Biasanya, museum selalu identik dengan ruang sunyi yang hanya ramai pada jam-jam tertentu. Tempat kunjungan sekolah, destinasi wisata siang hari, atau bangunan bersejarah yang dilewati tanpa benar-benar dikunjungi.
Seiring waktu, museum tak lagi bertahan pada cara lama, melainkan mulai membuka diri pada pendekatan yang berbeda. Museum Nasional, misalnya. Melalui program kunjungan malam dan berbagai pembaruan, museum ini mencoba hadir lebih dekat dengan ritme kota Jakarta.
Datang ke Museum Nasional pada malam hari, tentu memberi pengalaman yang berbeda. Suasana terasa lebih tenang. Lorong-lorong pameran tidak dipenuhi rombongan besar, dan waktu seakan berjalan lebih lambat dari biasanya.
Pengunjung bisa berhenti lebih lama di depan satu artefak, membaca keterangan tanpa terburu-buru, atau sekadar mengamati detail yang seringkali terlewat saat kunjungan siang. Malam, dengan caranya sendiri, membuat museum terasa lebih personal.
Wajah baru Museum Nasional mendukung pengalaman tersebut. Setelah revitalisasi, tata pamer dibuat lebih terang, rapi, dan komunikatif. Informasi tidak lagi disajikan dengan bahasa akademis yang kaku, melainkan narasi singkat yang membantu pengunjung memahami konteks. Koleksi yang ditampilkan mulai dari arca, prasasti, hingga benda etnografi tersusun dalam alur cerita yang lebih mudah dipahami.
Upaya ini juga terlihat dari program-program yang dirancang untuk memperluas akses kepada publik. Salah satunya adalah Akses Rabu Malam Untuk Semua (ARAMSA). Program ini memungkinkan pengunjung masuk museum dengan tarif Rp0 setiap Rabu pada minggu kedua di setiap bulannya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Kunjungan dapat dimulai pukul 16.00 hingga 20.00 WIB.
Di tengah penyesuaian harga tiket yang mulai berlaku sejak awal 2026, kebijakan ini menjadi penyeimbang penting, terutama bagi masyarakat yang ingin datang tanpa beban biaya.
Program Night at the Museum menambah daya tarik untuk berkunjung ke Museum Nasional yang menghadirkan suasana berbeda. Malam membuat museum terasa lebih reflektif. Artefak tidak hanya dilihat sebagai benda masa lalu, tetapi sebagai bagian dari perjalanan panjang manusia. Ada rasa hening yang memungkinkan pengunjung merenung sesuatu yang jarang ditemukan di ruang publik Jakarta.
Pada malam hari, kawasan museum tampil berbeda lewat pencahayaan tematik, termasuk sorotan cahaya bernuansa biru yang menghadirkan suasana menyerupai dunia bawah laut. Salah satu area yang paling menarik perhatian pengunjung adalah jembatan penghubung antara bangunan lama dan bangunan baru. Di area luar, video mapping animation juga diputar pada pukul 18.00 hingga 20.00 WIB, sehingga dapat dinikmati pengunjung sebelum memasuki ruang pameran Night at the Museum.
Menariknya, perubahan ini juga ikut mengubah profil pengunjung. Museum kini tidak hanya didatangi oleh pelajar, tetapi juga pekerja urban, keluarga muda, hingga wisatawan internasional yang ingin menikmati Jakarta dari sisi yang berbeda.
Museum Nasional menempati posisi penting dalam lanskap wisata budaya Jakarta. Berada berdampingan dengan Monumen Nasional, rasanya museum ini menjadi bagian dari jalur perjalanan yang mengajak pengunjung melangkah lebih jauh dari sekadar melihat ikon kota Jakarta. Museum Nasional menceritakan warisan budaya melalui ingatan kolektif akan sejarah dan identitas yang perlu untuk terus kita rawat.
Apa yang dilakukan Museum Nasional menunjukkan bahwa promosi kebudayaan terkadang yang dibutuhkan hanya perubahan cara pandang. Dengan memperpanjang jam kunjungan, menyederhanakan bahasa, dan menciptakan suasana baru yang lebih nyaman, museum menjadi ruang yang lebih inklusif dan sejarah tidak lagi terasa jauh, tetapi hadir dalam keseharian warga Jakarta.
Museum nasional dapat dikunjungi dengan rentang harga tiket Rp30.000-Rp50.000 khusus wisatawan domestik. Beroperasi mulai dari Selasa-Minggu pada pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Akses menuju Museum Nasional semakin mudah dengan transportasi publik.
Pengunjung dapat menggunakan TransJakarta rute 5C tujuan Juanda, kemudian turun di Halte Museum Nasional. Dari halte, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 130 meter atau kurang lebih dua menit waktu tempuh.
Jarak yang singkat ini membuat museum mudah dijangkau, bahkan bagi mereka yang ingin datang tanpa kendaraan pribadi dan menikmati Jakarta dengan berjalan kaki.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


