Hai Kawan GNFI, bahasa itu selalu bergerak mengikuti zamannya. Sebab bahasa bersifat dinamis, artinya bahasa selalu tumbuh, berubah, dan menyesuaikan diri dengan cara manusia berkomunikasi.
Pada era digital sekarang, perubahan bahasa terasa semakin cepat. Media sosial, gim daring, film, hingga budaya populer global menjadi ruang lahirnya berbagai istilah baru yang kemudian digunakan secara luas oleh generasi muda.
Kata-kata seperti healing, gaskeun, baper, FOMO, hingga bestie menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan "apakah bahasa zaman sekarang menunjukkan kreativitas generasi muda, atau justru menandakan kehilangan arah dalam berbahasa?"
Jika dilihat dari satu sisi, bahasa zaman now merupakan wujud kreativitas. Generasi muda tidak hanya menerima bahasa apa adanya, tetapi juga mengolahnya menjadi lebih ekspresif dan relevan dengan konteks sosial mereka.
Istilah-istilah baru sering kali lahir dari pengalaman bersama, perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata baku, atau keinginan untuk membangun identitas kelompok. Misalnya, kata baper yang merupakan singkatan dari “bawa perasaan” mampu mewakili kondisi emosional seseorang secara singkat dan komunikatif. Begitu pula istilah healing yang digunakan untuk menggambarkan kebutuhan akan jeda dari rutinitas dan tekanan hidup.
Kreativitas ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sesuatu yang kaku. Bahasa itu hidup bersama penuturnya. Dalam hal ini, bahasa gaul dan bahasa media sosial justru memperkaya khazanah ekspresi masyarakat.
Anak muda belajar bermain dengan kata, menciptakan makna baru, dan membangun cara berkomunikasi yang lebih cair. Hal ini juga memperlihatkan kemampuan adaptasi generasi digital dalam menghadapi perubahan zaman.
Namun, di sisi lain, penggunaan bahasa yang terlalu bebas tanpa kontrol juga menimbulkan kekhawatiran. Banyak generasi muda yang semakin jarang menggunakan bahasa Indonesia baku, baik dalam tulisan maupun lisan.
Campuran bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing sering digunakan tanpa mempertimbangkan konteks. Dalam situasi formal, tidak sedikit yang masih membawa gaya bahasa media sosial, seperti penggunaan singkatan berlebihan, emotif, atau struktur kalimat yang tidak jelas.
Contohnya di media sosial, “Gue lg pgn bljr tp mls bgt krn udh capek 😭😭” dalam bahasa baku seharusnya “Saya sedang ingin belajar, tetapi sangat malas karena sudah lelah.” Hal ini menunjukkan contoh penulisan bahasa singkatan yang berlebihan.
Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kemampuan berbahasa formal akan semakin menurun. Padahal, bahasa baku tetap dibutuhkan dalam dunia akademik, profesional, dan administrasi.
Kemampuan menyusun kalimat yang runtut, logis, dan sesuai kaidah menjadi modal penting dalam pendidikan dan dunia kerja. Ketika generasi muda kurang terlatih menggunakan bahasa secara tepat, mereka berpotensi mengalami kesulitan dalam menyampaikan gagasan secara efektif.
Selain itu, dominasi istilah asing juga patut menjadi perhatian. Penggunaan kata-kata seperti relate, insecure, overthinking, atau healing sering kali dilakukan tanpa upaya mencari padanan dalam bahasa Indonesia. Lama-kelamaan, hal ini dapat melemahkan rasa memiliki terhadap bahasa sendiri. Bahasa Indonesia berisiko hanya menjadi “pelengkap”, sementara bahasa asing dianggap lebih keren.
Meskipun demikian, perubahan bahasa tidak seharusnya disikapi dengan sikap menolak secara mutlak. Bahasa gaul dan bahasa digital tidak perlu dimusuhi. Berdasarkan fenomena ini yang lebih penting adalah membangun kesadaran berbahasa yang kontekstual.
Artinya, generasi muda perlu memahami kapan harus menggunakan bahasa santai dan kapan harus menggunakan bahasa formal. Menggunakan bahasa gaul di media sosial adalah hal yang wajar, tetapi menulis esai, laporan, atau surat resmi tentu membutuhkan bahasa yang berbeda.
Maka dari itu peran pendidikan dan lingkungan menjadi sangat penting. Guru, orang tua, dan media perlu menjadi teladan dalam penggunaan bahasa yang baik. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada praktik berbahasa yang relevan dengan kehidupan nyata. Murid perlu diajak untuk mencintai bahasa Indonesia tanpa merasa tertekan, serta memahami bahwa bahasa baku bukanlah lawan dari kreativitas.
Bahasa zaman now pada dasarnya adalah cermin generasi masa kini. Hal ini bisa menjadi tanda kreativitas yang luar biasa, tetapi juga bisa menjadi sinyal kehilangan arah jika tidak disertai kesadaran. Tantangan kita bukan memilih salah satu, melainkan menyeimbangkan keduanya. Kreatif dalam berekspresi, tetapi tetap bertanggung jawab dalam berbahasa.
Bebas berinovasi, tanpa melupakan jati diri bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Hal ini menunjukkan dengan cara inilah, bahasa tidak hanya akan bertahan di tengah arus digital, tetapi juga terus tumbuh sebagai simbol kecerdasan, identitas, dan kebanggaan generasi masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


