mengapa tren berkain ala gen z menjadi wajah baru nasionalisme - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Tren Berkain ala Gen Z jadi Wajah Baru Nasionalisme?

Mengapa Tren Berkain ala Gen Z jadi Wajah Baru Nasionalisme?
images info

Mengapa Tren Berkain ala Gen Z jadi Wajah Baru Nasionalisme?


Kawan GNFI pasti masih ingat masa-masa ketika memakai batik atau kain jarik dianggap sebagai sesuatu yang sangat formal. Dulu, jika ada anak muda yang mengenakan kain di tempat nongkrong atau kampus, pertanyaan yang muncul hampir selalu seragam.

Mau kondangan ke mana? Atau ada acara resmi apa di masa sekarang? Kain tradisional seolah terkunci dalam stigma sebagai busana orang tua atau seragam wajib saat upacara adat.

Namun, angin segar berhembus kencang dalam beberapa tahun terakhir. Coba buka aplikasi TikTok atau Instagram sekarang. Kawan GNFI dapat menemukan ribuan konten yang menampilkan anak muda bergaya kasual dengan kain lilit, kebaya kutubaru yang dipadukan dengan sneakers, hingga kain tenun yang disulap menjadi outerkekinian. Fenomena tersebut dikenal luas dengan istilah berkain.

Gerakan tersebut bukan sekadar tren mode sesaat yang lewat begitu saja. Di balik visual yang memanjakan mata, ada pergeseran makna yang mendalam tentang bagaimana generasi muda memandang identitas kebangsaannya.

baca juga

Beredar isu bahwa ada yang mencibir bahwa generasi tersebut hanya peduli pada estetika atau sekadar ikut-ikutan demi konten. Namun, justru di situlah letak kuncinya.

Tidak apa-apa mulai dari estetika dulu, yang penting budaya tetap lestari. Hal tersebut menjadi cara Gen Z mencintai Indonesia dengan gaya khasnya sendiri.

Estetika sebagai Pintu Masuk Pelestarian

Gen Z merupakan generasi yang tumbuh besar dengan bahasa visual. Bagi generasi yang lahir di rentang 1997—2012, penampilan menjadi bentuk komunikasi non-verbal yang kuat.

Ketika kain tradisional yang dulunya dianggap kaku mulai dikemas ulang dengan gaya yang effortless dan chic, persepsi publik pun berubah drastis.

Kompas TV pernah mengulas bahwa kebangkitan tren tersebut bermula dari gerakan kolektif di media sosial sekitar tahun 2021. Tagar seperti #BerkainBersama menjadi wadah ekspresi yang masif.

Anak muda tidak lagi malu memakai kain. Sebaliknya, kain menjadi statement gaya yang membanggakan. Kain lilit tidak lagi harus dipadukan dengan sanggul atau beskap lengkap, melainkan bisa bersanding dengan kaos polos, jaket denim, atau bahkan sepatu boots.

Pendekatan visual yang tidak kaku inilah yang membuat budaya menjadi relevan kembali. Sri Wening dan Putu Diah Ari Kusumadewi dalam tulisannya menyoroti bahwa tren berkain sukses mengganti stigma kain tradisional yang kuno menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Jika pelestarian budaya dulunya dilakukan lewat ceramah sejarah yang berat, kini pelestarian itu dilakukan lewat video transisi outfit berdurasi 15 detik yang ditonton jutaan kali. Estetika menjadi jembatan emas yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Peran Influencer dan Demokratisasi Budaya

 Ilustrasi influencer dalam memperkenalkan tren berkain: Pexels | Esase
info gambar

Ilustrasi influencer dalam memperkenalkan tren berkain: Pexels | Esase


Tidak bisa dipungkiri, peran content creator sangat krusial dalam menyebarkan virus positif tersebut. Sosok seperti Rania Yamin misalnya, berhasil menunjukkan bahwa memakai kain itu tidak ribet dan bisa terlihat sangat anggun, tetapi tetap santai.

Dengan memanfaatkan teori social learning, anak muda yang melihat konten tersebut merasa tertarik, lalu mencoba meniru gayanya, dan akhirnya ikut menyebarkan tren tersebut ke lingkungannya sendiri.

baca juga

Hal menarik lainnya yaitu sifat inklusif dari tren tersebut. Dalam perspektif komunikasi budaya, kain tradisional di Indonesia sejatinya bersifat uniseks. Kain jarik atau tenun bisa dipakai oleh laki-laki maupun perempuan.

Generasi Z yang menjunjung tinggi nilai kebebasan berekspresi menemukan wadah yang tepat dalam selembar kain. Laki-laki bisa tampil gagah dengan kain yang dililit di atas mata kaki, sementara perempuan bisa berkreasi dengan berbagai model draping yang unik.

Kain menjadi medium yang demokratis. Siapa pun bisa memakainya tanpa takut dihakimi salah kostum. Fenomena tersebut sekaligus membuktikan bahwa budaya tradisional itu cair dan adaptif. Ia tidak mati ditelan zaman, melainkan berevolusi mengikuti semangat zamannya.

Dampak Ekonomi bagi Industri Kreatif Lokal

Nasionalisme adalah gaya baru yang tercipta tidak hanya berhenti di level gaya-gayaan. Ada dampak ekonomi riil yang dirasakan oleh industri mode tanah air.

Sri Wening mencatat bahwa tren berkain membuka peluang besar bagi pengembangan industri kreatif. Permintaan terhadap kain tradisional meningkat pesat, memberikan nafas baru bagi para pengrajin di daerah.

Jenama lokal pun berlomba-lomba merespons antusiasme pasar. Sudah muncul banyak brand yang menawarkan produk kain siap pakai dengan desain modern. Sebut saja Sejauh Mata Memandang yang konsisten mengangkat isu lingkungan dalam motif batiknya, atau Sukkha Citta yang memberdayakan pengrajin perempuan di desa-desa.

Bahkan, ada jenama seperti THENBLANK yang merilis sarung instan agar pemakaiannya lebih praktis bagi pemula.

Artinya, kecintaan pada estetika kain mampu menggerakkan roda ekonomi kerakyatan. Membeli produk lokal kini bukan lagi sekadar himbauan moral, tapi sudah menjadi kebutuhan gaya hidup.

Gen Z dengan bangga memamerkan jenama lokal yang dipakainya, membuktikan bahwa produk dalam negeri punya kualitas yang tidak kalah bersaing dengan brand global.

Wajah Baru Nasionalisme Populer

 Ilustrasi perempuan berkain batik: Pexels | Firman Marek_Brew
info gambar

Ilustrasi perempuan berkain batik: Pexels | Firman Marek_Brew


Kondisi inilah yang menjadi bentuk nasionalisme yang paling relevan di masa sekarang. Nasionalisme yang tidak berapi-api, tidak kaku, tetapi merasuk ke dalam sendi kehidupan sehari-hari.

Mencintai Indonesia tidak melulu harus dengan menghafal buku sejarah atau mengikuti upacara formal. Mencintai Indonesia bisa dimulai dari lemari pakaian.

baca juga

Saat seorang anak muda memutuskan untuk memakai kain batik saat hangout ke kedai kopi, secara tidak sadar ia sedang merawat warisan leluhur. Saat ia mengunggah foto OOTD (Outfit of The Day) berkain di media sosial, ia sedang mempromosikan budaya bangsanya ke mata dunia.

Estetika yang dikejar bukanlah bentuk kedangkalan, melainkan sebuah strategi kebudayaan yang efektif.

Tantangan ke depan tentu masih ada. Bagaimana memastikan tren tersebut tidak hanya berhenti sebagai euforia sesaat, tetapi menjadi kebiasaan yang menetap.

Edukasi tentang makna motif dan filosofi kain tetap perlu disisipkan perlahan-lahan. Namun untuk sekarang, biarkanlah kreativitas itu tumbuh liar.

Kawan GNFI, mari rayakan fenomena tersebut dengan gembira. Jangan buru-buru menuntut anak muda untuk paham filosofi mendalam jika itu justru membuat anak muda takut mendekat.

Biarkan anak muda tersebut jatuh cinta dulu pada keindahan visualnya. Biarkan anak muda tersebut merasa keren dengan budaya sendiri. Karena dari rasa cinta pada kulit luarnya, perlahan rasa ingin tahu tentang isi di dalamnya pasti dapat tumbuh.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.