Di tengah laju Kabupaten Sidoarjo yang terus bergerak, seperti pelebaran jalan, ruko tumbuh, perumahan baru bermunculan, ada salah satu ruang yang tidak ikut berlari. Kampung Daleman, sebuah kampung di tepi Sungai Avoer Sidokare, tetap berada di tempatnya.
Bukan karena ia menolak perubahan, tetapi karena ritme hidupnya berbeda. Kampung ini berada di pusat Kabupaten Sidoarjo dan berada di Kelurahan Pekauman. Daleman merupakan kawasan riparian yang walaupun warganya sudah tidak lagi bergantung pada sungai sepenuhnya untuk hidup, tapi sungai tetap menjadi saksi perjalanan hidup Daleman beserta warga di dalamnya.
Sungai yang menjadi bagian dari kampung itu bukan sekadar aliran air. Ia adalah penanda waktu. Pagi hari dimulai dengan aktivitas yang nyaris tak terdengar dari jalan besar: ember ditimba, cucian dibilas, anak-anak berlarian bersama berangkat ke sekolah.
Di saat yang sama, hanya beberapa ratus meter dari sana, motor dan mobil saling mendahului di jalan besar, membawa orang-orang menuju kantor, pabrik, dan pusat belanja menuju ke tempatnya masing-masing.
Pertokoan di Jalan Raden Patah pun juga menjadi bagian dari Daleman yang masih menyimpan bentuk tata ruang pasca kolonial. Sedangkan perumahan warga di kampung yang nyaris tak terlihat dari jalan besar itu tetap hidup dengan sungai yang menyimpan memori warga yang telah tinggal lama di Daleman.
Kontras itu tidak terasa mencolok jika hanya dilihat sepintas. Namun bagi warga Kampung Daleman, keberadaan sungai justru menegaskan posisi mereka: berada di tengah kota modern, tetapi hidup dengan ritmenya sendiri.
Sungai pun juga menyimpan memori bersama yang terus tertanam dalam benak warga Daleman yang lahir dan tumbuh besar di kampung tersebut. Berenang bersama atau bermain beberapa permainan seperti bermain bola, egrang, dan patil lele di sekitar tepi sungai semasa mereka kecil menjadi kronik yang tersimpan di dalam memori.
Modernitas di Sidoarjo sering kali hadir dalam bentuk kecepatan, akses, efisiensi, target. Di Kampung Daleman, hidup masih diukur lewat kebiasaan. Sungai menentukan banyak hal: kapan air naik maupun kapan sampah terbawa arus.
Namun kampung ini bukan ruang yang pasif. Justru sebaliknya. Di tengah keterbatasan ruang dan perhatian, warga Kampung Daleman terus beradaptasi. Rumah-rumah berdempetan, gang-gang sempit pun menjadi ruang sosial.
Di situlah obrolan berlangsung, informasi menyebar, dan rasa saling memiliki (sense of belonging) dibangun. Rasa saling memiliki ini juga semakin tumbuh walau banyak pendatang baru juga yang tinggal di Daleman seiring berjalannya waktu.
Yang sering luput dari pandangan adalah bagaimana kerja-kerja sunyi menopang keberlangsungan kampung ini. Perempuan memainkan peran besar dalam menjaga ritme hidup sehari-hari: mengelola rumah, mengatur ekonomi kecil-kecilan, memastikan anak-anak tetap sekolah meski lingkungan sekitar tak selalu mendukung. Di tepi sungai yang kerap dipersepsikan sebagai “belakang” kota, justru berlangsung kerja sosial yang paling mendasar.
Kampung Daleman juga tidak sepenuhnya terisolasi dari modernitas. Banyak warganya bekerja di sektor formal, pabrik, atau jasa di luar kampung. Namun setiap sore atau malam, mereka kembali ke ruang yang bergerak lebih lambat. Sungai menjadi batas yang tidak tertulis antara dunia kerja dan dunia pulang.
Di sinilah letak ketegangan yang menarik: Kampung Daleman tidak menolak modernitas, tetapi juga tidak sepenuhnya tunduk padanya. Ia hidup di antaranya. Modernitas lewat di sekeliling kampung, tetapi tidak selalu masuk dan memperbaiki. Sungai tetap hidup mengalir dengan suara sunyi, ruang tetap sempit, dan kampung tetap jarang disebut dalam narasi besar pembangunan Sidoarjo.
Sering kali, kampung-kampung seperti Daleman hanya muncul ketika ada masalah: banjir, sanitasi, atau masalah perekonomian. Padahal, di luar momen-momen itu, kampung ini adalah ruang hidup yang terus berjalan. Ia menyimpan cerita tentang bertahan, beradaptasi, dan membangun kehidupan di tengah keterbatasan.
Melihat Kampung Daleman berarti melihat sisi lain dari Sidoarjo modern. Sebuah sisi yang dilihat bukan dalam baliho pembangunan atau laporan statistik. Di tepi sungai itu, modernitas tidak hadir sebagai janji, melainkan sebagai latar. Yang benar-benar bekerja menjaga keberlangsungan hidup adalah manusia, kebiasaan, dan relasi sosial yang terbangun dari hari ke hari.
Kampung Daleman mengingatkan bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari seberapa cepat ia bergerak, tetapi juga dari ruang-ruang yang ia biarkan tetap hidup, meski bergerak pelan, di tengah laju yang tak pernah berhenti.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


