Kawan GNFI, berkunjung ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat belum pas rasanya untuk mencicipi camilan tradisional yang menggugah selera, salah satunya poteng jaje tujak.
Manis legit jadi ciri khas poteng jaje tujak yang ternyata bukan sekadar camilan tradisional belaka. Makanan ini ternyata menyimpan cerita hingga menjadi simbol akan tradisi masyarakat Sasak yang eksis sampai saat ini.
Ingin tahu hal menarik tentang poteng jaje tujak sebagai camilan tradisional khas Lombok yang kaya akan simbol tradisi masyarakat Sasak? Simak selengkapnya, ya, Kawan GNFI untuk #MakinTahuNTB.
Apa itu Poteng Jaje Tujak?
Jaje tujak merupakan sejenis tape ketan yang diolah menjadi camilan dan biasa disajikan dalam acara besar adat, acara keagamaan seperti Hari Raya Idulfitri, Hari Raya Iduladha, hingga Maulid Nabi Muhammad SAW, dan pesta pernikahan.
Camilan dengan cita rasa yang khas ini masih bertahan meski di tengah arus modernisasi dunia kuliner. Dalam bahasa Sasak, jaje tujak berarti ‘kue yang ditumbuk’ yang dalam penyajiannya dilakukan bersama poteng – tape ketan fermentasi.
Kombinasi poteng dan jaje tujak ini menciptakan paduan rasa kenyal, manis, legit, dan khas sedikit asam dengan disajikan dalam wadah daun pisang yang semakin menambah kesan tradisional hidangan ini.
Jaje tujak dan poteng sebenarnya merupakan dua hidangan dengan bahan dasar yang sama yakni menggunakan ketan. Bedanya, dari proses pembuatannya yang membuat tekstur dan cita rasa unik dari keduanya.
Proses Pembuatan yang Kaya akan Makna
Dalam membuat poteng jaje tujak, ternyata prosesnya memiliki nilai kebersamaan yang sudah lama dikenal dengan sebutan 'menunjak', yaitu kegiatan memasak yang dilakukan bersama-sama oleh para ibu dan gadis desa.
Aktivitas ini juga menjadi kesempatan untuk berkumpul dan bercerita, yang semakin mempererat tali silaturahmi antar warga.
Proses pembuatan jaje tujak yang unik ini membutuhkan tenaga yang cukup di mana ketan dikukus, ditumbuk, atau digilas menggunakan alat tradisional hingga menghasilkan tekstur yang lembut, kenyal, dan sedikit padat.
Proses tersebut membutuhkan waktu dan usaha, sehingga menciptakan kenangan yang berharga.
Sementara itu, pembuatan poteng membutuhkan waktu yang lebih lama di mana setelah ketan dimasak, kemudian dicampur dengan ragi lalu disimpan dalam wadah tertutup selama tiga hari melalui proses fermentasi dengan metode tradisional. Hal ini menambahkan keunikan dan cita rasa khas dari poteng.
Dua elemen utama inilah yang tak hanya sekadar camilan tradisional saja. Namun, menjadi simbol akan kebersamaan, keberkahan, dan rasa syukur dari proses pembuatannya yang kaya akan makna.
Kunci kelezatan dari poteng jaje tujak terletak pada kesederhanaan bahan dan kesabaran dalam mengolahnya. Di mana komponen dasarnya yakni beras ketan putih sebagai bahan dasar utama, kelapa parut untuk tekstur dan rasa gurih, dan garam sebagai penyeimbang rasa.
Dilansir dari Kumparan, meski memerlukan banyak waktu, terdapat kepercayaan yang berakar dari masyarakat Sasak dengan tak boleh sembarangan dalam membuat poteng. Para pembuatnya harus dalam keadaan suci atau khusus wanita tidak sedang dalam keadaan haid.
Hal ini dimaksudkan agar tidak merusak hasil akhir poteng dan adanya proses penaburan bubuk tape ketan yang juga dilakukan setelah selesai sholat dalam keadaan suci usai berwudhu.
Cara pas menikmati poteng jaje tujak ini dengan mengambil sepotong ketan tumbuk atau jaje tujak, lalu mencelupkannya dan memakan bersamaan dengan poteng (tape ketan fermentasi). Strukturnya yang kenyal dan gurih akan ‘pecah’ dimulut saat bertemu air tape yang manis dan dingin.
Poteng jaje tujak ini menjadi representasi akan bahwa kesederhanaan bahan lokal yang dipadukan dengan tradisi mampu menciptakan cita rasa yang khas dengan menyimpan nilai budaya dan warisan leluhur kuat yang membawa rasa dan cerita dalam setiap gigitannya.
Tertarik mencicipinya, Kawan GNFI?
Ragam Camilan Khas Kalimantan Utara, Rasa Tradisional yang Menggoda
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


