pendidikan sebagai fondasi hidup perjalanan ismail dalam bertumbuh dan mengabdi - News | Good News From Indonesia 2026

Pendidikan sebagai Fondasi Hidup: Perjalanan Ismail dalam Bertumbuh dan Mengabdi

Pendidikan sebagai Fondasi Hidup: Perjalanan Ismail dalam Bertumbuh dan Mengabdi
images info

Pendidikan sebagai Fondasi Hidup: Perjalanan Ismail dalam Bertumbuh dan Mengabdi


Pendidikan sejatinya adalah sebuah mandat universal. Ia bukan sekadar rutinitas di dalam ruang kelas atau upaya mengejar gelar formal, melainkan instrumen vital dalam pembentukan karakter dan peningkatan martabat manusia.

Di tengah arus globalisasi dan disrupsi teknologi yang kian cepat, pendidikan telah bergeser dari sekadar pilihan menjadi sebuah kebutuhan asasi. Sebagai fondasi bangsa, pendidikan yang inklusif dan merata adalah kunci untuk menciptakan masyarakat yang tidak hanya berdaya saing, tetapi juga memiliki rasa keadilan.

Namun, realitasnya, akses terhadap pendidikan sering kali terbentur pada sekat-sekat sosial dan ekonomi. Di sinilah esensi pendidikan diuji: bagaimana ia mampu menjadi jembatan bagi setiap individu, terlepas dari latar belakang geografis maupun status finansialnya, untuk meraih masa depan yang lebih layak.

Ismail adalah salah satu representasi dari pemuda yang tumbuh dalam filosofi tersebut. Tumbuh dalam keterbatasan ekonomi tidak lantas membuatnya surut langkah. Bagi keluarganya, pendidikan adalah investasi tertinggi yang melampaui kepemilikan materi. 

Prinsip yang ditanamkan sejak dini ini menjadi kompas bagi Ismail dalam menavigasi perjalanan panjang di dunia akademik. Keyakinan bahwa kualitas hidup dapat diubah melalui ilmu pengetahuan menjadi bekal kuat baginya untuk terus bertumbuh, mengabdi, dan membuktikan bahwa ketekunan adalah modal utama dalam menembus batas kemungkinan.

Pendidikan dan Karier, Meretas Jalan Melalui Ketekunan

Pendidikan bagi Ismail adalah sebuah tangga panjang yang ia daki dengan penuh kesadaran. Sejak di bangku MAN Jeneponto, ia telah menjadi penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP). Dukungan negara ini berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi, di mana ia berhasil menempuh Diploma III di Politeknik Negeri Ujung Pandang melalui beasiswa Bidikmisi. 

Bagi Ismail, beasiswa bukan sekadar bantuan finansial, melainkan sebuah amanah untuk membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah pembatas bagi kualitas intelektual.

Langkah profesionalnya dimulai bahkan sebelum ia resmi menyandang gelar diploma. Tiga bulan menjelang wisuda, Ismail terpilih mengikuti Program Magang Mahasiswa Bersertifikat (PMMB) Kementerian BUMN di Bank Tabungan Negara (BTN) Kantor Wilayah V. Pengalaman selama enam bulan ini menjadi gerbang pembuka bagi karier panjangnya di industri perbankan.

Dedikasi Ismail teruji saat ia bergabung dengan Bank Mega Syariah. Selama empat tahun mengabdi, ia tidak hanya memberikan performa terbaik bagi perusahaan, tetapi juga mendapatkan kepercayaan berupa beasiswa untuk menuntaskan studi sarjananya di Universitas Terbuka. 

Saat ini, ia tengah mendalami manajemen di level yang lebih strategis melalui Program Magister (S2) di Universitas Hasanuddin. Namun, karier Ismail tidak hanya tumbuh di balik meja perbankan. Dimulai dari pengalaman administratif di Dinas Kesehatan Jeneponto hingga menjadi praktisi keuangan, ia kini bertransformasi menjadi seorang edupreneur

Melalui unit usaha yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia, Ismail aktif membagikan pengalaman dan pengetahuannya sebagai narasumber di berbagai perguruan tinggi. Ia berupaya membayar kembali apa yang telah ia dapatkan dari pendidikan dengan cara menginspirasi dan meningkatkan kapasitas generasi muda lainnya.

Rekam Jejak Prestasi, Manifestasi Ketekunan

Prestasi bagi Ismail bukanlah sekadar deretan piala di atas meja, melainkan cermin dari proses belajar yang tidak pernah berhenti. Sejak di bangku sekolah menengah, ia telah menunjukkan dedikasi akademik yang tinggi dengan meraih predikat Lulusan Terbaik 2 di MAN Jeneponto. 

Di luar kelas, ia mengasah ketajaman berpikir dan kreativitasnya melalui berbagai kompetisi, mulai dari lomba karya tulis ilmiah, debat, hingga aktivitas kepramukaan yang membawanya berkompetisi dari tingkat kabupaten hingga provinsi.

Memasuki jenjang pendidikan tinggi, langkah Ismail semakin lebar. Statusnya sebagai mahasiswa tidak membatasi ruang geraknya untuk tetap berprestasi. Ia berhasil menjuarai debat ilmiah di tingkat jurusan dan terpilih mewakili institusinya dalam ajang bergengsi nasional, seperti Business Administration Competition di Politeknik Negeri Ambon. 

Pengalaman ini diperkaya dengan keterlibatannya dalam Pertemuan Nasional Mahasiswa Bidikmisi di Universitas Gadjah Mada, tempat ia bertukar gagasan dengan mahasiswa-mahasiswa terpilih dari seluruh penjuru negeri.

Konsistensi ini terus berlanjut hingga ia memasuki dunia profesional di sektor perbankan. Ismail membuktikan bahwa kapasitas diri yang dibentuk sejak masa sekolah tetap relevan dalam dunia kerja. Ia berhasil meraih Juara III Lomba Sosialisasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Wilayah Makassar, serta menyabet Juara I Lomba Sosialisasi Produk “Berkah Berlimpah” di Bank Mega Syariah.

Pencapaian tersebut menunjukkan satu benang merah yang jelas. Ismail tidak hanya fokus pada pengembangan kompetensi pribadi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menyederhanakan literasi keuangan yang kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Baginya, prestasi terbaik adalah ketika keahlian profesional mampu memberikan dampak edukatif bagi publik. 

Kepemimpinan, Sebuah Perjalanan Pengabdian

Bagi Ismail, kepemimpinan bukanlah tentang memegang kendali, melainkan tentang kerelaan untuk melayani. Benih kepemimpinan ini mulai ia tanam sejak masa sekolah menengah di MAN Jeneponto.

Melalui amanah sebagai Ketua PIK-R dan Sekretaris Umum OSIM, ia belajar mengelola aspirasi rekan-rekannya. Tak hanya itu, perannya sebagai Ketua Ambalan dalam dunia kepramukaan menjadi kawah candradimuka yang menempanya dengan nilai-nilai disiplin, keteladanan, dan loyalitas.

Semangat berorganisasi ini tidak padam saat ia melangkah ke jenjang perguruan tinggi; justru kian meruncing. Ismail dipercaya menakhodai komunitas penerima beasiswa sebagai Ketua Umum Bidikmisi KMBM Politeknik Negeri Ujung Pandang. Di saat yang sama, ia tetap menjaga ikatan emosional dengan almamater lamanya melalui pengabdian di Ikatan Keluarga Alumni MAN Jeneponto, yang ia pimpin hingga tahun 2023.

Puncak aktualisasi organisasinya di kampus tercapai saat ia terpilih menjadi Wakil Presiden BEM-KM Politeknik Negeri Ujung Pandang. Dalam posisi strategis ini, Ismail belajar menyeimbangkan peran antara pengambil kebijakan dan penyambung lidah mahasiswa. Namun, baginya, kepemimpinan harus melampaui pagar kampus.

Hal ini dibuktikannya saat mengemban peran sebagai Koordinator Kabupaten Program Pejuang Muda Kementerian Sosial RI pada tahun 2021. Di sinilah Ismail turun langsung ke tengah masyarakat, menyentuh realitas sosial, dan memastikan bahwa perubahan positif benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan. 

Melalui rangkaian pengalaman ini, Ismail membuktikan sebuah prinsip sederhana: kepemimpinan sejati adalah tentang seberapa besar kebermanfaatan yang bisa kita berikan bagi sesama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.