Setiap daerah tentu memiliki impian untuk menjadi tempat tinggal yang bersih, indah, dan sehat bagi seluruh warganya. Salah satu upaya nyata dalam mewujudkan cita-cita tersebut adalah melalui penghargaan Adipura.
Penghargaan ini bukan sekadar simbol kebanggaan, melainkan bentuk pengakuan terhadap keseriusan suatu kota dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Adipura menjadi ukuran sejauh mana sebuah kota mampu menata lingkungannya secara berkelanjutan.
Program ini tidak hanya menyoroti tampilan fisik kota, tetapi juga menilai pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, serta partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Asal-Usul dan Perkembangan Penghargaan Adipura
Program Adipura seperti dikutip dari laman Indonesiana.id pertama kali diluncurkan pada tahun 1986 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Tujuannya sederhana tetapi penting, yaitu mendorong kota-kota di Indonesia agar lebih bersih dan teduh.
Adipura lalu berkembang menjadi gerakan nasional untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang sehat dan nyaman. Hanya saja, penghargaan ini sempat terhenti pada tahun 1998 akibat krisis ekonomi dan perubahan politik di dalam negeri.
Adipura kembali diaktifkan pada tahun 2002, dengan semangat baru dan sistem penilaian yang lebih modern. Pemerintah memperbarui indikator penilaian agar lebih relevan dengan tantangan lingkungan masa kini, seperti pengelolaan sampah terpadu dan pelestarian ekosistem kota.
Dalam perkembangannya, Adipura juga mengalami berbagai penyempurnaan. Jika sebelumnya penilaian hanya fokus pada kebersihan jalan dan taman, kini cakupannya jauh lebih luas.
Program ini melibatkan pemanfaatan teknologi modern, seperti penggunaan drone dan citra satelit, untuk memantau kondisi lingkungan kota secara objektif. Selain itu, keberadaan Kampung Iklim dan upaya mitigasi perubahan iklim turut menjadi aspek penting dalam penilaian.
Kategori dan Tingkatan Penghargaan Adipura
Agar penilaian berlangsung adil, setiap kota diklasifikasikan berdasarkan jumlah penduduknya. Terdapat empat kategori utama, yakni kota metropolitan dengan penduduk lebih dari satu juta jiwa, kota besar dengan 500 ribu hingga satu juta jiwa, kota sedang dengan 100 ribu hingga 500 ribu jiwa, dan kota kecil dengan jumlah penduduk di bawah 100 ribu jiwa.
Dari setiap kategori, kota atau kabupaten berhak memperoleh beberapa tingkatan penghargaan.
- Adipura Kencana diberikan kepada kota yang menunjukkan kinerja lingkungan terbaik dan berkelanjutan.
- Adipura Utama atau Adipura diberikan kepada kota yang memenuhi standar kebersihan dan tata kelola lingkungan sesuai kriteria nasional.
- Selain itu, terdapat sertifikat Adipura dan plakat tematik, yang diberikan kepada kota dengan prestasi tertentu, seperti pengelolaan sampah terbaik atau inovasi ruang hijau publik.
Penghargaan Adipura menilai dua aspek besar, yaitu fisik dan non-fisik.
Aspek Fisik meliputi kebersihan jalan, drainase, taman kota, pasar, terminal, hingga ruang terbuka hijau. Aspek ini menilai seberapa bersih, indah, dan tertib kondisi lingkungan kota.
Aspek Non-Fisik berhubungan dengan sistem pengelolaan lingkungan, kebijakan pemerintah daerah, peran masyarakat, serta inovasi teknologi dalam mengatasi permasalahan sampah dan polusi.
Tim penilai melakukan verifikasi lapangan secara langsung. Dalam banyak kasus, mereka datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dengan demikian, kondisinya terlihat benar-benar mencerminkan keadaan sebenarnya, bukan hasil persiapan sesaat menjelang penilaian.
Meski membawa semangat positif, program Adipura juga menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah kebiasaan “bersih sesaat” yang muncul menjelang penilaian.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian daerah masih memandang penghargaan sebagai target simbolik, bukan sebagai wujud tanggung jawab berkelanjutan terhadap lingkungan.
Selain itu, tidak semua daerah memiliki kemampuan finansial dan sumber daya manusia yang sama. Kota besar mungkin lebih mudah mengelola sampah dan ruang hijau karena dukungan anggaran yang besar, sementara daerah kecil harus berjuang dengan keterbatasan fasilitas dan dana.
Transparansi penilaian juga menjadi sorotan publik. Dengan meningkatnya penggunaan data digital dan citra satelit, kejelasan indikator serta hasil penilaian diharapkan dapat disampaikan secara terbuka agar masyarakat memahami dasar keputusan yang diambil.
Penghargaan Adipura bukan sekadar piala atau gelar bergengsi. Lebih dari itu, penghargaan ini merupakan pengingat bahwa kesejahteraan warga sangat bergantung pada kebersihan dan kelestarian lingkungan. Kota yang bersih tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sehat untuk dihuni.
Upaya menjaga lingkungan harus dimulai sejak dini, misalnya melalui pendidikan di sekolah, pembiasaan memilah sampah, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebersihan.
Pemerintah juga diharapkan terus berinovasi melalui teknologi pengelolaan sampah, sistem pemantauan udara, dan pembangunan ruang hijau publik yang ramah warga.
Adipura menjadi simbol tekad daerah dalam mewujudkan kota yang bersih, hijau, dan berkelanjutan. Sejak diperkenalkan pada tahun 1986 hingga kini, penghargaan ini terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman dan tantangan lingkungan.
Meraih Adipura bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan langkah awal menuju tata kelola kota yang lebih baik. Kota yang berhasil mempertahankan lingkungan bersih secara konsisten membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat.
Lebih dari sekadar penghargaan, Adipura merupakan pengingat bahwa bumi perlu dijaga bersama, dimulai dari lingkungan terdekat. Dengan komitmen yang kuat dan kerja sama yang tulus, setiap kota memiliki peluang untuk menjadi tempat tinggal yang layak, sehat, dan hijau bagi generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


