Relasi ibu dan anak sering dianggap sebagai ikatan paling dekat dan aman dalam hidup. Namun, dalam kenyataannya, hubungan ini tidak selalu berjalan hangat dan menenangkan.
Pola asuh yang penuh tuntutan, minim ruang untuk mengekspresikan perasaan, atau kontrol yang berlebihan bisa meninggalkan luka emosional yang dikenal sebagai mother wound. Luka ini kerap terbentuk sejak masa kanak-kanak dan baru terasa dampaknya ketika seseorang tumbuh dewasa.
Istilah mother wound tidak digunakan untuk menyalahkan ibu sebagai individu. Konsep ini membantu memahami bagaimana dinamika relasi ibu dan anak yang tidak aman dapat memengaruhi perkembangan emosi seseorang.
Fenomena ini terjadi di berbagai latar sosial dan budaya, termasuk di Indonesia, serta dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang gender.
Relasi Ibu dan Anak dalam Kehidupan Keluarga di Indonesia
Dalam banyak keluarga Indonesia, ibu memegang peran yang sangat besar. Ia menjadi pengasuh utama, pengatur rumah tangga, sekaligus tempat bergantung secara emosional. Di sisi lain, tidak sedikit ibu yang menjalani peran tersebut dalam kondisi lelah, tertekan, dan minim dukungan.
Situasi ini memengaruhi pola pengasuhan. Anak sering dibesarkan dengan tuntutan untuk patuh, kuat, dan tidak banyak mengeluh. Ungkapan seperti “jangan lebay”, “harus bisa ngerti kondisi orang tua”, atau “jangan bikin ibu capek” terdengar akrab dalam kehidupan sehari-hari.
Tanpa disadari, kalimat-kalimat ini dapat membuat anak belajar menekan emosi dan mengabaikan perasaannya sendiri.
Mother wound dalam konteks ini sering kali tidak terlihat sebagai konflik besar. Hubungan ibu dan anak tetap tampak baik-baik saja, tetapi ada jarak emosional yang sulit dijelaskan.
Mother Wound dan Kesehatan Mental di Indonesia
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin banyak dibicarakan di Indonesia dan relasi keluarga kerap menjadi faktor yang berperan.
Banyak individu dewasa menyadari bahwa kesulitan mereka dalam menetapkan batasan, rasa bersalah berlebihan, atau kebutuhan terus-menerus akan validasi berasal dari pengalaman masa kecil. Hubungan dengan ibu yang penuh tuntutan atau minim kelekatan emosional sering menjadi latar belakangnya.
Pengalaman ini tidak hanya dialami oleh perempuan. Laki-laki pun dapat membawa luka emosional serupa, meski sering mengekspresikannya dengan cara yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa mother wound merupakan isu relasional yang berdampak luas.
Dampak Mother Wound dalam Kehidupan Sehari-hari
Mother wound tidak selalu muncul dalam bentuk gangguan psikologis yang berat. Dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya bisa terasa lebih halus. Seseorang mungkin tumbuh menjadi pribadi yang sulit berkata tidak, selalu merasa harus menyenangkan orang lain, atau merasa tidak pernah cukup baik.
Di dunia kerja, luka ini dapat muncul sebagai perfeksionisme berlebihan dan rasa takut membuat kesalahan. Dalam hubungan personal, mother wound sering terlihat melalui relasi yang tidak seimbang, sulit mempercayai orang lain, atau kecenderungan mengorbankan diri sendiri.
Karena sudah terbiasa sejak kecil, banyak orang menganggap pola-pola ini sebagai bagian dari kepribadian, bukan sebagai luka emosional yang bisa disembuhkan.
Mengenali dan Mengolah Luka Emosional
Langkah awal menghadapi mother wound adalah berani mengenalinya. Menyadari adanya luka emosional bukan berarti menyalahkan ibu atau keluarga, melainkan memahami bahwa setiap orang tumbuh dalam konteks dan keterbatasannya masing-masing.
Proses pengolahan luka ini dapat dimulai dari refleksi diri, menulis pengalaman pribadi, atau berbicara dengan orang yang dipercaya. Bagi sebagian orang, pendampingan profesional seperti konseling atau terapi menjadi ruang aman untuk memahami emosi yang selama ini terpendam.
Menetapkan batasan juga menjadi bagian penting dari proses ini. Batasan bukan tanda tidak sayang, melainkan bentuk menjaga diri agar relasi tetap sehat dan saling menghargai.
Harapan Baru dalam Pola Pengasuhan
Meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental membawa angin segar dalam pola pengasuhan di Indonesia. Semakin banyak orang tua muda yang mulai belajar mendengarkan emosi anak, memberi ruang untuk berbicara, dan tidak lagi memaksakan standar lama yang penuh tekanan.
Berbagai komunitas, tenaga kesehatan mental, dan ruang diskusi publik turut berperan dalam menyebarkan pemahaman ini. Perlahan, narasi tentang keluarga yang sehat tidak lagi hanya soal disiplin dan prestasi, tetapi juga tentang rasa aman dan kelekatan emosional.
Mother wound mengingatkan bahwa luka emosional bisa diwariskan, tetapi juga bisa dihentikan. Dengan kesadaran dan upaya bersama, relasi ibu dan anak dapat menjadi ruang tumbuh yang lebih hangat dan manusiawi bagi generasi berikutnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


