Warteg Warmo di perempatan Jalan Tebet Raya buka 24 jam. Warung ini nyaris tidak pernah sepi.
Selama puluhan tahun, warteg ini menjadi tempat makan bagi banyak orang, dari pekerja malam, mahasiswa, sopir, hingga warga sekitar. Banyak yang berkali-kali datang dan jadi langganan. Bukan hanya karena rasa, tetapi juga karena suasana yang terasa akrab.
Namun, meskipun ramai, Warteg Warmo sempat terguncang.
Empat tahun lalu, kabar penutupan Warmo mulai terdengar. Pemilik lama berencana menutup usaha dan menjualnya. Bukan karena sepi pelanggan, melainkan karena tak lagi sanggup melanjutkan pengelolaan.
Kabar itu sampai ke Syukur Iman, atau akrab disapa Iman. Saat itu, ia masih bekerja sebagai karyawan swasta dengan latar belakang akuntansi. Alih-alih melihatnya sebagai kabar buruk, Iman justru melihat peluang. Iman mengambil alih Warteg Warmo.
“Saya memang tipe orang yang suka tantangan. Dunia kerja kantoran tantangannya kan itu-itu saja, itu yang akhirnya membuat saya memilih resign dan membuka usaha,” ujarnya.
Keputusan mengambil alih Warmo tidak berarti memulai dari nol. Justru sebaliknya. Iman masuk ke usaha yang sudah punya sejarah, pelanggan setia, dan kepercayaan yang terbangun lama.
“Saya merasa ada rasa sayangnya dan tanggung jawab gitu terhadap rumah makan yang sudah jadi ibarat ‘rumah’ bagi banyak warga,” kata Iman.
Merawat, Bukan Mengganti
Saat resmi mengelola Warmo, Iman tidak ingin mengubah Warmo secara total. Fokus utamanya adalah merawat, bukan mengganti.
Bangunan tidak dirombak total tapi hanya dicat ulang. Perbaikan dilakukan secukupnya agar warung tetap nyaman tanpa kehilangan wajah lamanya.
“Saya tidak banyak ubah karena saya ingin mempertahankan Warmo sebagaimana mulanya,” jelasnya.
Pendekatan serupa juga diterapkan pada menu. Hidangan andalan seperti sop iga tetap dipertahankan. Beberapa menu baru mulai ditambahkan.
“Saya memutuskan untuk mempertahankan menu-menu khas Warmo yang sudah jadi andalan. Tapi saya juga menambahkan beberapa menu baru supaya tetap relevan buat pelanggan anak muda,” ujar Iman.
Pembukuan Manual Menyusahkan dan Keputusan Go Digital
Pada enam bulan pertama pengelolaan, Warmo yang dikelola Iman masih sepenuhnya mengandalkan pembayaran tunai dan pencatatan manual.
“Kami menggunakan metode pembayaran tunai dan pencatatan manual selama 6 bulan pertama,” kata Iman.
Masalahnya, banyak kesalahan transaksi ketika wateg lagi ramai. Pencatatan manual sering kali tidak sinkron dengan uang yang diterima. Rekap penjualan pun kerap menyisakan selisih, terutama saat jam sibuk.
“Wah, awal-awal cukup rumit. Sering kali ada aja kekurangannya setiap rekap penjualan,” lanjutnya.
Situasi ini membuat Iman menyadari bahwa tantangan Warmo bukan hanya soal rasa dan pelanggan, tetapi juga sistem kerja.
Dari peristiwa tersebut, Iman akhirnya memutuskan beralih ke sistem pembayaran digital berbasis QRIS dan pencatatan otomatis. Artinya, transaksi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada uang tunai.
Secara sederhana, QRIS memungkinkan pelanggan membayar cukup dengan memindai satu kode QR. Sementara pencatatan otomatis membuat setiap transaksi langsung tercatat dan bisa dipantau saat itu juga.
“Sistem pembayaran digital sangat membantu terutama di jam-jam sibuk seperti makan siang dan makan malam,” kata Iman.
Bagi Iman, sistem ini memungkinkan pengawasan menjadi lebih mudah. Ia bisa memantau performa harian tanpa menunggu rekap manual di akhir bulan.
Meski kini lebih tertata secara administrasi, watak Warmo tetap sama. Pelanggan masih mengambil lauk di etalase. Dengan sistem yang lebih rapi, Iman mulai memikirkan langkah ke depan, yakni ekspansi bisnia
“Saya ingin suatu hari ini bisa membuka franchise Warmo Tebet,” ujarnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


