Uni Eropa menegaskan kembali posisinya yang melihat ASEAN sebagai mitra strategis utama di tengah perubahan geopolitik global dan melemahnya kepemimpinan internasional Amerika Serikat.
Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Sujiro Seam, menyatakan bahwa dinamika global saat ini mendorong kawasan Asia Tenggara untuk menjaga keseimbangan dan memperkuat kemitraan yang stabil serta dapat diprediksi.
Menurutnya, perubahan pendekatan Amerika Serikat terhadap kawasan justru membuka ruang bagi Uni Eropa untuk memperdalam hubungan dengan ASEAN.
“Itulah yang sering kita sebut sebagai pergeseran lanskap geopolitik, istilah yang sopan dan halus untuk merujuk pada perubahan pendekatan Amerika Serikat terhadap kawasan ini,” ujar Sujiro saat EU’s Media New Year Gathering di Jakarta, Senin (26/1/2026).
Ia menambahkan bahwa ASEAN berada pada posisi penting karena berupaya menjaga keseimbangan di tengah perubahan tersebut. “Di kawasan ini, Asia Tenggara, ASEAN berusaha menjaga keseimbangan karena harus menghadapi perubahan sikap AS,” katanya.
Tahun 2025 sebagai Titik Penting Hubungan UE–ASEAN
Sujiro menyebut tahun 2025 sebagai salah satu periode terbaik dalam hubungan Uni Eropa dan ASEAN. Peningkatan ini ditandai oleh intensitas dialog politik tingkat tinggi serta keterlibatan langsung pimpinan Uni Eropa dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN.
Menurutnya, perkembangan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan dan kesamaan pandangan antara kedua kawasan dalam menghadapi tantangan global.
Ia menilai dunia saat ini bergerak menuju tatanan multipolar, tanpa satu kekuatan dominan. Dalam konteks tersebut, kerja sama antar kawasan menjadi semakin relevan.
“Kita hidup di dunia multipolar, tanpa kekuatan dominan lagi, dengan Amerika Serikat yang telah menyerah pada kepemimpinan internasionalnya dalam konteks multilateral,” ujar Sujiro.
Ia menegaskan bahwa dalam kondisi tersebut, pendekatan kawasan-ke-kawasan memiliki nilai strategis yang lebih kuat dibandingkan hubungan bilateral semata.
Menuju 50 Tahun Hubungan UE–ASEAN
Menjelang peringatan 50 tahun hubungan Uni Eropa dan ASEAN pada 2027, Uni Eropa mengemukakan dua gagasan utama. Gagasan pertama adalah mendorong penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN–Uni Eropa yang mempertemukan seluruh pemimpin dari kedua kawasan.
Gagasan kedua adalah peningkatan status hubungan dari strategic partnership menjadi comprehensive strategic partnership.
Menurut Sujiro, peningkatan status tersebut akan mencerminkan kedalaman dan keragaman kerja sama yang telah terbangun. “Kami yakin bahwa kedalaman dan keragaman kemitraan kami dengan ASEAN akan meningkatkan status Uni Eropa di antara mitra dialog ASEAN,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Saatnya bagi kami untuk membayangkan peningkatan status menjadi kemitraan strategis komprehensif.”
Namun, Sujiro menegaskan bahwa peningkatan status ini tidak bersifat simbolik. Menurutnya, perubahan tersebut harus diikuti oleh intensitas kerja sama yang lebih tinggi di berbagai sektor, termasuk politik, ekonomi, serta hubungan antar masyarakat.
Perdagangan sebagai Pilar Utama Kerja Sama
Di sektor ekonomi, Uni Eropa tetap menempatkan perjanjian perdagangan bebas kawasan-ke-kawasan sebagai tujuan jangka panjang hubungan dengan ASEAN.
Meski demikian, dalam jangka pendek Uni Eropa memilih pendekatan bertahap melalui perjanjian perdagangan bilateral sebagai fondasi menuju kesepakatan regional.
Saat ini, Uni Eropa telah memiliki perjanjian perdagangan dengan Singapura dan Vietnam. Selain itu, perundingan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Indonesia telah diselesaikan, meskipun masih menunggu proses persetujuan hukum sebelum dapat berlaku efektif.
Negosiasi perjanjian serupa juga sedang berlangsung dengan Thailand, Malaysia, dan Filipina.
“Antara sekarang dan 2027, kami akan terus bekerja pada perjanjian perdagangan bebas bilateral, ekonomi digital, teknologi hijau, dan rantai pasokan,” ujar Sujiro.
Ia menambahkan bahwa setelah fondasi tersebut terbentuk, “pada 2027, kami akan berada dalam posisi untuk kembali membahas isu perjanjian perdagangan bebas antar wilayah.”
Lingkungan, Teknologi, dan Pendekatan Regulasi
Selain perdagangan, Uni Eropa menekankan kerja sama konkret di bidang lingkungan, teknologi, dan transisi hijau. Uni Eropa telah mendanai berbagai proyek lingkungan dan iklim bernilai puluhan juta euro, termasuk dukungan terhadap biodiversitas dan transisi energi.
Sujiro menegaskan bahwa Uni Eropa saat ini menjadi satu-satunya mitra yang mengalokasikan kapasitas dan sumber daya bagi Pusat Transisi Hijau ASEAN untuk usaha mikro, kecil, dan menengah.
Di bidang teknologi, Uni Eropa terlibat aktif dalam dialog ASEAN terkait kecerdasan buatan, tata kelola platform digital, riset, dan inovasi.
“Teknologi, pendanaannya, penelitian, dukungan bagi bisnis inovatif, serta regulasi teknologi baru sudah menjadi topik yang kita bahas bersama menuju 2027,” ujar Sujiro.
Terkait isu deforestasi, Uni Eropa memilih pendekatan dialog dan penyesuaian kebijakan. “Kami memutuskan untuk menunda pemberlakuan peraturan deforestasi Uni Eropa,” kata Sujiro.
Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk memberikan waktu bagi Uni Eropa dan negara-negara ASEAN menentukan pendekatan terbaik secara bersama-sama.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Uni Eropa menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemitraan jangka panjang dengan ASEAN yang berbasis pada kerja sama multilateral, kepentingan bersama, dan stabilitas kawasan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


