menelaah persepsi masyarakat terhadap mipa antara miskonsepsi dan potensi - News | Good News From Indonesia 2026

Menelaah Persepsi Masyarakat terhadap MIPA: Antara Miskonsepsi dan Potensi

Menelaah Persepsi Masyarakat terhadap MIPA: Antara Miskonsepsi dan Potensi
images info

Menelaah Persepsi Masyarakat terhadap MIPA: Antara Miskonsepsi dan Potensi


“MIPA itu kayaknya sulit, ya, kak…aku nggak minat kalau dijadikan studi lanjut ke kampus…”

“Oh, ambil Biologi, ya…nanti berarti abis ini lanjut S2 ya?”

“Kok ngambil Biologi kamu? Apa nggak ngambil Ilmu Komputer atau Teknik, mungkin?”

“Kamu nggak pengen tah jadi tentara, ngelanjutin rekam jejak opamu yang udah jadi mayjen? Badanmu termasuk tinggi, lho…”

“Oh, MIPA, ya? Itu nanti kerjaannya kayak apa toh? Jadi dosen, ya?”

Beberapa potongan dialog di atas sering penulis jumpai selama menjalani program studi S1 Biologi di sebuah universitas. Tampak jelas “nada” dialog tersebut terkesan memasang ekspektasi yang rendah terhadap MIPA, yang merupakan kependekan dari Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Penulis meyakini Kawan GNFI yang saat ini masih duduk di bangku sekolah, atau mungkin yang telah menjadi orang tua dan punya anak usia sekolah, pasti menemui mata pelajaran Matematika dan IPA.

Metode pedagogis mata pelajaran ini disesuaikan dengan standar kurikulum yang berlaku saat itu, di mana penulis mengalami KTSP 2006 dan K13 selama masih bersekolah.

baca juga

Mengamati kondisi terkini, penulis merasa pemerintah Indonesia memang cenderung inkonsistensi dalam merumuskan kebijakan yang tepat bagi para siswa.

Kebijakan, yang secara spesifik di sini adalah kurikulum, dinilai oleh penulis lebih seperti sebuah formalitas bahwa negara telah hadir untuk menyelenggarakan hak pendidikan seturut UUD 1945 Pasal 31 dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).

Entah ini ironis atau bagaimana, tetapi tersedianya dasar hukum yang absah tampak tidak disertai dengan peningkatan kualitas pendidikan yang memadai.

Dikutip dari Tribunnews (9/9/2024), Jusuf Kalla bahkan mengkritik keras bahwa kurikulum yang ada sekarang terkesan seperti “latah” terhadap kurikulum luar negeri, terutama yang merujuk pada pola didik westernisasi ala Eropa Barat atau Amerika Utara.

Yah, mungkin dari sini Kawan GNFI sekiranya sudah bisa menebak seperti apa kronologis maupun para tokoh yang berperan dalam pembentukan kurikulum sekarang serta aplikasinya bagi para pelajar di Indonesia.

Mendiskusikan tentang pendidikan dan upaya terapannya, bagi penulis sekalipun, adalah hal yang memang kompleks dan mungkin juga melelahkan. Mengapa tidak? Secara kultural dan demografis, Indonesia terdiversifikasi oleh banyak aspek. Sebut saja seperti suku bangsa, bahasa, adat-istiadat, kolektivisme budaya komunal, agama dan kepercayaan, makanan serta pakaian tradisional, dan sebagainya.

Walaupun demikian, lantas itu seharusnya tidak menjadikan kita abai yang berujung pada kepasrahan terhadap situasi pendidikan kini.

Ingatlah, harapan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, jika penulis harus gambarkan dengan tegas dan lugas, bisa jadi hanya 'bualan belaka' apabila sumber daya manusianya tidak segera dibenahi secara tepat dan akumulatif dari generasi ke generasi.

Sejak Dulunya, MIPA Sudah Sepi Peminat?

Kembali pada konteks MIPA. Meski memang sampai detik ini penulis tidak mengenyam program doktoral. Namun, penulis cukup menyadari dan mengerti alasan MIPA cenderung tersisihkan dari pola hidup masyarakat Indonesia. Mari, penulis ajak Kawan GNFI untuk coba menelaah ini secara eviden dan bertahap.

Menyadur GoodStats (19/7/2025), dijelaskan di sana bahwa ternyata ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) menjadi ekstrakurikuler paling buncit dari semua yang teridentifikasi. Hanya sekitar 0,43%, nilai ini bahkan sangat jauh selisihnya dibandingkan dengan Pramuka yang mencapai 64,46%.

Di tengah segala kehidupan modern yang menuntut empirisme dan pendekatan yang ilmiah, KIR agaknya dianggap tidak diminati oleh para siswa Indonesia. Tidak mengherankan sih, karena KIR di SMA penulis juga tidak banyak disorot selain Pramuka, lalu Paskibra, Basket, Karawitan, Palang Merah Remaja, dan Badan Dakwah Islam atau BDI.

baca juga

Di buku tahunan, KIR tidak tercantum sebagai ekstrakurikuler resmi. Lagipula, pada saat itu keanggotaan KIR bahkan hanya 3-6 orang saja. Mungkin cocok dianggap sebagai 'perkumpulan radikal'.

Beranjak kuliah, penulis lagi-lagi melihat fenomena serupa. Pada semester tiga, sudah mulai muncul mahasiswa yang mengundurkan diri secara berbondong-bondong. Diduga kuat penyebabnya karena merasa salah jurusan dan minim prospek.

Kenyataannya, mayoritas teman-teman penulis bertendensi untuk lanjut studi di dalam maupun luar negeri. Ada juga yang banting setir—berpindah pada profesi yang tidak linier dengan apa yang dijalani dalam perkuliahannya.

Pada level yang lebih umum, sudah banyak pemberitaan di media massa maupun media sosial tentang kondisi pendidikan Indonesia, terkhusus pada bidang MIPA. Seperti Detik (19/2/2025), misalnya, yang memberitakan bahwa minat masyarakat pada program studi berbasis MIPA, terutama Fisika telah mengalami penurunan yang signifikan.

“Sekarang mahasiswa, ini mohon maaf nih, informasi dari teman-teman dekan MIPA, jadi peminat MIPA itu menurun sekarang, khususnya Fisika. Ada beberapa kampus yang udah tutup prodi (program studi) Fisikanya,” terang Yudi Darma di kantor Kemendiktisaintek pada wawancaranya di hari Selasa (18/2/2025).

Lebih lanjut, masyarakat juga tampaknya sudah terlanjur menjustifikasikan bahwa biasanya lulusan MIPA identik bekerja dalam ranah akademik, terutama sebagai tenaga pengajar di perguruan tinggi dan/atau sekolah.

Belum lagi dengan isu yang santer beredar agar tidak mengutamakan profesi dosen atau guru karena sistem gaji yang terbilang memprihatinkan, plus dengan birokrasinya yang demikian.

Yang tidak terlewatkan, yang sebenarnya fundamental, adalah masyarakat Indonesia masih berasaskan pada logika mistika—apa-apa serba dikaitkan perihal adikodrati dan ajaran agama.

Padahal, jika Kawan GNFI menyadari, peristiwa Black Death itu lekat dengan ketergantungan masyarakat Eropa pada logika mistika.

baca juga

Perlu digarisbawahi, penulis bukan bermaksud memprovokasi bahkan menyebarkan ujaran negatif soal ini. Dengan sedikit profil berikut jabaran terbatas dari penulis, ini kiranya menjadi himbauan bagi Kawan GNFI di manapun berada, bahwa janganlah kita menutup mata kepada fenomena semacam ini.

Sejujurnya, MIPA adalah hal yang esensial bagi kehidupan kita. Profesi yang sedang tren saat ini, seperti data scientist atau data analyst, itu mengaplikasikan bidang MIPA secara mono maupun multidisipliner, lho.

Kalau Kawan GNFI merasa tulisan ini belum sepenuhnya mewakili keresahan seperti yang penulis rasakan, penulis rekomendasikan untuk menonton podcast Bagus Muljadi bersama Ferry Irwandi di Malaka Project.

Itu akan menjelaskan secara komprehensif tentang hulu-hilirnya model pendidikan, pola hidup masyarakat, dan perkembangan ekosistem sains di Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.