Mahasiswa KKN Universitas Singaperbangsa Karawang menggelar penyuluhan seputar pengelolaan sampah sekaligus memperkenalkan alat pembakar sampah minim asap sederhana kepada warga Desa Sukamurni.
Kegiatan ini digelar sebagai langkah awal bagi masyarakat untuk mengenal cara alternatif mengelola sampah yang ramah lingkungan. Insinerator dibangun sebagai jawaban atas permasalahan sampah yang acapkali dibakar secara terbuka dan sembarang.
Sampah rumah tangga yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari merupakan tantangan utama bagi lingkungan di Desa Sukamurni. Umumnya, sebagian besar sampah tidak dikelola dengan baik sehingga berakhir dibakar, dibiarkan menumpuk, atau dibuang secara sembarang.
Kondisi tersebut tidak hanya berisiko bagi lingkungan, tetapi juga berdampak buruk pada kualitas udara serta kesehatan warga desa.
Minimnya Kesadaran Warga jadi Salah Satu Faktor Utama
Keterbatasan akses informasi dan kurangnya kesadaran warga desa terhadap pengelolaan sampah menjadi faktor utama atas kebersihan lingkungan Sukamurni yang memprihatinkan. Warga desa tidak memiliki alternatif lain di samping membakar atau menimbun sampah. Karena dari itu, perlu pengelolaan yang lebih tertata dan berkelanjutan.
Adanya pengelolaan yang optimal, dapat membantu mengurangi sampah dengan cara yang lebih baik dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Insinerator dipilih sebagai solusi dalam mengelola sampah yang lebih aman dan terarah karena mampu menjawab permasalahan sampah di Desa Sukamurni, mengingat sampah-sampah yang ada masih dikelola secara terbuka dan kurang terkontrol.
Melalui program ini, mahasiswa kelompok KKN Unsika memperkenalkan konsep pembangunan insinerator dengan bahan yang mudah diperoleh dan dapat dioperasikan secara mandiri oleh warga desa sebagai alternatif pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Menurut Gunawan, dkk. (2025), insinerator memiliki kemampuan untuk menghancurkan sampah hingga 99% melalui proses pembakaran bersuhu tinggi. Ini menjadi lebih efektif dibandingkan dengan praktik pembakaran sampah secara tradisional.
Proses degradasi sampah akan berlangsung lebih optimal karena suhu pembakaran stabil dan terkontrol untuk menghasilkan residu yang lebih sedikit. Sampah yang dibakar di dalam insinerator akan berubah menjadi abu sehingga bobot yang dihasilkan jauh lebih ringan.
Hal tersebut menunjukkan penggunaan insinerator yang tidak hanya berperan sebagai solusi, tetapi juga bernilai edukatif bagi warga desa dalam mengurangi volume sampah.
Lewat penerapan teknologi pembakaran yang lebih terkontrol, warga Desa Sukamurni dapat mengenal praktik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, aman, dan sistematis dibandingkan dengan membakar sampah secara tradisional dan terbuka.
KKN Unsika Adakan Penyuluhan, Pembuatan, dan Uji Coba Insinerator
Pelaksanaan kegiatan dibuka dengan penyuluhan oleh mahasiswa KKN Unsika kepada warga Desa Sukamurni tentang bagaimana mengelola sampah yang ramah bagi lingkungan dan dampak buruk yang dibawa dari pembakaran sampah secara terbuka.
Pada sesi edukatif ini, mahasiswa KKN Unsika membawakan materi secara interaktif sehingga terbangun komunikasi dua arah antara mahasiswa dan warga desa sebagai audiens.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran warga desa dan mendorong perubahan perilaku dalam mengelola sampah rumah tangga.
Proses pembuatan berlangsung di area terbuka milik salah satu warga desa yang dinilai strategis sehingga memungkinkan penduduk untuk terlibat dan mengamati proses pembangunan insinerator.
Keterlibatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang aspek teknis fungsi dan operasi insinerator.

Mahasiswa KKN Unsika Melakukan Pembuatan dan Uji Coba Insinerator di Desa Sukamurni
Serangkaian aktivitas diakhiri dengan percobaan untuk memastikan bahwa insinerator berfungsi secara optimal sebelum digunakan dalam jangka panjang oleh warga desa. Pada tahap uji coba, sampah dibakar dalam jumlah yang sedikit sebagai simulasi penggunaan awal.
Selama proses pembakaran, Kawan GNFI perlu memperhatikan kestabilan api, efektivitas pembakaran, volume asap, dan sisa residu yang dihasilkan.
Melalui tahap uji coba inilah, warga Desa Sukamurni dapat melihat secara langsung cara kerja insinerator sebagai alat pembakar sampah minim asap.
Program penyuluhan dan pembuatan insinerator oleh mahasiswa KKN Unsika mendapat respons yang positif dari warga Desa Sukamurni. Warga desa secara aktif mengajukan pertanyaan seputar prosedur penggunaan, aspek keamanan, dan penerapan insinerator dalam pengelolaan sampah rumah tangga yang semakin menumpuk setiap harinya.
Ketertarikan warga desa menunjukkan kesadaran awal yang perlahan muncul untuk mengelola limbah dengan lebih optimal dan berkelanjutan sekaligus menjadi langkah yang baik bagi kebersihan lingkungan di Desa Sukamurni.
Melalui rangkaian program insinerator, mahasiswa KKN Unsika berusaha memperkenalkan alternatif baru dalam mengelola sampah yang lebih eco-friendly bagi keberlangsungan lingkungan hidup di Desa Sukamurni.
Program ini menjadi solusi yang aplikatif dan menekankan pada pentingnya kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungan dan pengelolaan sampah rumah tangga.
Harapannya, rangkaian program tersebut dapat menjadi langkah awal bagi Desa Sukamurni agar bisa mengimplementasikan pengelolaan sampah yang optimal dalam kehidupan sehari-hari.
Kolaborasi yang terjalin antara mahasiswa, perangkat desa, dan warga Desa Sukamurni menjadi kunci agar inovasi yang diperkenalkan tidak berlangsung sesaat, melainkan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai upaya bersama untuk menciptakan lingkungan desa yang bersih dan kualitas hidup yang baik.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


