Sampai sekarang banyak pihak sibuk mencari The Next Bali, padahal di lingkar dada Sumbawa, Teluk Saleh sedang mengajarkan dunia bagaimana manusia dan raksasa laut (hiu paus) bisa hidup berdampingan tanpa saling menyakiti. Paradigma pariwisata Indonesia kerap terjebak pada pembangunan infrastruktur fisik semata.
Padahal, kekayaan sejati nusantara justru terletak pada keaslian ekosistem yang belum tersentuh beton. Kawan GNFI perlu menyadari bahwa Teluk Saleh menawarkan sebuah antitesis dari pariwisata massal.
Destinasi tersebut bukan sekadar tempat berlibur, melainkan sebuah laboratorium hidup mengenai konservasi maritim. Di perairan tenang Sumbawa, konsep ekowisata menemukan bentuk paling ideal.
Menemukan Harmoni di Balik Perairan Tenang
Teluk Saleh memiliki topografi unik yang membuatnya berbeda dari perairan terbuka lainnya di Indonesia. Secara geografis, kawasan tersebut merupakan teluk semi-tertutup yang dikelilingi oleh daratan Sumbawa dan Dompu.
Kondisi alamiah tersebut menciptakan sirkulasi air yang tenang serta kaya nutrisi, menjadikan lokasi tersebut rumah nyaman bagi Rhincodon typus atau hiu paus. Kawan GNFI dapat membayangkan interaksi dengan satwa liar selalu membutuhkan jarak jauh. Namun di Teluk Saleh, interaksi tersebut terjadi begitu cair dan alami di sekitar bagan-bagan nelayan.
Para nelayan setempat tidak menganggap hiu paus sebagai hama pengganggu tangkapan ikan. Justru sebaliknya, raksasa lembut tersebut dianggap sebagai pembawa berkah. Simbiosis mutualisme terjalin ketika hiu paus memakan ikan-ikan kecil di sekitar jaring bagan, sementara nelayan mendapatkan atraksi wisata yang bernilai ekonomi tinggi.
Pola interaksi harmonis tersebut jarang ditemukan di belahan dunia lain. Biasanya, kawasan konservasi memisahkan manusia dari satwa secara tegas. Namun, Teluk Saleh membuktikan bahwa kehadiran manusia jika dikelola dengan bijak dapat mendukung keberlangsungan hidup satwa liar.
Kearifan lokal masyarakat pesisir Sumbawa menjadi fondasi utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem tersebut. Tanpa perlu instruksi rumit, masyarakat paham bahwa menjaga hiu paus berarti menjaga piring nasi keluarga. Kesadaran kolektif tersebut jauh lebih efektif daripada pagar pembatas buatan.
Hal tersebut yang menjadikan Teluk Saleh sebuah blueprint atau cetak biru bagaimana pariwisata berbasis masyarakat seharusnya berjalan. Bukan investor asing yang memegang kendali utama, melainkan komunitas lokal yang hidup berdampingan dengan alam sejak lama.
Transformasi Ekonomi Berbasis Pelestarian Alam
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mengambil langkah progresif dengan mendorong Teluk Saleh sebagai kawasan konservasi berbasis biota. Langkah tersebut tertuang jelas dalam berbagai regulasi daerah yang mengatur tata kelola hiu paus. Kawan GNFI harus melihat kebijakan tersebut sebagai terobosan besar.
Fokus utamanya bukan lagi eksploitasi hasil laut sebanyak-banyaknya, melainkan pemanfaatan jasa lingkungan yang berkelanjutan. Model ekonomi biru (blue economy) benar-benar diterapkan secara nyata di lapangan.
Wisatawan yang datang tidak dibiarkan bebas melakukan apa saja. Terdapat aturan ketat mengenai jumlah pengunjung, jarak interaksi, hingga durasi penyelaman. Pembatasan tersebut dilakukan demi menjaga carrying capacity atau daya dukung lingkungan. Jika pariwisata massal mengejar kuantitas kunjungan, Teluk Saleh mengejar kualitas pengalaman.
Pendekatan tersebut memastikan bahwa hiu paus tidak mengalami stres akibat kehadiran manusia yang berlebihan. Nilai ekonomi yang dihasilkan dari satu ekor hiu paus yang hidup jauh lebih besar dibandingkan jika satwa tersebut ditangkap.
Transformasi pola pikir dari ekstraktif menuju konservatif menjadi kunci keberhasilan kawasan tersebut. Dinas Kelautan dan Perikanan setempat bersama mitra lembaga swadaya masyarakat terus melakukan pemantauan rutin.
Data menunjukkan bahwa populasi hiu paus di sana didominasi oleh individu muda yang menjadikan teluk tersebut sebagai tempat pengasuhan (nursery ground). Fakta tersebut menegaskan pentingnya perlindungan habitat secara menyeluruh.
Kawan GNFI dapat melihat bahwa ekonomi dan ekologi tidak harus selalu bertentangan, tetapi bisa saling menguatkan dalam satu wadah kebijakan yang tepat.
Pengakuan Dunia Melalui Status Cagar Biosfer
Nama Teluk Saleh kini tidak bisa dipisahkan dari kesatuan lansekap SAMOTA (Saleh, Moyo, Tambora). UNESCO sendiri sudah menetapkan kawasan tersebut sebagai Cagar Biosfer dunia. Status bergengsi tersebut bukan sekadar label, melainkan pengakuan internasional atas kekayaan biodiversitas yang terkandung di dalamnya.
Dunia melihat Sumbawa sebagai aset penting bagi keseimbangan iklim dan kelestarian laut global. Kawan GNFI patut berbangga karena Indonesia memiliki peran sentral dalam peta konservasi dunia.
Cagar Biosfer SAMOTA mencakup ekosistem hulu hingga hilir yang saling terintegrasi. Hutan hujan di Gunung Tambora menyediakan air tawar yang mengalir ke sungai, membawa nutrisi hingga ke muara Teluk Saleh. Nutrisi tersebut menyuburkan plankton yang menjadi makanan utama hiu paus.
Rantai ekologis yang tidak terputus tersebut menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan alam jika satu elemen saja rusak. Oleh sebab itu, menjaga Teluk Saleh berarti juga menjaga hutan di sekitarnya.
Pengelolaan kawasan tersebut melibatkan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah hingga badan layanan umum. Tujuannya agar pengelolaan pintu masuk wisata baik dari sisi Sumbawa maupun Dompu dapat terkoordinasi dengan standar operasional prosedur yang sama. Kawan GNFI dapat merasakan pengalaman wisata yang terstandarisasi namun tetap otentik.
Tidak ada hotel pencakar langit yang merusak pemandangan pesisir. Akomodasi dikembangkan dengan konsep ramah lingkungan yang menyatu dengan alam. Hal tersebut membuktikan bahwa kemewahan dalam pariwisata modern didefinisikan oleh eksklusivitas dan keaslian alam, bukan kemegahan bangunan.
Membangun Masa Depan Tanpa Merusak Lanskap
Tantangan terbesar pariwisata Indonesia ke depan yaitu mempertahankan identitas di tengah gempuran modernisasi. Teluk Saleh menjawab tantangan tersebut dengan elegan. Pengembangan kawasan tidak mengacu pada pembangunan fisik yang masif, tetapi pada penguatan sumber daya manusia dan tata kelola kelembagaan.
Masyarakat dilatih untuk menjadi pemandu wisata profesional, penjaga konservasi, hingga penyedia jasa pariwisata yang sadar lingkungan.
Pemberdayaan masyarakat lokal menjadi benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian kawasan. Ketika masyarakat merasakan dampak ekonomi langsung dari pariwisata hiu paus, rasa memiliki terhadap kawasan tersebut semakin kuat.
Kawan GNFI bisa menyaksikan sendiri bagaimana nelayan dengan bangga menceritakan perilaku hiu paus kepada para tamu. Cerita-cerita tersebut menjadi nilai tambah yang tidak ternilai harganya. Narasi tentang akuarium dunia bukan sekadar slogan kosong, melainkan realitas yang dijaga setiap hari oleh warga setempat.
Keberhasilan pengelolaan Teluk Saleh memberikan harapan baru bagi destinasi wisata lain di nusantara. Bahwa untuk menjadi destinasi kelas dunia, sebuah daerah tidak harus mengorbankan kelestarian alamnya. Kawan GNFI, mari berhenti membandingkan setiap pantai indah dengan Bali.
Biarkan Teluk Saleh bersinar dengan caranya sendiri. Biarkan kawasan tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menjadi pemimpin dalam pariwisata berkelanjutan. Pada akhirnya, Indonesia tidak butuh gedung tinggi untuk pariwisata, tapi butuh kelestarian seperti di Teluk Saleh.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


