pulau doom pulau bintang yang pernah jadi ibu kota pusat pemerintahan sorong - News | Good News From Indonesia 2026

Pulau Doom, Pulau “Bintang” yang Pernah Jadi Ibu Kota Pusat Pemerintahan Sorong

Pulau Doom, Pulau “Bintang” yang Pernah Jadi Ibu Kota Pusat Pemerintahan Sorong
images info

Pulau Doom, Pulau “Bintang” yang Pernah Jadi Ibu Kota Pusat Pemerintahan Sorong


Ada yang pernah mendengar soal Pulau Doom? Pulau Doom adalah sebuah pulau mungil yang masuk wiayah yurisdiksi Kota Sorong, Papua Barat Daya.

Nama “Doom” (atau disebut juga dengan “dum”) bermakna pulau dengan banyak pohon buah. Banyak buah-buahan yang tumbuh di pulau ini, salah satunya sukun.

Lokasinya sangat dekat dengan Kota Sorong, hanya perlu waktu sekitar 10-15 menit saja dengan perahu mesin. Panjang lingkar keliling pulau ini adalah 4,5 km, dengan luas wilayah sekitar 3,5 km2.

Kecil-kecil cabe rawit, mungkin ungkapan ini yang bisa menggambarkan Pulau Dom. Bagaimana tidak, dengan luas itu—sangat jauh jika dibandingkan kota atau kabupaten lain di Papua Barat Daya—Pulau Doom nyatanya pernah menjadi ibu kota pusat pemerintahan Sorong. Kok bisa?

Pernah Jadi Pusat Pemerintahan Sorong

Meskipun mungil, Pulau Doom punya peran penting. Di era penjajahan Belanda, pulau ini pernah dijadikan pusat pemerintahan Belanda di masa lalu.

Merangkum dari berbagai sumber, Belanda sudah melirik potensi besar Pulau Doom sejak tahun 1800-an. Kemudian, pada tahun 1930-an, pulau itu dijadikan sebagai pusat pemerintahan Sorong.

Saat itu, Kota Sorong belum terbentuk. Sebaliknya, pusat kegiatan pemerintahan Belanda justru dilakukan di Pulau Doom.

Pulau Doom juga mendapatkan akses listrik dan pembangunan infrastruktur lebih awal dibandingkan daerah Sorong dan sekitarnya. Saat daerah lain masih gelap, Pulau Doom sudah “bersinar” dengan berbagai kesibukan di dalamnya. Tak heran jika kemudian pulau ini disebut sebagai “Pulau Bintang”.

Seiring berjalannya waktu, pusat pemerintahan pun dipindahkan ke Sorong. Apalagi, Sorong kemudian dinaikkan statusnya menjadi kota otonom di tahun 1999, sehingga seluruh kegiatan pemerintahan berpindah dari Pulau Doom ke Kota Sorong sampai saat ini.

baca juga

Pulau Kecil Penuh Sejarah

Dikarenakan Pulau Doom adalah titik vital pemerintahan di zaman Belanda, banyak bangunannya yang bercorak khas. Hal ini cukup berbeda dengan daerah lain di Papua yang memiliki bangunan dengan aksen tradisional.

Banyak bangunannya yang merupakan peninggalan Belanda masih berdiri kokoh, seperti gereja sampai lembaga permasyarakatan yang kini dijadikan sebagai Seklah Menengah Atas (SMA).

Menariknya lagi, Pulau Doom juga sempat dijadikan markas pertahanan tentara Jepang. Banyak gua dan bunker yang dibangun oleh mereka. Bahkan, sebagian besar jejak peninggalan bersejarah itu masih ada sampai sekarang.

Becak sebagai Moda Transportasi Tradisional

Ada yang unik dari kehidupan masyarakat Pulau Doom. Becak, moda transportasi tradisional beroda tiga yang lumrah ditemukan di banyak daerah di Jawa, ternyata menjadi transportasi yang sering digunakan oleh warganya.

Becak sendiri tidak banyak ditemui di Papua karena kondisi geografisnya. Meskipun demikian, ada beberapa daerah yang menggunakan becak sebagai transportasi alternatif, salah satunya di Pulau Doom.

Konon, awalnya becak-becak di sana dibawa oleh perantau Jawa. Transportasi ramah lingkungan ini didatangkan dari Surabaya.

Lambat laun, masyarakat pun membuat sendiri becak-becak mereka. Akhirnya, selain perahu, becak sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan warga di sana.

Penggunaan becak dianggap sesuai dengan kondisi Pulau Doom yang kecil. Kendaraan ini banyak dipakai untuk beraktivitas, mulai dari membantu mobilisasi masyarakat hingga mengangkut wisatawan.

Kawan GNFI, meskipun ada di wilayah Papua, banyak penduduk Pulau Doom merupakan pendatang dari daerah dan suku lain. Meskipun demikian, mereka semua hidup berdampingan dengan rukun, terlepas dari suku atau pun agama yang berbeda.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.