Bentang Alam Wehea-Kelay di Kalimantan Timur menjadi salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di Indonesia meskipun sebagian besar wilayahnya berada di luar kawasan konservasi resmi.
Penelitian kolaboratif Universitas Mulawarman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengungkap kawasan seluas 532.143 hektare ini masih berfungsi sebagai habitat penting berbagai satwa langka dan terancam punah.
Temuan tersebut dipaparkan dalam Simposium Biodiversitas Wehea-Kelay di Samarinda pada 14 Januari 2026 seperti dikutip dari Antara.
Dari total luas wilayah, hanya sekitar 19 persen yang berstatus hutan lindung. Selebihnya merupakan kawasan konsesi kehutanan, perkebunan, serta area kelola masyarakat.
Meski demikian, sekitar 80 persen wilayah Wehea-Kelay masih berupa hutan, sehingga mampu menopang keanekaragaman hayati dalam skala luas.
Rumah bagi Satwa Langka
Penelitian mencatat Wehea-Kelay sebagai rumah bagi satwa kunci Kalimantan, termasuk orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio) dengan populasi sekitar 1.282 individu.
Selain itu, teridentifikasi lutung kutai (Presbytis canicrus), rangkong gading (Rhinoplax vigil), trenggiling (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), bangau Storm (Ciconia stormi), macan dahan (Neofelis diardi), dan kucing merah (Catopuma badia). Seluruh spesies tersebut masuk dalam kategori langka dan dilindungi.
Rektor Universitas Mulawarman, Prof. Abdunnur, menyatakan temuan ini menjadi kabar positif di tengah meningkatnya isu degradasi hutan.
Menurut dia, keberadaan satwa langka di kawasan nonkonservasi menunjukkan bahwa pengelolaan berbasis lanskap yang melibatkan banyak pihak mampu menjaga fungsi ekologis hutan.
Ribuan Flora dan Fauna Teridentifikasi
Penelitian tematik biodiversitas yang dilakukan sepanjang 2025 mencatat total 1.618 jenis flora dan fauna di Bentang Alam Wehea-Kelay. Data tersebut mencakup 38 persen mamalia terestrial, 47 persen jenis burung, 20 persen reptil, dan 70 persen amfibi yang ada di wilayah Kalimantan Timur.
Selain itu, ditemukan 88 jenis serangga dari kelompok kupu-kupu dan kumbang sungut, serta 987 jenis tumbuhan hutan.
Peneliti Ahli Utama BRIN, Tri Atmoko, menjelaskan bahwa jumlah temuan tersebut meningkat dibandingkan penelitian serupa pada 2016 yang mencatat 1.343 jenis.
“Penambahan 275 jenis tidak lepas dari penggunaan metode pemantauan yang lebih intensif dan komprehensif,” ujarnya.
Pemantauan Satwa dengan Kamera Jebak
Pemantauan satwa dan tumbuhan dilakukan menggunakan kamera jebak serta perekam suara bioakustik untuk mendeteksi spesies yang sulit diamati secara langsung.
Tri Atmoko menilai metode tersebut efektif dalam mendokumentasikan keberadaan satwa kunci, terutama mamalia dan burung nokturnal.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan penelitian tidak hanya ditentukan oleh metode ilmiah, tetapi juga oleh kesamaan komitmen para pemangku kepentingan dalam menjaga kawasan.
Kolaborasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan organisasi konservasi menjadi fondasi utama perlindungan Wehea-Kelay.
Peran Hidrologi dan Mitigasi Iklim
Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menyebut pengelolaan kolaboratif di Wehea-Kelay telah berjalan sejak 2015, mengikuti wilayah sebaran orangutan di sepanjang Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan sebagian hulu Sungai Telen.
Kawasan ini juga berfungsi sebagai hulu penting Sungai Mahakam dan Sungai Segah dengan lebih dari 5.000 kilometer daerah aliran sungai.
Selain fungsi hidrologis, Wehea-Kelay berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim. Kawasan ini diperkirakan menyimpan sekitar 191 juta ton setara karbon dioksida, sehingga berkontribusi signifikan dalam pengendalian emisi dan menjaga kualitas lingkungan regional.
Simpan Potensi Bioprospeksi
Pengelolaan Bentang Alam Wehea-Kelay tidak hanya berfokus pada perlindungan ekosistem, tetapi juga pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui bioprospeksi.
Kajian terhadap puluhan jenis tumbuhan hutan menemukan 11 jenis berpotensi dikembangkan sebagai bahan obat modern, termasuk antidiabetes dan antikanker.
Salah satu jenis yang menonjol adalah Macaranga conifera, yang memiliki kemampuan antioksidan hingga 94 persen serta menunjukkan aktivitas sitotoksik terhadap beberapa jenis sel kanker. Temuan ini membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah yang ramah lingkungan.
Dikelola Secara Kolaboratif
Saat ini, pengelolaan Wehea-Kelay melibatkan 23 pihak yang terdiri atas pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan organisasi masyarakat sipil.
Pendekatan kolaboratif berbasis bukti di Wehea-Kelay menunjukkan konservasi hutan dapat berjalan seiring dengan kepentingan ekonomi dan sosial, serta layak menjadi rujukan bagi wilayah lain di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


