tari bines sejarah dan kelembutan yang melengkapi kegagahan tari saman - News | Good News From Indonesia 2026

Tari Bines, Sejarah dan Kelembutan yang Melengkapi Kegagahan Tari Saman

Tari Bines, Sejarah dan Kelembutan yang Melengkapi Kegagahan Tari Saman
images info

Tari Bines, Sejarah dan Kelembutan yang Melengkapi Kegagahan Tari Saman


Selain terkenal akan tari Samannya yang sudah mendunia, Kabupaten Gayo Lues punya satu jenis kesenian berupa tarian lagi yang bisa dikatakan sebagai pendamping Saman, yakni Bines atau Tari Bines.

Jika Tari Saman menjadi simbol kekompakan dan semangat laki-laki Gayo, maka Tari Bines adalah cerminan kelembutan dan keanggunan perempuan Gayo Lues.

Keduanya lahir dari akar budaya yang sama, tapi tumbuh dengan watak yang berbeda seperti dua sisi yang saling melengkapi dalam satu jiwa masyarakat Gayo.

Sejarah Bines

Bines merupakan seni tari yang khusus dimainkan oleh anak gadis (sibeberu; beberu dalam bahasa Gayo). Menurut sejarah yang berkembang di masyarakat, Bines berasal dari sejarah yang sama dengan tari saman, yaitu ketika Syekh Saman (pencipta Tari Saman) melakukan shalawat dan perempuan mengibaskan selendang.

Sampai sekarang belum ada data resmi dan akurat yang menjelaskan kapan tari Bines mulai ada di Gayo Lues. Namun, satu hal yang mungkin dapat dipastikan Bines muncul karena perempuan di Gayo Lues tidak diperbolehkan menari tarian Saman yang keras dengan gerakan memukul-mukul dada, sehingga para leluhur dulu menciptakan tarian lain yang dianggap layak untuk ditarikan oleh para perempuan.

Jika Saman menonjolkan kekuatan dan ketepatan gerak, maka Bines menonjolkan kelembutan dan keharmonisan. Dalam pandangan masyarakat Gayo, kedua tarian ini tidak dipisahkan, melainkan dipahami sebagai perwujudan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan, antara tenaga dan rasa, antara semangat dan keindahan.

Waktu Pertunjukkan Bines

Waktu pertunjukkan Bines sama dengan kesenian Gayo Lues yang lain seperti dalam rangka pesta perkawinan, pesta sunat rasul, maupun pesta tahunan seperti acara Bejamu Saman (Saman yang dilakukan selama satu hari satu malam hingga tiga hari tiga malam antara satu kampung dengan kampung lain).

Bines umumnya dimainkan kurang lebih 12 hingga 18 orang dan diawali dengan lantunan syair beralun oleh seorang dari penari yang terdepan (Penangkat) dengan syair "Birsemillah..: atau "Urum Bismillah..." diikuti dengan gerak pola lantai letter U dan diakhiri dengan ucapan "Ehee….Uuuu..."

Pada umumnya sebelum melakukan gerakan Bines, terlebih dahulu diawali dengan nyanyian atau syair pembuka yang menjelaskan grup penari ini dari mana mengingat setiap grup tari Bines di Gayo Lues pasti punya namanya masing-masing ketika acara seperti Tunes Mude, Dilodari, atau dari nama sanggar tari mereka seperti Beringin Sejuk dan lain-lain, contoh syair pembuka ini adalah sebagai berikut:

"Ini...Tari Bines....ari Tunes Mude...Tunes Mude....Dengan...." (Ini...tari Bines...dari grup Tunes Mude ...Saudara).

Kemudian diikuti oleh seluruh penari bines dengan lirik, "I engon mi sareh, i engon mi sareh, i panang mi nyata, oya si benar e..." (Dilihat dengan jelas, dipandang dengan nyata (apa adanya), itu yang sebenarnya).

Baru setelah itu diakhiri dengan teriakan "ehee...uuu" oleh seluruh penari, dan dilanjutkan dengan gerakan selanjutnya.

Gerakan dasar tari Bines terdiri dari surang saring yang berarti selang-seling, rempak atau gerakan satu arah, serta alih yaitu gerakan perubahan (alih tangan) dari bertepuk ke gerakan tangan yang lain seperti gerakan mengayun tangan dan langkah.

Cara Bermain Bines

Tahapan dalam Bines berbeda dengan Saman, adapun tahapannya adalah sebagai berikut:

a. Salam

Salam merupakan bagian pembuka yang berisi tentang ucapan salam kepada para penonton mulai dari status yang tertinggi hingga terendah, artinya jika yang tertinggi dalam pertunjukkan tersebut adalah kepala desa, maka salam pertama ditujukan kepadanya, begitu seterusnya sampai salam terakhir kepada penonton.

Salam dilakukan dengan posisi berdiri sambil membungkukkan badan ke kiri atau ke kanan sambil mengikuti (saur) syair (jangin) yang dilantunkan oleh Ceh Bines. Contoh syairnya adalah seperti berikut ini:

Salam pertama ku Bapak Gecik, (salam pertama kepada Bapak Geuchik/Kepala Desa)

We simendidik rakyat jelata, (dia yang mendidik rakyat jelata)

Salam terakhir ku para penonton, (salam terakhir kepada para penonton)

Gaib irai dekat i engon (jauh dijemput dekat dilihat)

b. Lagu-Lagu Bines

Setelah dibuka dengan salam, maka Bines dilanjutkan dengan lagu-lagu Bines. Biasanya lagunya diawali dengan syair "Birsemilah Hirahman Rahim, ibedul karim mulen calitra..." yang didendangkan oleh Ceh Bines dan diikuti oleh penari yang lain, pada saat mengucapkan lagu tersebut para penari melakukan gerak membungkukkan badan ke depan, kemudian mundur sambil menggerakkan tangan ke kanan dan ke arah kiri.

Baru setelah itu dilanjutkan dengan gerak dan lagu yang lain. Contoh lagu (jangin) dalam Bines adalah sebagai berikut:

Daling seseren enge murebah,

Ate enti gunah i ranto ni jema,

Ate enti gunah i ranto ni jema.

c. Niro Izin

Setelah selesai mempersembahkan beberapa lagu yang berdurasi kurang lebih 30 menit, dilanjutkan dengan minta maaf atau disebut juga dengan Niro Izin kepada seluruh penonton yang hadir dalam persembahan, ditutup dengan lagu terakhir dengan lirik sebagai berikut:

Mun kapas mun kapas padang, Jemur ku lante ngenaan kemang,

Kipesen en pora kena temerbang, Mun kapas padang.

He he... u...

Penutup

Penjelasan diatas merupakan sejarah, waktu pertunjukkan, dan cara memainkan Bines serta beberapa contoh lagu (jangin) yang dinyanyikan ketika acara. Mengenai lagu atau jangin dalam Bines, para pengamat berbeda pandangan terkait dengan beberapa hal seperti lagu pembuka yang berbunyi, "Birsemillah hirahman rahim", frasa "Birsemilah" bagi sebagian masyarakat adalah kekeliruan dalam melafazkan Bismillahirrahmanirrahim, sehingga saat ini sering diganti dengan "Urum Bismillah" yang artinya "dengan Bismillah" guna menghindari pengucapan yang salah karena pada dasarnya lagu dalam Bines ataupun Saman selalu dibuka dengan kalimat pujian kepada Allah.

Sementara itu pengamat dan tokoh lain beranggapan bahwa kata "Birsemilah" sudah benar karena kata "Bir-" disini maknanya adalah "urum" dalam bahasa Gayo atau "dengan" jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sehingga sudah mencakup makna "dengan bismillah."

Beberapa alasan tersebut dipengaruhi oleh banyak hal salah satunya adalah faktor sejarah dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan turun temurun, maka dari itu peran pemerintah, budayawan, tokoh adat dan masyarakat sangat diperlukan guna meluruskan hal ini dan hal lain yang dianggap salah, sehingga kedepan segala kesalahan terutama dalam pengucapan dalam Bines tidak menjadi kekeliruan di masa mendatang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.