Cendrawasih kuning besar adalah ikon keindahan hutan Papua yang kerap disebut burung surga. Nama lokalnya cendrawasih kuning besar, dengan nama ilmiah Paradisaea apoda. Burung ini dikenal dunia karena bulunya yang memesona dan tarian kawin yang teatrikal.
Sejak abad keenam belas, kisahnya beredar dari Nusantara ke Eropa, memantik imajinasi tentang makhluk surgawi. Antonio Pigafetta mencatatnya dalam laporan pelayaran Magellan tahun 1524, menyebutnya burung dari taman firdaus. Sejak itu, cendrawasih menjadi simbol keindahan alam tropis yang sulit ditandingi.
Asal-usul sebutan burung surga lahir dari kesalahpahaman sejarah yang panjang. Spesimen cendrawasih yang dibawa ke Eropa sering tanpa kaki dan sayap. Pedagang lokal sengaja mengawetkannya demikian untuk hiasan ritual. Orang Eropa mengira burung ini tak pernah mendarat.
William Swainson kemudian memberi nama Paradisaea apoda pada 1825, berarti cendrawasih tanpa kaki. Namun, mitos itu justru mengangkat reputasi estetisnya. Hingga kini, sebutan Bird of Paradise melekat kuat dalam literatur ilmiah dan budaya populer.
Secara fisik, cendrawasih kuning besar tergolong burung berukuran besar. Panjang tubuh jantan bisa mencapai lebih dari 40 sentimeter. Sayapnya lebar dan membulat, mendukung gerakan lompat dan kepakan saat menari.
Ekornya panjang dengan hiasan bulu yang mengalir lembut. Kepala jantan berwarna hijau zamrud berkilau dengan paruh pucat kebiruan. Betina tampil jauh lebih sederhana. Seluruh tubuhnya cokelat kusam, berfungsi sebagai kamuflase alami saat mengerami telur.

Jantan mencapai kematangan seksual penuh setelah lima hingga tujuh tahun. (Foto: Fabian S.R.)
Perbedaan bulu jantan dan betina sangat mencolok dan disebut dimorfisme seksual. Jantan memiliki bulu hias kuning keemasan dan putih di sisi tubuh. Bulu itu ditegakkan ke atas punggung saat musim kawin. Dada jantan berwarna hitam legam, kontras dengan kilau kuningnya.
Betina tidak memiliki bulu hias tersebut. Warna cokelatnya membantu bersembunyi dari predator. Menurut Richard Prum dalam The Evolution of Beauty tahun 2017, perbedaan ini hasil seleksi seksual ekstrem oleh betina.
Keunikan utama cendrawasih kuning besar terletak pada perilaku kawinnya. Burung ini menganut sistem lek, di mana jantan menari di arena terbuka. Betina datang sebagai penonton sekaligus penilai. Jantan meloncat, mengepakkan sayap, dan menahan pose dramatis.
Gerakan ini disebut wing pose, pump, bow, dan dance. Penelitian di Taman Nasional Wasur tahun 2013 menunjukkan tarian dilakukan intens antara pukul delapan hingga siang. Inilah alasan kuat mengapa ia disebut jago menari.
Habitat alami cendrawasih kuning besar terbatas di Papua bagian selatan dan Kepulauan Aru. Burung ini menyukai hutan hujan tropis dataran rendah yang lembap dan stabil. Curah hujan mencapai lebih dari 3.000 milimeter per tahun.
Kanopi hutan rapat dengan tinggi rata-rata 24 meter. Lingkungan ini menyediakan buah melimpah dan dahan kuat untuk lek. Penelitian Balai Taman Nasional Wasur tahun 2013 menegaskan pentingnya hutan primer bagi perilaku kawin spesies ini.
Makanan utama cendrawasih kuning besar adalah buah-buahan hutan. Ficus dan Mangifera menjadi sumber favorit. Serangga dan artropoda melengkapi asupan proteinnya. Pola makan ini menjadikannya agen penyebar biji penting.
Dalam ekologi hutan Papua, perannya krusial menjaga regenerasi vegetasi. Jared Diamond menulis dalam Guns, Germs, and Steel edisi revisi 2005 bahwa burung frugivora besar berperan besar menjaga keanekaragaman tropis.
Dalam klasifikasi ilmiah, cendrawasih kuning besar termasuk famili Paradisaeidae. Famili ini memiliki 44 spesies dalam 17 genus. Kerabat terdekatnya adalah burung gagak dan jay.
Studi DNA mitokondria oleh Irestedt tahun 2009 menunjukkan keluarga ini muncul sekitar 24 juta tahun lalu. Paradisaea apoda berada satu klad dengan Paradisaea raggiana. Di beberapa wilayah, keduanya bahkan membentuk hibrida alami, seperti ditemukan di Wasur.
Soal reproduksi, cendrawasih kuning besar tergolong lambat matang. Jantan mencapai kematangan seksual penuh setelah lima hingga tujuh tahun. Betina biasanya bertelur satu butir saja. Sarang dibuat dari daun dan sulur, diletakkan di cabang tinggi.
Masa pengeraman berlangsung sekitar 18 hingga 22 hari. Anak diasuh betina seorang diri. Pola ini membuat populasinya rentan terhadap gangguan lingkungan dan perburuan.
Umur cendrawasih di alam liar diperkirakan mencapai 15 hingga 20 tahun. Dalam penangkaran, umur bisa lebih panjang jika habitat mendekati alami. Penangkaran memerlukan perhatian ketat pada ruang, pakan, dan ketenangan. Burung ini sangat sensitif terhadap stres. Suara keras saja bisa menghentikan perilaku kawin. Oleh karena itu, banyak ahli menyarankan konservasi berbasis habitat, bukan sekadar penangkaran intensif.

Populasi cendrawasih kuning besar pernah terancam akibat perburuan bulu. Pada awal abad kedua puluh, bulunya populer sebagai aksesori mode Eropa. Kini, ancaman utama datang dari deforestasi dan fragmentasi hutan. IUCN menilainya berisiko rendah, tetapi tren menurun tetap terlihat. CITES memasukkannya dalam Apendiks II. Artinya, perdagangan harus dikontrol ketat untuk mencegah kepunahan.
Dalam budaya Papua, cendrawasih bukan sekadar burung indah. Ia simbol status, keberanian, dan hubungan dengan leluhur. Mitos menyebut bulunya membawa berkah dan perlindungan. Namun, kesadaran konservasi kini mulai menggantikan eksploitasi. Ekowisata pengamatan burung berkembang pesat.
Laporan National Geographic Indonesia, “Surga Burung di Tanah Papua”, 12 Agustus 2018, mencatat turisme burung mengurangi perburuan lokal. Dengan menjaga hutannya, cendrawasih kuning besar bisa terus menari, anggun dan bebas, di panggung alam Papua.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


