Di Kampung Lampadang, Aceh Besar, lahir seorang perempuan yang kelak dikenang sebagai pahlawan perempuan Aceh. Sosok tersebut adalah Cut Nyak Dien, tokoh yang kemudian dikenal karena keberanian dan perjuangannya.
Cut Nyak Dhien lahir pada tahun 1848 dari keluarga bangsawan yang religius di Aceh Besar, tepatnya di wilayah VI Mukim. Ayahnya, Teuku Nanta Seutia, merupakan seorang uleebalang VI Mukim sekaligus keturunan Datuk Makhudum Sati, seorang perantau asal Minangkabau.
Datuk Makhudum Sati sendiri merupakan keturunan Laksamana Muda Nanta, tokoh yang pernah menjadi utusan Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman. (CUT NYAK DIEN: Ratu Perang Aceh Dalam Melawan Pemerintah Kolonial Belanda Tahun 1878-1908, 2021)
Cut Nyak Dien tumbuh dan dibesarkan di lingkungan yang religius. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi memperoleh banyak pengetahuan agama dari kehidupan sekitarnya.
Sejak kecil, ia belajar membaca Al-Qur’an, mengenal baca tulis dalam bahasa Arab, serta memahami dasar-dasar hukum dan aturan dalam agama Islam. Pengetahuan tersebut ia peroleh dari orang tuanya maupun dari para ulama yang mengisi pengajian di meunasah dan masjid. (Cut Nyak Din, 1996.)
Ia dikenal sebagai pejuang yang sangat tangguh dan berani. Meskipun seorang perempuan, hal itu sama sekali tidak melemahkan tekadnya untuk melawan kolonialisme Belanda.
Cut Nyak Dhien menjunjung tinggi nilai keadilan dan berkeyakinan kuat bahwa penjajahan harus dilawan demi mempertahankan martabat serta kebebasan rakyat Aceh.
Semangat juangnya lahir dari kecintaan yang mendalam terhadap tanah kelahirannya dan keinginan untuk melihat masyarakat hidup merdeka tanpa penindasan. Dalam perjuangannya, Cut Nyak Dhien terlibat langsung dalam berbagai bentuk perlawanan bersenjata. Ia aktif memimpin dan memberi semangat kepada rakyat Aceh dalam menghadapi pasukan Belanda.
Salah satu fase penting perjuangannya terjadi dalam Perang Aceh yang dimulai pada tahun 1873 dan berlangsung selama bertahun-tahun. Melalui perlawanan tersebut, Cut Nyak Dhien menunjukkan bahwa keberanian dan kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh keteguhan hati dan semangat untuk memperjuangkan keadilan.
Pada usia sekitar 12 tahun, yakni sekitar tahun 1863, Cut Nyak Dhien dijodohkan dengan suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, yang juga berasal dari keluarga uleebalang. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai seorang anak laki-laki.
Namun, Teuku Cek Ibrahim Lamnga gugur dalam pertempuran melawan Belanda pada 29 Juni 1878. Peristiwa ini menjadi titik balik yang membangkitkan amarah sekaligus tekad kuat Cut Nyak Dhien untuk terus melawan dan menentang kekuasaan Belanda. (dilansir dari kab-jayawijaya.kpu.go.id)
Setelah suaminya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur dalam pertempuran melawan Belanda, Cut Nyak Dhien tetap meneruskan perlawanan bersama rakyat Aceh.
Ia kemudian menikah dengan Teuku Umar, salah satu tokoh utama dalam Perang Aceh, dan bersama-sama memimpin perjuangan melalui strategi gerilya yang membuat pihak Belanda kesulitan.
Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dhien memimpin perlawanan dengan cara gerilya. Salah satu strategi yang paling dikenal adalah ketika Teuku Umar berpura-pura menyerah dan bergabung dengan pihak Belanda pada tahun 1893, yang kemudian dikenal sebagai Het verraad van Teukoe Oemar atau Pengkhianatan Teuku Umar.
Taktik ini dilakukan untuk mempelajari strategi perang Belanda sekaligus memperoleh persenjataan dan amunisi.
Setelah tujuan tersebut tercapai, Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien kembali berbalik melawan Belanda. Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik Cut Nyak Dhien memang semakin menurun, namun semangat juangnya tidak pernah padam.
Ia tetap memimpin pasukan dan terjun langsung dalam perlawanan, sehingga Belanda terus mengalami kesulitan untuk sepenuhnya menguasai Aceh. Akhir perjuangannya terjadi ketika salah satu panglima perangnya berkhianat dengan melaporkan tempat persembunyiannya di Beutong Le Sageu.
Cut Nyak Dhien akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember 1906. Ia wafat pada 6 November 1908 di tempat pengasingan dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang.
Ketika Teuku Umar gugur pada tahun 1899, Cut Nyak Dhien tidak sedikit pun surut dalam melanjutkan perjuangan. Kehilangan sosok pendamping sekaligus pemimpin perang justru semakin menguatkan tekadnya untuk terus melawan penjajahan Belanda.
Dengan semangat yang tak pernah padam, ia tetap memimpin dan menggerakkan perlawanan rakyat Aceh, meskipun harus menghadapi tekanan yang semakin berat dari pihak kolonial.
Selama kurang lebih 25 tahun, Cut Nyak Dhien bertahan dalam kondisi yang serba terbatas. Usianya yang semakin tua, kesehatan yang terus menurun, serta kekurangan persediaan makanan dan senjata tidak menjadi alasan untuk menyerah.
Dalam keadaan demikian, ia tetap memilih bertahan di medan perjuangan, menunjukkan keteguhan hati dan pengorbanan besar demi mempertahankan kehormatan dan kebebasan tanah Aceh. (dilansir dari budaya.lhokseumawekota.go.id/).
Cut Nyak Dhien dikenal sebagai sosok yang melambangkan keberanian, keteguhan hati, dan semangat juang perempuan Indonesia. Atas jasa-jasanya, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1964.
Perjuangannya tidak hanya mencerminkan semangat perlawanan rakyat Aceh, tetapi juga membuktikan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam sejarah perjuangan bangsa. Keteladanan dan pengorbanan Cut Nyak Dhien menjadikannya simbol keberanian dan keadilan, sehingga pantas dikenang dan dihormati sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


