paradoks kebahagiaan mengapa semakin sulit digapai - News | Good News From Indonesia 2026

Paradoks Kebahagiaan: Mengapa Semakin Sulit Digapai?

Paradoks Kebahagiaan: Mengapa Semakin Sulit Digapai?
images info

Paradoks Kebahagiaan: Mengapa Semakin Sulit Digapai?


Sejak dahulu hingga sekarang, manusia terus mencari arti kebahagiaan. Namun, bahagia sering disalahpahami sebagai standar tertentu yang harus dicapai setiap individu demi menjalani kehidupan yang sejahtera.

Tidak sedikit pula yang membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain demi mengukur kebahagiaan. Padahal, kebahagiaan bukan sesuatu yang bisa diukur, melainkan emosi yang kompleks dan subjektif pada setiap orang.

Kebahagiaan yang terus dikejar akan menyebabkan paradoks kebahagiaan. Mengapa begitu? Simak penjelasan di bawah ini ya, Kawan.

Definisi Kebahagiaan

Seberapa sering Kawan bertanya tentang arti bahagia? Dalam KBBI, kebahagiaan adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram, suatu kondisi pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kesenangan, ketentraman hidup secara lahir dan batin, serta kepuasan.

Menurut Seligman, dkk (2005), kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat dipengaruhi oleh cara pandang individu terhadap hidupnya. Ia menegaskan bahwa setiap individu perlu terus menciptakan rasa senang mereka sendiri dan merasakannya secara otentik.

Menurut Faturrahman dan Adi (2023), kebahagiaan merupakan efek samping yang terjadi atas berbagai tindakan yang kita lakukan. Artinya, kebahagiaan tidak dicari, tetapi dirasakan. Sifatnya subjektif dan maknanya berbeda-beda pada setiap orang.

Memahami Paradoks Kebahagiaan

Dalam studi Zerwas dan Ford (2021), yang dimaksud paradoks kebahagiaan adalah ketika seseorang menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan yang sangat penting, ia cenderung merasa kurang bahagia. Kesenangan yang mereka rasakan bergantung pada tercapai atau tidaknya tingkat suka cita yang mereka inginkan.

Kebahagiaan yang terus dipikirkan seringkali membuat kita cemas karena ekspektasi yang terlalu tinggi pada emosi kita. Hal ini menyebabkan kekecewaan pada hal yang tidak bisa kita kontrol. Dengan begitu, kita cenderung ingin mencapai kepuasan yang lebih besar dengan terus berandai-andai.

Ada yang memaknai kebahagiaan adalah keberlimpahan uang, stabilitas finansial, kemenangan, prestasi, mendapatkan cinta, atau keluarga yang harmonis. Kita sering tidak menyadari bahwa telah melewatkan fakta yang sulit diterima, yaitu ketidakpastian dan kefanaan.

Semakin kita memikirkan kebahagiaan, semakin kita menyadari bahwa hal tersebut tidak bisa selalu hadir dalam hidup kita. Namun, kebanyakan orang akan lari dengan mencari cara agar bisa merasakan rasa senang yang terus-menerus, alih-alih diam sejenak dan merasakan apa yang benar-benar terjadi saat ini.

Albert Camus pernah berkata, “Kamu tidak akan pernah bahagia jika terus mencari seperti apa kebahagiaan itu. Kamu tidak akan pernah hidup jika terus mencari arti hidup.”

Strategi yang Diperlukan

Suka cita tentu sangat penting untuk mewujudkan kesejahteraan dalam hidup kita. Namun, ia bisa menjadi paradoks yang justru membuat kita semakin jauh darinya.

Untuk menghindari hal tersebut, Kawan GNFI bisa mempertimbangkan 5 hal ini:

1. Fokus Hadir pada Saat Ini

Cobalah untuk menyadari hal-hal yang terjadi saat ini tanpa memikirkan masa depan ataupun masa lalu. Alih-alih menentukan tujuan yang membahagiakan, beri ruang untuk diri Kawan berpikir dan menghadapi situasi di depan mata.

2. Maksimalkan Kekuatanmu

Fokus pada kemampuan Kawan untuk menghadapi berbagai tantangan yang muncul. Kekuatan atas self-control atau pengendalian diri menimbulkan kepuasan dan kebahagiaan yang lebih dalam.

3. Hargai Hal-Hal Kecil

Kebahagiaan bukan tentang seberapa besar pencapaian kita, melainkan seberapa besar makna yang kita berikan pada suatu hal. Cobalah untuk mensyukuri tindakan-tindakan kecil yang sudah Kawan lakukan atau hal-hal kecil yang Kawan dapatkan hari ini.

4. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Tidak ada hidup yang sempurna. Setiap orang berada di garis kehidupan mereka masing-masing. Kawan tidak perlu mencoba keluar dari garis untuk mendapat jatah kehidupan sendiri.

5. Ulurkan Tanganmu untuk Menjalin Hubungan

Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk saling berhubungan satu sama lain. Untuk menjalin hubungan dengan lingkungan, kita perlu ulurkan tangan kita untuk membantu sesama. Tentunya hal ini dilakukan tanpa pamrih ya, Kawan.

Selain untuk membangun hubungan positif, mengulurkan tangan untuk berkontribusi pada kebaikan dapat meningkatkan kesenangan. Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengeluarkan uang untuk membantu orang lain cenderung lebih bahagia daripada yang menghabiskan uang untuk dirinya sendiri.

Nah, Kawan GNFI kira-kira sudah menemukan makna kebahagiaan yang paling pas belum nih? Selain dari 5 strategi di atas, Kawan juga bisa menerapkan metode lain yang sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing.

Perlu diingat bahwa kebahagiaan bukan suatu perlombaan, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Selain itu, tidak perlu memaksakan diri dalam meraih segala sesuatu yang mungkin menurut kita baik. Kita boleh saja memiliki keinginan, tetapi alangkah baiknya menerima diri apa adanya dan fokus memaksimalkan potensi diri kita.

”Kebahagiaan sejati adalah menikmati saat ini, tanpa ketergantungan pada masa depan, tidak menghibur diri dengan harapan atau ketakutan, tetapi merasa puas dengan apa yang kita miliki, yang cukup, karena dia yang memilikinya tidak menginginkan apa pun.” -Seneca

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.