Gerakan Pramuka telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan karakter di Indonesia selama puluhan tahun.
Namun, apakah Kawan GNFI tahu, bahwa jauh sebelum organisasi ini melebur menjadi Pramuka pada 1961, sang pendiri kepanduan dunia sendiri pernah menginjakkan kakinya di tanah air kita?
Ya, tepat pada tahun 1934, Lord Baden-Powell melakukan kunjungan bersejarah ke tiga kota besar di Hindia Belanda.
Momen ini bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan sebuah tonggak sejarah yang membakar semangat para pandu lokal dalam mengembangkan nilai-nilai kedisiplinan dan kemandirian.
Kota-kota yang Dikunjungi Baden-Powell
Sebelum kita menyelami detail perjalanannya, mari kita tengok sejenak kondisi kepanduan kala itu. Pada masa kolonial, gerakan kepanduan di Indonesia masih terbagi-bagi.
Ada organisasi yang bernaung di bawah payung Belanda seperti Nederlandsch Indische Padvinders Vereeniging (NIPV). Namun, ada pula organisasi kepanduan lokal yang kental dengan semangat nasionalisme.
Nah, di tengah dinamika itulah, kabar mengenai kedatangan Lord Baden-Powell beserta istrinya, Lady Olave Baden-Powell, dan kedua putri mereka, menjadi magnet yang luar biasa.
Kunjungan ini merupakan bagian dari tur dunia mereka untuk meninjau perkembangan kepanduan di berbagai belahan bumi.
Kawan GNFI bisa membayangkan betapa antusiasnya para pandu saat itu, mengingat mereka akan bertemu langsung dengan sosok yang selama ini hanya mereka baca profilnya di buku panduan.
Berikut adalah kota-kota yang disinggahi Bapak Pramuka Dunia, selama di Hindia Belanda.
Batavia
Perjalanan keluarga Baden-Powell di Indonesia dimulai dari Batavia (sekarang Jakarta). Menggunakan kapal uap yang mewah pada zamannya, mereka bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok pada awal Desember 1934.
Kedatangannya, disambut oleh 1400 anggota pramuka di arena pacuan kuda, yang kemudian dilanjut dengan pidato dari kepala komisioner Gerakan Pramuka Hindia Belanda.
Kedatangan mereka disambut dengan upacara yang formal. Namun, tetap terasa hangat oleh para pejabat pemerintah kolonial dan petinggi NIPV.
Sambutan tersebut mencerminkan besarnya penghargaan terhadap Baden-Powell sebagai tokoh yang berpengaruh dalam pembentukan karakter generasi muda melalui kepanduan.
Lord dan Lady Baden-Powell tiba di Batavia sebagai bagian dari perjalanan mereka mengunjungi berbagai wilayah di luar Eropa untuk memperkuat hubungan internasional gerakan kepanduan.
Dalam salah satu agenda pentingnya, Lord Baden-Powell menyampaikan pidato di hadapan para pandu dan undangan. Ia menekankan pentingnya kepanduan sebagai sarana pendidikan nonformal yang menanamkan disiplin, tanggung jawab, persaudaraan, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Baden-Powell juga menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan gerakan kepanduan di Hindia Belanda yang dinilainya telah tumbuh dengan baik dan melibatkan kaum muda dari berbagai latar belakang.
Lord dan Lady Baden-Powell menghadiri sebuah jamuan makan siang di Paleis Buitenzorg. Acara tersebut berlangsung dalam suasana resmi dan dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, di antaranya Hoofdcommissaris van den Padvindersbond, Kolonel Baron van Ommeren, beserta istrinya, serta beberapa pejabat penting lainnya.
Jamuan makan siang itu menjadi bagian dari agenda resmi kunjungan pria kelahiran 22 Februari 1857 di Hindia Belanda. Seusai acara, rombongan melanjutkan kegiatan dengan berjalan-jalan di taman istana. Karena cuaca siang itu cukup panas, sebagian perjalanan dilakukan dengan mobil, meskipun tetap diselingi dengan aktivitas di ruang terbuka.
Dalam kesempatan tersebut, bapak pramuka dunia itu terlihat berinteraksi santai bersama keluarganya; salah satu putrinya bahkan sempat mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi pribadi perjalanan mereka.
Setelah rangkaian kegiatan di Buitenzorg selesai, rombongan Baden-Powell bertolak menuju Cicurug, kemudian melanjutkan perjalanan ke Hotel Panorama.
Di tempat inilah mereka bermalam sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya. Keesokan harinya, rombongan kembali ke Batavia untuk mempersiapkan keberangkatan melalui jalur laut.
Perjalanan selanjutnya membawa Baden-Powell dan keluarganya ke atas kapalMarella, yang akan mengantarkan mereka menuju Semarang.
Semarang
Setelah menyelesaikan agenda di Batavia, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Jawa Tengah, tepatnya ke kota Semarang.
Selama berada di Semarang, Baden-Powell mengikuti sejumlah agenda resmi dan sosial. Ia didampingi oleh tokoh-tokoh penting kepanduan serta pejabat setempat.
Kehadirannya menjadi magnet tersendiri, tidak hanya bagi kalangan kepanduan, tetapi juga masyarakat kota yang ingin menyaksikan langsung sosok yang telah dikenal luas melalui buku dan gagasannya tentang pendidikan karakter.
Dalam berbagai kesempatan, Baden-Powell digambarkan mengenakan seragam kehormatan, termasuk tanda kebesaran yang melekat pada statusnya sebagai tokoh yang dihormati secara internasional.
Penampilan tersebut semakin menegaskan posisi Baden-Powell bukan sekadar sebagai tamu biasa, melainkan figur simbolik yang membawa nilai-nilai global ke wilayah kolonial.
Surabaya
Destinasi terakhir dalam kunjungan singkat nan padat ini adalah Surabaya. Di Jawa Timur, semangat kepanduan memang dikenal sangat militan.
Dari Semarang, perjalanan pria asal Inggris itu berlanjut ke Surabaya, kota pelabuhan terbesar di Jawa Timur.
Kedatangannya kembali disambut dengan antusias oleh para pandu. Seperti di kota-kota sebelumnya, barisan kepanduan tampil rapi dan teratur, mencerminkan nilai disiplin dan tanggung jawab yang diajarkan dalam gerakan kepanduan.
Dalam berbagai kesempatan, Baden-Powell menekankan bahwa kepanduan bukan sekadar kegiatan fisik atau latihan baris-berbaris.
Kepanduan adalah pendidikan karakter seperti kejujuran, pengabdian, kemandirian, dan persaudaraan. Pesan ini disampaikan dengan gaya yang hangat dan bersahaja, meninggalkan kesan mendalam bagi para pandu yang hadir.
Sebagai kota kosmopolitan dan pusat perdagangan, Surabaya memperlihatkan bagaimana gagasan kepanduan yang lahir di Inggris dapat tumbuh dan berakar di lingkungan yang jauh berbeda secara budaya dan geografis.
Meski berlangsung singkat, salah satu tokoh dunia ke Indonesia ini, meninggalkan jejak penting. Nilai-nilai kepanduan yang ia bawa terus hidup dan berkembang, hingga akhirnya menjadi fondasi bagi Gerakan Pramuka Indonesia setelah kemerdekaan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


