sikatan kipas burung bernyanyi malam hari - News | Good News From Indonesia 2026

Sikatan Kipas, Burung Cantik yang Sering Bernyanyi di Malam Hari

Sikatan Kipas, Burung Cantik yang Sering Bernyanyi di Malam Hari
images info

Sikatan Kipas, Burung Cantik yang Sering Bernyanyi di Malam Hari


Di balik rimbunnya hutan tropis, taman kota, dan kebun-kebun yang teduh, hidup burung kecil yang sering membuat kita penasaran. Berukuran mungil dan bergerak lincah, sikatan kipas (Rhipidura spp.) adalah burung yang menarik perhatian banyak pemerhati satwa.

Keunikannya bukan hanya terletak pada ekor yang berkembang seperti kipas, tetapi juga pada suara kicauannya yang merdu, bahkan sering terdengar pada malam hari.

Sikatan kipas berasal dari keluarga Rhipiduridae dan termasuk dalam ordo Passeriformes atau burung pengicau. Dalam klasifikasi ilmiah, genus Rhipidura mencakup lebih dari 40 spesies yang tersebar di wilayah Asia, Asia Tenggara, Australia, dan Kepulauan Pasifik.

Sikatan Kipas ekor hitam putih (Gambar: Fabian S.R.)
info gambar

Sikatan Kipas ekor hitam putih (Gambar: Fabian S.R.)


Variasi spesies ini menunjukkan beragam warna, ukuran, dan perilaku yang unik, tetapi semuanya tetap memiliki ciri khas berupa ekor berbentuk kipas yang sering digerakkan aktif saat mencari makanan (Encyclopaedia Britannica, 2025).

Sikatan Kipas dan Spesiesnya di Indonesia

Indonesia sendiri memiliki jumlah spesies sikatan kipas yang cukup banyak. Beberapa di antaranya termasuk burung endemik seperti kipasan belang (Rhipidura javanica), yang sering terlihat di hutan sekunder, pekarangan, bahkan di hutan mangrove hingga ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.

Bulu tubuhnya memiliki kombinasi warna abu-abu, putih, dan hitam yang menciptakan pola yang kontras dan menarik di alam liar (Bali Wildlife, 2026).

baca juga

Ukuran tubuh sikatan kipas biasanya berkisar antara 15 hingga 20 sentimeter dari ujung paruh hingga ekor. Lehernya kecil, sayapnya meruncing, dan ekornya yang panjang menjadi alat utama saat mereka mengejar serangga di udara.

Ekor yang dibentangkan menyerupai kipas memungkinkan mereka meningkatkan kelincahan saat menangkap mangsa kecil seperti lalat, semut terbang, kupu-kupu kecil, dan berbagai jenis serangga bersayap lainnya.

Aktif dan enerjik, burung ini kerap melesat dari satu cabang ke cabang lain dalam tempo cepat. Burung ini adalah predator alami bagi serangga-serangga kecil pengganggu.

Sikatan Kipas jadi Indikator Serangga dan Vegetasi Seimbang

Dalam konteks lingkungan yang sehat, keberadaan sikatan kipas menjadi indikator bahwa populasi serangga dan vegetasi masih dalam kondisi seimbang. Tanpa mereka, jumlah serangga bisa meningkat drastis dan berpotensi mengganggu tanaman serta kesehatan manusia.

Anak burung ekor kipas umur 2 minggu (Foto: Fabian S.R.)
info gambar

Anak burung ekor kipas umur 2 minggu (Foto: Fabian S.R.)


Walaupun terlihat lincah dan adaptif, beberapa spesies sikatan kipas menghadapi tantangan serius akibat perubahan lingkungan. Deforestasi, kerusakan hutan, dan konversi lahan untuk pertanian atau pemukiman manusia mengancam habitat alami mereka.

Sikatan kipas tidak memilih habitat sempit. Mereka mampu hidup di berbagai jenis lingkungan, dari hutan hujan tropis primer hingga semak belukar dan taman kota bervegetasi.

Mereka sering ditemukan juga di lingkungan yang dimodifikasi manusia, selama terdapat cukup pepohonan dan populasi serangga yang memadai.

Sebaran geografisnya mencakup wilayah yang sangat luas: mulai dari India dan Asia Selatan, melintasi Asia Tenggara termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina, hingga mencapai Australia dan Kepulauan Pasifik seperti Fiji dan Samoa.

Beberapa spesies bahkan hidup di wilayah pegunungan hingga ketinggian tertentu, menunjukkan fleksibilitas ekologis yang tinggi.

baca juga

Spesies Burung Kipasan di Indonesia

Di Indonesia, selain Rhipidura javanica, terdapat pula spesies seperti kipasan dada lurik (Rhipidura rufiventris) yang tersebar di Papua dan wilayah timur Nusantara, serta kipasan gunung (Rhipidura albicollis) yang hidup di dataran tinggi seperti Sumatra dan Kalimantan.

Setiap spesies memiliki corak warna dan ukuran tubuh yang khas, tidak identik satu sama lain meskipun memiliki kesamaan garis besar morfologi.

Membedakan jantan dan betina sikatan kipas bukan pekerjaan mudah. Kebanyakan spesies tidak menunjukkan dimorfisme seksual yang mencolok, yaitu perbedaan warna bulu yang jelas antara jantan dan betina.

Pada banyak jenis, kedua jenis kelamin memiliki warna bulu yang mirip. Namun, beberapa spesies menunjukkan sedikit perbedaan dalam ukuran tubuh dan kompleksitas suara kicauan.

Jantan sering kali memiliki warna yang sedikit lebih cerah dan repertoar kicauan yang lebih kompleks. Betina cenderung memiliki bulu yang lebih kusam dan suara yang tidak begitu bervariasi dibandingkan jantan.

Perbedaan ini semakin jelas saat musim kawin, ketika jantan aktif bernyanyi dan mempertahankan wilayahnya.

Salah satu fenomena yang membuat sikatan kipas menarik adalah kebiasaan bernyanyi pada waktu yang tidak biasa. Berbeda dengan banyak burung pengicau yang aktif berkicau di pagi dan sore hari, beberapa jenis sikatan kipas, terutama yang hidup di daerah urban atau dekat permukiman manusia, sering terdengar berkicau hingga malam hari.

Fenomena ini tidak sepenuhnya dipahami sebagai perilaku universal bagi semua spesies binatang tersebut. Ada beberapa kemungkinan alasannya!

Pada musim kawin, jantan sering berkicau di malam hari untuk menarik perhatian betina dan menandai wilayahnya, terutama di area yang memiliki banyak sumber suara lain di siang hari.

Paparan cahaya buatan di kota juga dapat mengubah ritme harian burung sehingga mereka tetap aktif berkicau lebih lama.

Kicauan malam hari juga bisa menjadi bentuk komunikasi teritorial antara jantan yang saling bersaing.

Induk ekor kipas betina sedang memberi makan anaknya (Foto: Fabian S.R.)
info gambar

Induk ekor kipas betina sedang memberi makan anaknya (Foto: Fabian S.R.)


Namun demikian, kicauan malam hari ini lebih sering dilaporkan pada populasi yang hidup di lingkungan yang padat aktivitas manusia dibandingkan populasi yang masih hidup di hutan primer.

Sikatan kipas memiliki dua teknik utama dalam mencari makan. Pertama adalah pencarian statis, di mana burung bertengger di satu titik, mengawasi serangga yang terbang di sekitarnya, kemudian terbang cepat menangkapnya sebelum kembali ke tempat semula.

baca juga

Teknik kedua disebut pencarian progresif, yaitu bergerak di antara dedaunan dan ranting sambil terus mencari dan mengejar serangga.

Teknik ini sangat efisien karena membantu burung menemukan mangsa yang tersembunyi sekaligus mendapatkan berbagai jenis serangga yang tersebar di area vegetasi. Kelincahan mereka saat terbang membantu menangkap serangga yang lebih cepat dan sulit dilemparkan.

Sikatan kipas sering memilih lokasi bertengger dan membangun sarang di daerah vegetasi rendah. Sarang mereka biasanya berbentuk cawan kecil yang rapi, terbuat dari batang rumput, lumut, dan jaring laba-laba yang kuat. Proses pembuatan sarang ini melibatkan kedua induk secara aktif.

Jumlah telur yang dihasilkan dalam satu musim bervariasi, tetapi rata-rata mencapai dua sampai empat butir. Induk betina biasanya yang melakukan pengeraman, sementara jantan bertugas mencari makanan dan melindungi wilayah dari pesaing.

Setelah telur menetas, kedua induk terlibat dalam merawat anak-anak hingga mampu terbang sendiri.

Peran sikatan kipas dalam menjaga keseimbangan ekosistem tidak dapat diremehkan. Sebagai predator alami serangga, mereka membantu mengendalikan populasi hama yang dapat merusak tanaman dan menyebarkan penyakit.

Keberadaan mereka di area hutan dan taman kota menunjukkan bahwa habitat itu masih mendukung kehidupan satwa liar.

Melindungi sikatan kipas dan habitatnya berarti juga melindungi keanekaragaman hayati yang lebih luas. Ruang hijau yang lestari bukan hanya tempat bagi burung ini, tetapi juga bagi berbagai jenis flora dan fauna lain yang saling bergantung satu sama lain

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.