saling berbagi daratan mengapa perbatasan papua dan papua nugini tidak lurus - News | Good News From Indonesia 2026

Saling Berbagi Daratan, Mengapa Perbatasan Papua dan Papua Nugini Tidak Lurus?

Saling Berbagi Daratan, Mengapa Perbatasan Papua dan Papua Nugini Tidak Lurus?
images info

Saling Berbagi Daratan, Mengapa Perbatasan Papua dan Papua Nugini Tidak Lurus?


Tahukah Kawan GNFI jika ternyata perbatasan antara Papua dan Papua Nugini tidaklah ditarik dalam sebuah garis yang lurus dari ujung ke ujung? Papua dan Papua Nugini berada dalam satu pulau super besar dan dipisahkan oleh garis sepanjang lebih dari 820 kilometer.

Awalnya, garis batas keduanya memang lurus dari utara ke selatan, tapi kemudian garisnya diubah dengan wilayah Papua Nugini yang sedikit lebih menjorok ke arah barat. Mengapa demikian?

Mengapa Perbatasan Papua dan Papua Nugini Tidak Lurus?

Perbatasan Papua-Papua Nugini yang tidak lurus | Sadalmelik/WikimediaCommons
info gambar

Perbatasan Papua-Papua Nugini yang tidak lurus | Sadalmelik/WikimediaCommons


Batas wilayah antara Papua milik Indonesia dengan Papua Nugini tidak lepas dari sejarah dan kondisi geografisnya. Sisi barat yang kini dikenal sebagai Papua milik Indonesia dijajah oleh Belanda. Sementara itu, sisi timur alias Papua Nugini sempat dikuasai Jerman dan Inggris sebelum kemudian dikelola Australia dan merdeka pada 1975.

Mulanya, Belanda mengklaim garis batas wilayah jajahan mereka dengan garis berbentuk lurus di koordinat 141 derajat bujur timur. Ada sedikit bagian dari Sungai Fly milik Papua Nugini yang masuk ke dalam wilayah Hindia Belanda. Padahal, pasukan Inggris dulunya memakai sungai itu untuk berpatroli dari hulu ke hilir.

Akhirnya, untuk menghindari konflik, Inggris bernegosiasi dengan Belanda. Walhasil, batas yang awalnya merupakan garis yang benar-benar lurus, berubah menjadi sedikit “bengkok” ke arah barat. Ini dikarenakan batasnya diambil dari titik terdalam dari kelokan Sungai Fly.

Gantinya, batas wilayah kekuasaan Belanda yang “menciut” karena mengikuti aliran Sungai Fly menjadi bertambah sedikit karena Inggris menggeser perbatasannya ke arah timur, tepatnya di tengah Sungai Bensbach—disebut sebagai Sungai Torasi di Indonesia. Nah, bagian muara Sungai Torasi ini juga menjadi titik paling timur Indonesia saat ini.

Kesepakatan antara Belanda dan Inggris terkait perbatasan dua wilayah jajahannya itu masih berlaku hingga detik ini. Tidak heran jika dilihat di peta, batas antara Papua milik Indonesia dengan Papua Nugini tampak memiliki sedikit lekukan.

baca juga

Kenapa Papua Tidak Masuk ASEAN?

Mungkin Kawan juga ada yang bertanya-tanya, mengapa Papua Nugini tidak masuk ASEAN, padahal lokasinya gandeng dengan Papua milik Indonesia?

Jawabannya adalah faktor sejarah dan geografis yang berbeda. Sebenarnya, baik Papua milik Indonesia maupun Papua Nugini, keduanya sama-sama berada di kawasan Oseania.

Namun, karena faktor sejarah masa lalu yang berbeda, maka Papua milik Indonesia masuk sebagai bagian dari Asia Tenggara. Sementara itu, Papua Nugini diakui sebagai salah satu negara Oseania.

Uniknya, Papua Nugini sebenarnya pernah mencoba untuk meminta dukungan negara-negara ASEAN lain untuk bisa bergabung sebagai anggota organisasi tersebut. Namun, tidak ada negara yang memberikan respons resmi.

Indonesia sendiri mendukung keanggotaan Papua Nugini di ASEAN. Akan tetapi, banyak negara ASEAN lain yang tidak setuju karena beberapa alasan, salah satunya karena masalah ekonomi.

Sebagai informasi, di beberapa titik di perbatasan Papua-Papua Nugini, masih banyak masyarakat Papua Nugini yang bergantung secara ekonomi pada Indonesia, salah satunya warga Desa Wutung. Mereka sering masuk ke wilayah Desa Skouw yang terletak di Distrik Muara Tami, Jayapura, untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Warga Wutung masuk ke Skouw melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw. Saat akan memasuki wilayah Indonesia, mereka harus menyiapkan dokumen pendukung, seperti paspor.

Akan tetapi, ada hari “spesial” di mana warga Papua Nugini boleh masuk ke Indonesia hanya dengan bermodal dokumen berupa kerta manifes yang berisikan nama mereka. Hari spesial tersebut adalah hari Selasa tiap minggunya. Meskipun demikian, pergerakan mereka sangat terbatas, karena maksimal dapat berkeliling di area Pasar Skouw saja.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.