menilik sejarah nahdlatul ulama dari hijaz awal berdiri hingga perannya bagi bangsa - News | Good News From Indonesia 2026

Menilik Sejarah Nahdlatul Ulama, dari Hijaz, Awal Berdiri hingga Perannya bagi Bangsa

Menilik Sejarah Nahdlatul Ulama, dari Hijaz, Awal Berdiri hingga Perannya bagi Bangsa
images info

Menilik Sejarah Nahdlatul Ulama, dari Hijaz, Awal Berdiri hingga Perannya bagi Bangsa


Nahdlatul Ulama atau NU tak lama lagi akan memasuki usia 100 tahun jika dihitung berdasarkan kalender Hijriah. Satu abad perjalanan ini bukan sekedar pertambahan umur, melainkan momentum refleksi atas peran panjang NU dalam sejarah keislaman dan kebangsaan.

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU tumbuh bersama dinamika zaman, menjaga tradisi, sekaligus merespons tantangan yang datang silih berganti. Karena itu, memahami sejarah Nahdlatul Ulama menjadi kunci untuk melihat bagaimana Islam moderat berakar, berkembang, dan berkontribusi nyata bagi bangsa hingga hari ini.

Latar Belakang Berdirinya Nahdlatul Ulama

Berdirinya Nahdlatul Ulama tidak dapat dilepaskan dari bertautnya dinamika global dunia Islam dan kebutuhan umat Islam di Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Situasi tersebut membentuk kesadaran kolektif para ulama pesantren akan pentingnya sebuah wadah perjuangan yang terorganisir.

Di tingkat global, runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 1924 menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam. Kekuasaan di wilayah Hijaz kemudian berada di bawah Raja Ibnu Saud, yang membawa paham Wahabi. Kebijakan ini memunculkan kekhawatiran luas karena berpotensi melarang praktik bermadzhab, khususnya Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali), menolak tradisi keagamaan, serta mengancam keberadaan situs-situs bersejarah Islam, termasuk makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Kondisi tersebut mendorong KH Abdul Wahab Chasbullah untuk mengambil langkah tegas yang menentukan. Pada Januari 1926, dengan restu KH Hasyim Asy’ari, ia menggagas pembentukan Komite Hijaz. Komite ini bertujuan mengirim delegasi ulama ke Muktamar Dunia Islam di Makkah untuk menyampaikan tuntutan agar kebebasan menjalankan Madzhab Empat tetap dijamin dan tradisi Islam dijaga. 

Dalam pertemuan para ulama di Kertopaten, Surabaya, pada 31 Januari 1926 yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 Hijriah, mengemuka pertanyaan mendasar tentang legitimasi institusi pengirim delegasi. Dari rangkaian musyawarah dan perundingan inilah kemudian lahir sebuah jam’iyah bernama Nahdlatul Ulama.

Di tingkat lokal, para ulama tradisionalis juga menghadapi tekanan kolonialisme Belanda serta arus modernisme Islam yang mulai menyingkirkan tradisi pesantren. Sebelum NU berdiri, KH Abdul Wahab Chasbullah bersama para kiai telah merintis berbagai gerakan, seperti Tashwirul Afkar (1914), Nahdlatul Wathon (1916), dan Nahdlatut Tujjar (1918). NU kemudian hadir sebagai kelanjutan dari perjuangan tersebut, dengan cakupan yang lebih luas dan struktur organisasi yang lebih kokoh untuk menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah berlandaskan Madzhab Empat.

Tokoh Pendiri Nahdlatul Ulama

tokoh-tokoh pendiri NU | ai generated
info gambar

ilustrasi tokoh-tokoh pendiri NU | ai generated


Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, terdapat sejumlah tokoh kunci yang menjadi fondasi organisasi ini. Berikut tiga tokoh pendiri Nu yang memiliki peran sentral:

1. KH Hasyim Asy’ari

KH Hasyim Asy’ari, yang lahir di Jombang pada 14 Februari 1871, dikenal sebagai Hadratussyaikh dan peletak dasar spiritual serta intelektual NU. Ketokohannya menjadikan beliau rujukan utama umat Islam Nusantara, sekaligus Rais Akbar pertama NU. Dalam kepemimpinannya, NU dibangun dengan prinsip kehati-hatian, kedalaman ilmu, dan kesetiaan pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

2. KH Abdul Wahab Chasbullah

Lahir di Jombang pada 31 Maret 1888, KH Abdul Wahab Chasbullah dikenal sebagai motor penggerak NU. Ia adalah organisator dan diplomat ulung yang memiliki kepekaan tinggi terhadap persoalan global dan lokal. Perannya terlihat jelas dalam pembentukan berbagai embrio pergerakan, termasuk Komite Hijaz, yang menjadi jalan lahirnya NU sebagai organisasi formal.

3. KH Bisri Syansuri

KH Bisri Syansuri lahir pada 18 September 1886 dan dikenal sebagai penjaga pilar fiqh dalam NU. Keteguhannya dalam hukum Islam menjadikan beliau penyeimbang penting dalam arah kebijakan organisasi. Kontribusinya memastikan NU tetap responsif terhadap perubahan sosial tanpa meninggalkan dasar-dasar syariat.

Makna dan Filosofi Lambang NU

lambang nahdlatul ulama (NU) resmi

Lambang Nahdlatul Ulama dirancang oleh KH Ridwan Abdullah atas amanah dari KH Hasyim Asy’ari. Proses perancangannya dilakukan dengan penuh kehati-hatian melalui istikharah dan perenungan, agar lambang tersebut benar-benar mencerminkan nilai dan tujuan NU. Berikut makna di balik lambang NU:

  • Bola dunia melambangkan tempat manusia hidup dan berdakwah. 
  • Tali jagad yang melingkar menggambarkan ikatan persaudaraan yang kokoh. 
  • Bintang sembilan merepresentasikan Nabi Muhammad SAW, Khulafaur Rasyidin, empat imam mazhab, sekaligus Wali Songo.
baca juga

Peran NU dalam Perjuangan Kemerdekaan

Kontribusi NU tidak berhenti pada ranah keagamaan. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, NU memiliki peran krusial, terutama melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Fatwa yang dikeluarkan KH Hasyim Asy’ari ini mewajibkan umat Islam membela tanah air dari penjajah. Resolusi Jihad menjadi pemantik perlawanan rakyat, termasuk pertempuran besar 10 November di Surabaya. Tanggal 22 Oktober kemudian diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Nilai Dasar NU dan Relevansinya dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Sejak awal berdiri, NU konsisten mengusung nilai Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), dan Tasamuh (toleran). Nilai-nilai inilah yang membuat NU tetap relevan dalam menjaga harmoni antara Islam dan kebangsaan, sekaligus memperkuat komitmen terhadap keutuhan NKRI.

Memasuki usia 100 tahun, Nahdlatul Ulama tidak hanya merayakan panjangnya perjalanan waktu, tetapi juga meneguhkan kembali jati dirinya sebagai penjaga Islam moderat dan perekat kebangsaan. Dari latar belakang global hingga peran besar dalam kemerdekaan, sejarah Nahdlatul Ulama menunjukkan bahwa organisasi ini lahir dari kesadaran menjaga tradisi, merawat persatuan, dan menjawab tantangan zaman dengan kebijaksanaan.

Satu abad NU menjadi bukti bahwa nilai Tawasuth, Tawazun, dan Tasamuh bukan sekedar konsep, melainkan tuntunan hidup yang terus relevan dalam merawat Indonesia hari ini dan ke depan.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RW
MS
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.