Malaria adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh infeksi melalui gigitan nyamuk. Meskipun kasus malaria sudah berkurang setiap tahunnya, penyakit ini masih bisa dijumpai di beberapa daerah yang ada di Indonesia.
Pemberantasan malaria sendiri sudah dilakukan sejak lama di Indonesia. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari vaksinasi hingga penyemprotan untuk membasmi nyamuk yang ada di lingkungan sekitar.
Mundur beberapa dekade ke belakang, tepatnya pada 1959, ternyata ada istilah lain yang digunakan untuk penyakit ini sebelumnya di Indonesia. Istilah yang digunakan untuk mengganti nama penyakit malaria tersebut adalah ma lemut.
Istilah ini bahkan tidak disampaikan oleh sembarangan orang. Penggunaan istilah "Ma lemut" untuk menggantikan kata malaria disampaikan langsung oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Bagaimana kisah di balik penggunaan nama "Ma lemut" sebagai istilah pengganti untuk penyakit malaria pada waktu itu?
Sekilas tentang Penyakit Malaria
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, malaria merupakan salah satu penyakit yang disebabkan oleh infeksi yang ditularkan lewat gigitan nyamuk. Dikutip dari laman Alodokter, penyakit ini bisa dialami ketika seseorang digigit oleh nyamuk yang membawa parasit Plasmodium.
Seseorang yang terkena gigitan nyamuk ini tidak akan langsung sakit begitu saja. Gejala malaria baru akan terlihat setelah 10 hingga 15 setelah terkena gigitan nyamuk.
Umumnya gejala yang diperlihatkan seseorang yang terkena penyakit malaria adalah demam, menggigil, hingga sakit kepala. Selain itu, seseorang yang menunjukkan gejala malaria juga akan mengeluarkan banyak keringat serta merasakan lemas di tubuhnya.
Meskipun demikian, bukan berarti malaria tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini tetap bisa ditangani jika diobati secepatnya.
Selain itu, banyak upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah seseorang terkena penyakit malaria. Misalnya, seseorang bisa melakukan vaksinasi untuk mencegah penyakit tersebut.
Pembersihan dan penyemprotan di lingkungan sekitar juga menjadi salah satu langkah yang bisa diambil untuk pencegahannya. Dengan demikian, masyarakat yang ada di sekitar bisa aman dan tercegah dari penyakit tersebut.
Penggantian Istilah Malaria menjadi Ma Lemut
Pemberantasan malaria juga menjadi salah satu perhatian khusus di Indonesia pada 1959 silam. Salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah untuk menangani penyakit ini adalah dengan melakukan penyemprotan DDT atau diklorodifeniltrikloroetana.
Dilansir dari artikel "Brantaslah Ma Lemut Setjara Berholopis Kontool Baris, Istilah Malaria Supaja Diganti Ma Lemut" yang terbit di surat kabar Nasional edisi 13 November 1959, Kalasan, Yogyakarta menjadi salah satu daerah yang mendapatkan penyemprotan DDT pada waktu itu. Penyemprotan DDT pertama di Kalasan bahkan dihadiri langsung oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno.
Penyemprotan di Kalasan ini juga menjadi awal dari pemberantasan malaria di seluruh Indonesia waktu itu. Setelah Kalasan, penyemprotan DDT kemudian disebar di beberapa daerah yang ada di Indonesia.
Beberapa pejabat negara juga turut mendampingi Soekarno pada proses penyemprotan DDT pada waktu itu. Terlihat beberapa duta besar hingga Sri Sultan turut hadir dalam acara tersebut.
Soekarno juga sempat memberikan pidato di sela proses penyemprotan DDT di Kalasan. Meskipun tidak dijadwalkan sebelumnya, Soekarno bersedia menyampaikan pidatonya atas desakan beberapa masyarakat yang hadir di sana.
Dalam pidatonya, Soekarno menyinggung sebuah istilah yang digunakan untuk mengganti kata malaria. Istilah tersebut adalah ma lemut.
Istilah yang dikenalkan oleh Soekarno ini kemudian ditujukan untuk kegiatan yang berkaitan dengan pemberantasan malaria waktu itu. Selain itu, Soekarno juga memberikan beberapa pesan lain dalam pidatonya di hadapan masyarakat yang datang, seperti dibutuhkannya gotong royong dan kerja sama hingga harapan agar penularan penyakit malaria bisa teratasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


