Jakarta selalu hidup berdampingan dengan air. Baginya yang tumbuh dari muara sungai dan pesisir, hujan bukan lagi menjadi tamu asing. Beberapa tahun terakhir, banjir yang kian berulang datang menjadi bagian dari penguji ketahanan kota. Hujan deras berjam-jam, kiriman air dari hulu, dan kondisi pasang laut di utara, seringkali bertemu dalam satu waktu.
Wilayah Utara kembali menjadi wajah terdepan dari “ujian” Jakarta. Genangan muncul di sejumlah wilayah pesisir dan permukiman padat penduduk. Pemerintah Wilayah Kota Jakarta Utara mengerahkan seluruh pompa baik stasioner maupun mobile tanpa jeda.
BPBD DKI Jakarta mencatat, hingga Minggu siang banjir masih menggenangi tiga RT dan 18 ruas jalan di Jakarta Utara akibat tingginya curah hujan. Ketinggian air bervariasi, mulai dari 25 hingga 100 sentimeter. G
enangan terjadi di Kelurahan Ancol, Pademangan Barat, dan Kapuk Muara, sementara ruas jalan terdampak terparah berada di Jalan Kampung Sepatan, Cilincing, dengan ketinggian air mencapai satu meter. Sejumlah jalan lain di wilayah Cilincing dan Ancol juga terendam dengan ketinggian yang lebih rendah.
Petugas bekerja siang dan malam, memastikan air bergerak keluar dari permukiman secepat mungkin. Dalam hitungan jam, sebagian besar genangan berhasil dikendalikan. Peristiwa ini kembali menunjukkan bahwa respons darurat Jakarta kini jauh lebih sigap dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.
Walaupun, banjir hari ini bukan lagi soal cepat atau lambatnya air surut. Wilayah terdampak tidak lagi berakhir dengan sama. Kawasan yang dulu relatif aman, kini mulai tergenang. Pola hujan semakin sulit diprediksi, sementara kapasitas Jakarta, baik ruang maupun daya tampung air tidak bertambah secepat intensitas cuaca ekstrem.
Data dari berbagai kejadian banjir menunjukkan bahwa peta risiko Jakarta bersifat dinamis. Genangan dapat muncul di kelurahan yang berbeda, dengan karakter yang berbeda pula. Ada wilayah yang terdampak karena luapan sungai, ada yang karena saluran tersumbat, dan ada pula yang dipengaruhi rob dari laut. Oleh karena itu, pendekatan penanganan banjir tidak lagi bisa diseragamkan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menggeser cara pandangnya. Penanganan banjir kini diarahkan berbasis wilayah hingga tingkat kecamatan dan kelurahan. Artinya, setiap wilayah didorong untuk memiliki pemetaan risiko, peralatan, dan prosedur yang sesuai dengan karakter banjirnya.
Pendekatan ini memungkinkan respons yang lebih cepat, karena keputusan tidak selalu harus menunggu komando terpusat, sehingga petugas sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika hujan turun dengan intensitas tertentu.
Langkah ini menjadi penting karena banjir hari ini tidak selalu menunggu hujan ekstrem. Kadang hujan dengan intensitas sedang saja sudah cukup untuk memicu genangan jika bertemu dengan drainase yang penuh dan sungai yang dangkal. Di titik ini, kebijakan tidak cukup hanya reaktif. Ia harus bekerja sebelum hujan benar-benar jatuh.
Salah satu upaya preventif yang kini digunakan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). OMC dilakukan untuk mengurangi intensitas hujan di wilayah tertentu, terutama ketika potensi cuaca ekstrem terdeteksi.
Walaupun langkah ini bukan menjadi solusi utama, namun OMC bekerja di hulu persoalan, sementara pompa, waduk, dan drainase memainkan perannya masing-masing pada hilir. OMC membantu memberi jeda bagi Jakarta agar sungai tidak langsung meluap, sehingga pompa bisa bekerja optimal, dan warganya bisa bersiap lebih awal.
Pada hari pertama pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Jumat (16/1), dilakukan dua kali penerbangan penyemaian dengan total 1.600 kilogram Natrium Klorida (NaCl); yaitu pukul 13.28-14.48 WIB untuk tahap pertama dan disusul tahap kedua pada pukul 15.40-17.30 WIB.
Penyemaian difokuskan di wilayah perairan Selat Sunda untuk memicu turunnya hujan di laut, sehingga awan hujan tidak bergerak menuju daratan Jakarta. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi DKI Jakarta menjelaskan bahwa OMC merupakan langkah mitigasi dini dan preventif untuk menekan potensi hujan berintensitas tinggi yang dapat memicu genangan dan banjir di Jakarta, dengan seluruh pelaksanaan mengacu pada analisis meteorologi dan pemantauan cuaca terkini.
BMKG mencatat adanya penurunan signifikan curah hujan di Jabodetabek selama pelaksanaan OMC. Berdasarkan evaluasi sementara pada periode 16-22 Januari, selisih antara prakiraan dan realisasi curah hujan, berhasil menunjukkan penurunan hingga 39,57 persen.
Capaian ini menandakan OMC cukup efektif dalam menekan intensitas hujan lebat yang berpotensi memicu banjir, terutama di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem. Upaya ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan BMKG serta sejumlah provinsi lain.
Di sisi lain, pemerintah juga terus melakukan pekerjaan yang kadang tidak terlihat oleh publik karena sifatnya yang reguler, misalnya seperti pengerukan sungai, waduk, dan saluran air, termasuk perawatan rumah pompa, pembangunan tanggul, hingga penguatan sistem peringatan dini.
Meski begitu, harus diakui bahwa dari hari ke hari tantangan Jakarta terasa jauh lebih berat. Kepadatan penduduk membuat ruang air semakin terbatas. Alih fungsi lahan terjadi lebih cepat daripada pemulihan lingkungan. Perubahan iklim memperpendek jarak antara satu bencana dan bencana lainnya.
Walaupun berbagai upaya penanganan banjir terus dilakukan, situasi ini mengingatkan bahwa Jakarta membutuhkan kebijakan yang lebih strategis dan berjangka panjang, bukan semata penanganan yang bersifat insidentil setiap kali hujan deras datang. Respons cepat dan langkah teknis merupakan hal penting, tetapi jika tanpa perencanaan terpadu yang konsisten dari hulu ke hilir, banjir akan terus berulang dalam pola yang sama.
Dalam kondisi ini, tentunya pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perilaku masyarakat mulai dari pengelolaan sampah hingga kepatuhan terhadap tata ruang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari solusi. Ketika banjir terjadi, sikap saling membantu, menjaga ketertiban, dan upaya menahan diri dari konflik menjadi faktor penting agar dampak bencana tidak bertambah besar dan harmoni kehidupan tetap terpelihara.
Banjir selalu mengajarkan tentang kota yang seharusnya mampu hidup bersama air dengan pengelolaannya yang lebih bijak. Ketika hari ini, genangan mulai surut dan aktivitas kembali berjalan, pekerjaan kita belum selesai. Banjir adalah pesan dari alam tentang batas-batas kota yang butuh memastikan bahwa kebijakan, perencanaan, dan kesadaran publik bergerak seirama.
Sebab masa depan Jakarta bertumpu pada mereka yang menempatinya. Apakah kota ini akan terus mengulang cerita yang sama, atau mau mulai berproses menjadi ruang hidup yang lebih siap berdampingan dengan air.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


