dari bingata sampai chanpur benarkah ada pengaruh budaya indonesia di okinawa jepang - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Bingata Sampai Chanpurū, Benarkah Ada Pengaruh Budaya Indonesia di Okinawa Jepang?

Dari Bingata Sampai Chanpurū, Benarkah Ada Pengaruh Budaya Indonesia di Okinawa Jepang?
images info

Dari Bingata Sampai Chanpurū, Benarkah Ada Pengaruh Budaya Indonesia di Okinawa Jepang?


Bukan sebagai negara penjajah dan terjajah, hubungan Indonesia dengan Jepang ternyata sudah terjadi sejak abad ke-15 Masehi. Adalah Kerajaan Ryukyu, sebuah kerajaan maritim yang makmur dan strategis di Kepulauan Ryukyu, Jepang, yang memulainya.

Di masa lalu, pedagang Ryukyu berlayar jauh dan menyambangi sentra perdagangan di Asia Tenggara, seperti Siam (kini Thailand), Malaka, Jawa, dan Palembang. Mereka mengangkut besi, bahan obat, keramik, sampai kain-kain asal Tiongkok ke Nusantara.

Selain menjual, pedagang Ryukyu juga membeli bahan-bahan khas yang biasa ditemui di Nusantara, seperti tebu, kayu manis, pala, lada, dan sebagainya. Dari sinilah ada pertukaran budaya yang kemudian mendorong terciptanya budaya khas Okinawa yang sedikit berbeda dengan Jepang daratan.

Pengaruh Budaya Indonesia di Okinawa

Goya chanpuru | Nesnad/WikimediaCommons
info gambar

Goya chanpuru | Nesnad/WikimediaCommons


Pertukaran budaya di masa lalu “membentuk” pola-pola unik di masa sekarang. Perdagangan dan interaksi yang dilakukan oleh orang-orang Kerajaan Ryukyu dengan masyarakat Nusantara, khususnya pedagang Jawa dan beberapa daerah Indonesia, menghasilkan karya budaya yang tak ternilai harganya.

Salah satu pengaruh budaya yang konon dikatakan dari Nusantara adalah Chanpurū (Okinawa: チャンプルー Canpuruu. Chanpurū adalah tumisan khas Okinawa yang umumnya terbuat dari tahu dan dikombinasikan dengan berbagai jenis bahan lain, seperti sayuran, daging, atau ikan. Makanan ini dianggap sebagai hidangan representatif yang sangat menggambarkan Okinawa.

baca juga

Jenis Chanpurū yang sering dijumpai adalah goya chanpurū alias oseng pare. Namun, terdapat varian lainnya, seperti tofu chanpurū (tahu), mamina chanpurū (campuran telur, daging, dan tauge), fu chanpurū (sejenis tepung), dan somen chanpurū (mi somen).

Cara membuatnya sangat mudah. Semua bahan masakan itu hanya perlu ditumis dengan sedikit minyak di atas api kecil.

Dalam sebuah unggahan di akun Facebook milik Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, di bahasa Okinawa, Chanpurū berarti “sesuatu yang bercampur”. Ini merupakan contoh hasil campuran dari berbagai budaya, mulai dari budaya asli Okinawa itu sendiri, Tiongkok, Jepang daratan, Asia Tenggara, sampai Amerika Utara.

Bahkan, istilah “chanpurū” dikatakan berasal dari bahasa Indonesia dan Melayu, yakni “campur” yang juga memiliki arti sama. Secara visual, chanpurū memang tampak serupa dengan olahan oseng yang lumrah ditemukan di Indonesia.

Bingata | Bruno Cordioli/WikimediaCommons
info gambar

Bingata | Bruno Cordioli/WikimediaCommons


Budaya lain yang dipercaya mendapatkan pengaruh dari Indonesia adalah Bingata. Bingata adalah kain tekstil yang diproduksi secara tradisional dengan menggambar dan mencelupkan kain ke dalam pewarna.

Sebenarnya tidak ada catatan khusus yang menunjukkan asal muasal Bingata ini. Namun, banyak yang percaya jika kain ini merupakan salah satu bentuk pertukaran budaya yang pernah dilakukan Kerajaan Ryukyu dengan beberapa wilayah di luar Okinawa, salah satunya Jawa, di abad ke-14 atau ke-15 dahulu.

Menyadur dari laman Ryukyu Treasures, Bingata muncul dengan memadukan teknik stensil asal Tiongkok, pewarnaan Yuzen Jepang, dan sarasa di India dan Jawa. Lebih lanjut, melalui Conde Nast Traveler—majalah perjalanan terkemuka dunia—Bingata terinspirasi dari tekstil impor yang menggunakan teknik pewarnaan rintang (resist dying) seperti yang lumrah ditemukan di kain nankeen asal Tiongkok dan batik dari Indonesia.

Bingata memiliki motif yang hampir mirip dengan batik Indonesia. Pewarnaannya juga cenderung “berani”. Bahan yang dipakai pun juga mengutamakan penggunaan bahan alami.

Zaman dahulu, Bingata digunakan oleh keluarga kerajaan dan kelas atas untuk melambangkan status sosial mereka yang tinggi. Biangata juga diakui sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO sejak 2020 lalu karena signifikansi budaya dan kerajinannya yang unik.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.