Bayangkan di suatu pagi, Kawan GNFI berubah menjadi serangga raksasa. Kaki kalian berubah jadi benang-benang halus, perut menjadi berbuku-buku, dan tubuh menjadi bau. Dalam kondisi seperti ini, apa yang akan Kawan lakukan? Minta tolong? Menangis? Mencari tahu penyebab dari kondisi ini?
Gregor Samsa, karakter utama dalam buku Metamorfosis karya Franz Kafka, yang suatu pagi terbangun dengan kondisi menjijikan seperti ini. Tidak memikirkan mengapa tubuhnya tiba-tiba berubah drastis. Hal yang mengusik pikirannya pada saat itu hanyalah fakta bahwa dirinya bangun terlambat dan tidak akan sempat mengejar kereta untuk pergi bekerja.
Pikiran Gregor diisi banyak ketakutan seperti takut dimarahi atasan, dianggap pemalas, dan dipotong gajinya karena terlambat datang ke tempat kerja. Dia tidak khawatir dengan fakta bahwa dirinya saat ini bukanlah manusia.
Di sini, dapat kita lihat betapa besar dampak kapitalisme terhadap kesejahteraan suatu individu, terutama individu yang berasal dari kelas pekerja.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai dampak kapitalisme, mari kita mengenal terlebih dahulu apa itu kapitalisme!
Apa itu Kapitalisme?
Menurut Karl Marx, kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada eksploitasi kelas pekerja oleh kelas pemilik modal. Kapitalisme memberikan keuntungan kepada pemilik modal karena laba dari suatu perusahaan sebagian besar diambil oleh pemilik modal. Sistem ini memberikan banyak kerugian untuk kelas pekerja. Nah, buku Metamorfosis karya Franz Kafka membahas dampak buruk kapitalisme yang dialami oleh kelas pekerja.
Gregor Samsa tidak takut dengan fakta bahwa dirinya sudah bukan manusia karena sejak dia tergabung dengan masyarakat kapitalis, dia sudah menganggap dirinya adalah mesin penghasil uang, bukan yang punya perasaan.
Latar Belakang Gregor Samsa dan Perasaan Alienasi
Gregor merupakan anak pertama dalam keluarga miskin yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Baginya, dirinya hanya akan bernilai ketika dia bisa menghasilkan uang untuk keluarganya.
Selain itu, dia juga menganggap dirinya hanya sekrup kecil dalam perangkat kapitalis bernama perusahaan yang bisa digantikan ketika sudah tidak berguna.
Apa yang dialami oleh Gregor ini sesuai dengan teori alienasi yang dipaparkan oleh Karl Marx. Menurutnya, kapitalis membuat seseorang merasa terasingkan dari hasil kerjanya, masyarakat, dan bahkan dari dirinya sendiri.
Hal ini membuat manusia menilai tiap individu berdasarkan apa yang telah dihasilkan, bukan apa yang telah dilakukan.
Pada era modern ini, dampak kapitalis terhadap alienasi suatu individu masih relevan. Misalnya, kita sering tanpa sadar membandingkan pencapaian diri sendiri dengan pencapaian orang lain yang kita lihat di media sosial.
Kita menilai diri kita berdasarkan apa yang sudah kita raih, bukan berdasarkan usaha yang telah dilakukan. Alienasi yang kita rasakan ini mirip seperti apa yang dirasakan oleh Gregor Samsa dalam buku Metamorfosis.
Selain menimbulkan alienasi, kapitalis juga menimbulkan ketimpangan nilai lebih antara buruh dengan pemilik modal.
Apa itu Ketimpangan Nilai Lebih?
Ketimpangan nilai lebih merupakan selisih nilai antara upah buruh dengan hasil proses produksi. Dalam sistem kapitalis, nilai lebih yang dihasilkan oleh para buruh diambil oleh para pemilik modal dengan tujuan mempertahankan kestabilan keuangan perusahaan.
Sistem ini membuat kelas pekerja mendapatkan upah seminimal mungkin yang hanya dapat mencukupi kebutuhan primer seperti kebutuhan makan dan transportasi.
Dalam buku Metamorfosis, kondisi ekonomi keluarga Gregor Samsa tidak mengalami kemajuan walaupun Gregor sudah bekerja bertahun-tahun. Uang yang dia hasilkan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan transportasi sehari-hari. Kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan masih belum terpenuhi.
Sayangnya di Indonesia, ketimpangan nilai lebih ini masih terjadi. Berdasarkan data yang diambil dari Badan Pusat Statistik Indonesia, penghasilan rata-rata para buruh per Agustus 2025 hanya sebesar Rp3.331.000.
Hal ini sangat memprihatinkan. Kebanyakan buruh di Indonesia masih hidup dengan upah minimum yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer. Individu yang mengalami hal ini akan kehilangan nilai aktualisasi diri. Mereka akan menganggap hidup adalah soal bekerja dan mencari makan, bukan soal mencari kesenangan.
Metamorfosis karya Franz Kafka mengkritik semua hal ini melalui kisah Gregor Samsa yang berubah menjadi serangga. Melalui buku ini, kita dapat melihat dan menyadari betapa kapitalisme memengaruhi kesejahteraan kita baik secara fisik maupun batin.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


