Menjadi organisasi Islam terbesar di nusantara, Nahdlatul Ulama lahir dari hasil pemikiran tokoh-tokoh pendirinya. Sejak awal berdirinya pada 31 Januari 1926, NU dibidani oleh sinergi para ulama dengan karakter dan peran yang berbeda. Mengenal dan mempelajari kisah para tokoh pendiri Nahdlatul Ulama bukan hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga menjaga sanad keilmuan dan identitas Nahdliyin yang moderat hingga hari ini.
Sinergi Ulama di Balik Lahirnya Nahdlatul Ulama
NU berdiri sebagai jam’iyyah ulama, bukan organisasi personal. Para pendirinya membaca tantangan zaman yang menggema pada saat itu berupa ancaman terhadap kebebasan bermadzhab di Tanah Suci, tekanan kolonial di tanah air, serta kebutuhan umat akan kepemimpinan keagamaan yang kokoh. Dari sederet kegelisahan inilah NU lahir sebagai wadah perjuangan keilmuan, spiritual, dan kebangsaan.
KH Hasyim Asy’ari, Hadratussyaikh dan Pucuk Kepemimpinan NU
Nama KH Hasyim Asy’ari menempati posisi sentral dalam sejarah NU. Lahir pada 14 Februari 1871, beliau tumbuh sebagai ulama dengan rihlah keilmuan panjang hingga Mekkah. Di Tanah Suci, KH Hasyim berguru kepada ulama besar dunia Islam dan bahkan dipercaya mengajar di Masjidil Haram, dimana menjadi sebuah pengakuan atas otoritas keilmuannya.
Sepulangnya ke tanah air, beliau mendirikan Pesantren Tebuireng yang kelak menjadi pusat pembentukan ulama Nusantara. Dalam struktur NU, KH Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama, sekaligus peletak fondasi spiritual organisasi. Kitab-kitabnya, seperti Adabul ‘Alim wal Muta’allim, menjadi rujukan etika pendidikan pesantren hingga kini.
Peran kebangsaan KH Hasyim mencapai puncaknya melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, dimana beliau mengemukakan fatwa yang menggerakkan perlawanan rakyat terhadap penjajah. Dari dunia pesantren, beliau membuktikan bahwa ulama memiliki peran strategis dalam sejarah bangsa.
KH Abdul Wahab Chasbullah, Arsitek Gerakan dan Diplomat NU
KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan arsitek gerakan dan diplomat ulung Nahdlatul Ulama. Lahir pada 1888, ia dikenal sebagai ulama yang peka membaca perubahan sosial dan politik.
Jauh sebelum NU berdiri, KH Wahab telah merintis Nahdlatul Wathan, Tashwirul Afkar, dan Nahdlatut Tujjar. Rangkaian inisiatif ini membentuk kesadaran para ulama dan santri, sekaligus menjadi fondasi sosial NU.
Perannya mencapai titik krusial melalui Komite Hijaz, delegasi ulama pesantren ke Arab Saudi untuk memperjuangkan kebebasan bermadzhab. Diplomasi ini bukan hanya menyelamatkan praktik keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi juga menegaskan posisi ulama Nusantara di level internasional. KH Wahab dikenal dengan karakternya yang progresif, komunikatif, dan strategis sehingga mampu menjembatani perbedaan demi kepentingan umat.
KH Bisri Syansuri, Penjaga Fiqh dalam Tubuh NU
Di tengah dinamika gerakan, KH Bisri Syansuri hadir sebagai penyeimbang. Ia dikenal sebagai ulama dengan kedalaman fiqh yang teliti dan disiplin. Bersama KH Hasyim dan KH Wahab, ia termasuk tiga pendiri utama NU.
Peran KH Bisri sangat penting dalam memastikan NU tetap berpijak pada koridor hukum Islam. Melalui Pesantren Denanyar, ia membangun tradisi keilmuan yang rapi dan sistematis. Dalam struktur NU, KH Bisri berperan sebagai penjaga arah keagamaan, agar NU tetap setia pada identitasnya sebagai jam’iyyah ulama, bukan sekadar organisasi massa.
KH Ridwan Abdullah, Kreativitas dalam Spiritualitas
Identitas NU tidak hanya dibangun melalui gagasan, tetapi juga didukung oleh simbol yang sarat makna. Dan disinilah peran penting KH Ridwan Abdullah. Atas amanah KH Hasyim Asy’ari, ia diminta merancang lambang NU yang orisinil dan berwibawa.
Prosesnya pun tidak singkat. Setelah melalui istikharah panjang, KH Ridwan memperoleh isyarah berupa bola dunia yang dikelilingi sembilan bintang. Lambang ini disahkan dan digunakan hingga kini. Bola dunia melambangkan cakupan dakwah Islam yang universal, sementara sembilan bintang merepresentasikan para wali dan ulama sebagai penjaga ajaran.
Tokoh Pendukung dan Isyarah Langit Berdirinya NU
Di balik tokoh-tokoh utama pendiri Nahdlatul Ulama, terdapat figur pendukung yang perannya kerap luput dari sorotan, namun peran yang tak kalah penting. Salah satunya adalah KH Mas Alwi, sosok yang mengusulkan nama Nahdlatul Ulama dalam diskusi para kiai menjelang pendirian organisasi ini.
Pada masa itu, sempat mengemuka nama Jami’iyah Ulama sebagai wadah perkumpulan. Namun KH Mas Alwi mengajukan pandangan berbeda. Ia menilai bahwa tidak semua ulama memiliki kesadaran untuk bangkit menghadapi tantangan zaman. Karena itu, kata nahdlatul dipilih sebagai penegasan misi NU bukan sekadar perkumpulan, melainkan gerakan kebangkitan ulama yang memiliki tanggung jawab sosial dan kebangsaan.
Selain ikhtiar rasional dan organisatoris, pendirian NU juga bertumpu pada dimensi spiritual yang kuat. KH Hasyim Asy’ari, sebagai pucuk kepemimpinan ulama pesantren, tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Ia menempuh jalan istikharah panjang untuk memohon petunjuk sebelum mendirikan jam'iyah ulama.
Restu itu kemudian hadir melalui Syaikhona Kholil Bangkalan, guru para kiai. Melalui KHR As’ad Syamsul Arifin, ia mengirimkan isyarah berupa tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim di Tebuireng. Isyarah ini dipahami sebagai tanda kemantapan dan legitimasi spiritual, bahwa pendirian NU bukan sekadar keputusan organisasi, melainkan bagian dari amanah keilmuan dan perjuangan agama.
Warisan Para Pendiri NU
Para tokoh pendiri Nahdlatul Ulama mewariskan lebih dari sekadar organisasi. Mereka membangun NU melalui kepemimpinan spiritual, kecakapan strategi, ketelitian fiqh, dan kedalaman simbolik. Dari sinergi inilah NU tumbuh sebagai kekuatan Islam wasathiyah, yang berakar kuat pada tradisi, namun tetap adaptif menghadapi zaman. Hampir satu abad berlalu, warisan para pendiri itu masih menjadi fondasi kokoh bagi NU hingga hari ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


