larangan pacaran di gunung tangkuban perahu - News | Good News From Indonesia 2026

Larangan Pacaran di Gunung Tangkuban Perahu, Fakta di Balik Mitos?

Larangan Pacaran di Gunung Tangkuban Perahu, Fakta di Balik Mitos?
images info

Larangan Pacaran di Gunung Tangkuban Perahu, Fakta di Balik Mitos?


Gunung Tangkuban Perahu berdiri seperti halaman terakhir sebuah buku tua yang tak pernah benar-benar ditutup, dengan kawahnya yang mengepulkan asap seolah sedang menghela napas panjang sejarah.

Dalam berbagai catatan folklor Sunda, gunung ini selalu hadir bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang simbolik tempat mitos, moral, dan ingatan kolektif bertemu, sebagaimana dicatat oleh Ajip Rosidi dalam Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya (2000).

Bagi remaja masa kini, Tangkuban Perahu sering muncul sebagai latar swafoto dan perjalanan singkat akhir pekan, tetapi di balik itu beredar satu cerita yang terus hidup: larangan bagi pasangan belum menikah untuk naik bersama karena dipercaya bisa membuat hubungan mereka berakhir.

Larangan tersebut kerap dikaitkan dengan legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi, kisah yang dalam berbagai versi telah dibahas oleh Edi S. Ekadjati dalam Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (1995) sebagai narasi moral tentang batas, kesadaran, dan konsekuensi.

baca juga

Dalam legenda itu, Sangkuriang, seorang pemuda pengembara, jatuh cinta pada Dayang Sumbi yang memesona, tanpa mau tahu bahwa perempuan itu adalah ibu kandungnya sendiri. Cinta dalam kisah ini bukan romantika remaja, melainkan konflik batin yang berlapis, tempat nurani, dan nafsu saling berhadapan.

Namun, dalam perjalanan waktu, cerita yang kompleks ini mengalami penyederhanaan makna, lalu direduksi menjadi larangan praktis yang mudah diingat: jangan naik bersama kalau belum menikah.

Dayang Sumbi, yang dalam tafsir simbolik sering dipahami sebagai personifikasi nurani manusia, berusaha menggagalkan pernikahan terlarang itu dengan mengajukan syarat mustahil, yakni pembuatan danau dan perahu raksasa dalam satu malam.

Dalam kajian simbolisme mitos yang dibahas oleh Mircea Eliade dalam Myth and Reality (1963), syarat semacam ini bukan sekadar ujian fisik, melainkan ujian kesadaran. Alam dalam legenda ikut bergerak: pohon-pohon tumbang, sungai membendung diri, dan malam menjadi saksi kegigihan manusia yang hampir menaklukkan waktu.

Ketika Dayang Sumbi menciptakan fajar palsu dengan menghamparkan kain merah, kegagalan Sangkuriang pun terjadi. Disertai amarah yang meluap dan tindakan impulsif menendang perahu hingga terbalik.

Perahu yang terbalik itu kemudian menjelma Gunung Tangkuban Perahu, sebuah metafora raksasa tentang penyesalan dan kebingungan manusia, sebagaimana dicatat dalam berbagai dokumentasi budaya lokal Jawa Barat, termasuk laporan feature majalah Tempo, “Menafsir Ulang Mitos Sangkuriang” (12 Agustus 2018).

Namun, seiring waktu, inti cerita tentang larangan inses dan kegagalan mengendalikan amarah bergeser maknanya. Masyarakat mulai menautkan tragedi itu dengan hubungan asmara remaja, seolah-olah gunung menyimpan kutukan khusus bagi pasangan yang belum menikah. Padahal, pergeseran ini lebih mencerminkan cara budaya menyederhanakan pesan moral agar mudah diwariskan lintas generasi.

Di kawasan Tangkuban Perahu, Lembang, mitos ini hidup berdampingan dengan kehidupan wisata modern. Pemandu wisata dan warga setempat kerap mengingatkan pasangan muda dengan nada simbolik, sebagaimana dicatat dalam artikel Kompas, “Mitos dan Pantangan di Kawasan Tangkuban Parahu” (3 Juni 2019).

Gunung itu digambarkan memiliki aura sensitif, bukan karena ia berbahaya, melainkan karena ia diasosiasikan dengan kisah cinta yang tidak semestinya. Cerita-cerita tentang pasangan yang pulang dengan pertengkaran lalu dipercaya sebagai bukti kebenaran mitos, meskipun sesungguhnya konflik itu lebih sering lahir dari dinamika hubungan manusia itu sendiri.

Mendaki Gunung Tangkuban Perahu (Foto: Fabian S.R.)
info gambar

Mendaki Gunung Tangkuban Perahu (Foto: Fabian S.R.)


Jika ditelaah secara kritis, mitos ini bekerja sebagai metafora sosial. Gunung Tangkuban Perahu menjadi simbol perjalanan batin yang berat, tempat emosi mudah tereskalasi dan ego diuji. Dalam perspektif antropologi budaya, seperti dijelaskan oleh Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi (2009), pantangan sering kali berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang halus.

Larangan ini tidak benar-benar dimaksudkan untuk melarang siapa pun datang, melainkan mengingatkan agar setiap individu, terutama remaja, mampu menjaga sikap, ucapan, dan emosi ketika berada di ruang yang sarat simbol dan makna.

baca juga

Legenda Sangkuriang sejatinya tidak mengutuk cinta, tetapi mengkritik ketidaksadaran. Sangkuriang gagal bukan karena ia mencintai, melainkan karena ia membiarkan amarah dan ambisi mengalahkan nurani, sebuah pesan yang juga ditekankan Ajip Rosidi (2000) dalam tafsir folklor Sunda.

Dayang Sumbi hadir sebagai suara hati yang mencoba menghentikan langkah salah, sementara gunung yang tercipta dari perahu terbalik adalah monumen simbolik tentang akibat dari emosi yang tak terkendali.

Dalam konteks ini, mitos larangan bagi pasangan belum menikah hanyalah lapisan makna baru yang menempel di atas pesan lama.

Bagi remaja, memahami mitos ini secara literal justru berisiko menyesatkan. Gunung tidak pernah memiliki kehendak untuk memutuskan hubungan manusia. Yang sebenarnya “dilarang” adalah membawa cinta buta, perbuatan asusila, ego berlebihan, emosi yang belum matang, dan sikap tidak bertanggung jawab ke dalam relasi.

Seperti dijelaskan dalam feature Tempo (12 Agustus 2018), banyak konflik yang dikaitkan dengan mitos sesungguhnya bersumber dari ketegangan internal pasangan itu sendiri. Gunung hanya menjadi latar, sementara manusialah aktor utama dalam drama yang mereka ciptakan.

Dalam konteks budaya Sunda, mitos sering digunakan sebagai bahasa simbol untuk menyampaikan nilai moral tanpa harus menggurui. Larangan ini sejajar dengan pesan inti legenda Sangkuriang tentang batas etika dan kesadaran diri, sebagaimana dibahas Edi S. Ekadjati (1995).

Mitos bukan realitas empiris, tetapi cermin kultural yang memantulkan kekhawatiran, harapan, dan norma masyarakat. Dengan cara ini, mitos tentang Tangkuban Perahu berfungsi sebagai pengingat bahwa cinta tanpa kendali bisa berubah menjadi sumber konflik, bukan kebahagiaan.

Semua orang, tanpa kecuali, boleh mengunjungi Tangkuban Perahu. Tidak ada catatan sejarah atau kajian ilmiah yang menyatakan gunung ini secara literal “melarang” pasangan tertentu, sebagaimana ditegaskan dalam laporan Kompas (3 Juni 2019).

Yang ditekankan adalah sikap: saling menghormati, menjaga ucapan, menjaga moralitas, etika, dan memahami bahwa alam adalah ruang refleksi, bukan arena pelampiasan emosi.

Dalam legenda, Sanghyang Tikoro dimaknai sebagai simbol tenggorokan, tempat kata-kata keluar; sebuah pengingat bahwa konflik sering bermula dari ucapan yang tak terjaga, bukan dari tempat yang dikunjungi.

baca juga

Jika ditarik ke konteks kekinian, mitos ini justru relevan sebagai ajakan reflektif bagi generasi muda. Di tengah budaya instan dan emosi yang mudah tersulut, legenda Sangkuriang mengajarkan pentingnya mengenali diri sendiri sebelum menyalahkan keadaan.

Sangkuriang adalah metafora nafsu dan ambisi tanpa kendali, sementara Dayang Sumbi adalah nurani yang sering diabaikan, sebuah tafsir simbolik yang juga sejalan dengan pendekatan mitos menurut Eliade (1963). Gunung Tangkuban Perahu berdiri sebagai pengingat bahwa alam dan manusia terhubung melalui makna, bukan kutukan.

Larangan pasangan belum menikah naik bersama ke Gunung Tangkuban Perahu bukanlah hukum gaib, melainkan mitos simbolik yang lahir dari proses penafsiran budaya. Ia mengajarkan bahwa yang perlu dijaga bukan jarak fisik, melainkan kesadaran etis dan pengendalian diri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.