

Kini, Benteng Duurstede telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan mengalami pemugaran menyeluruh pada 2024–2025. Pemeliharaan dilakukan dengan metode konservasi khusus agar struktur aslinya tetap terjaga.

Saat ini, kondisi benteng dinyatakan prima dan kembali dibuka untuk publik sebagai ruang budaya yang aktif. Festival budaya, pemutaran film dokumenter, hingga tur sejarah dengan pemandu lokal kerap digelar di sini.

Berada di puncak benteng, pengunjung akan dimanjakan oleh birunya Laut Banda yang berpadu dengan hamparan hijau Pulau Saparua. Berdiri di atas tembok setinggi lima meter, pengunjung bisa melihat laut yang tenang terbentang luas, menjadikannya titik ideal untuk berburu foto panorama, terutama saat senja.

baca juga

Mengunjungi Benteng Duurstede bukan hanya tentang melihat bangunan tua. Di balik kebisuannya, tersimpan kisah kolonialisme dan keberanian rakyat Saparua. Ini adalah pengalaman menyusuri sejarah, mendengar kembali gema perjuangan Pattimura, dan merasakan bagaimana Maluku pernah menjadi pusat dunia karena rempah-rempahnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.