Kawan jika ingin mencari suasana perdesaan yang masih sangat asri dan jauh dari polusi maka Desa Wisata Tempur di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara adalah pilihan yang tepat. Berada di area perbukitan lereng Gunung Muria desa ini menawarkan pemandangan alam yang didominasi oleh perbukitan hijau dan hamparan terasering sawah yang luas. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari pusat kota Jepara dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam perjalanan darat.
Keunikan utama dari Desa Tempur adalah letaknya yang seolah tersembunyi karena dikelilingi oleh pegunungan sehingga sehingga udaranya tetap sejuk sepanjang hari. Desa ini bukan sekadar pemukiman biasa melainkan kawasan terpadu yang menggabungkan aktivitas pertanian, sejarah, hingga petualangan alam. Pengunjung dapat melihat langsung interaksi warga lokal yang masih memegang teguh tradisi dalam mengolah lahan dan menjaga kelestarian hutan di sekitar mereka.
Karena letak geografisnya yang berada di lembah pegunungan sinyal telepon seluler di desa ini cukup sulit didapatkan. Kondisi ini justru memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk melepaskan diri sejenak dari ketergantungan pada gawai dan berinteraksi lebih dekat dengan lingkungan sekitar.
Sekilas Mengenai Bentang Alam dan Situs Sejarah
Bentang alam Desa Wisata Tempur terdiri dari wilayah lembah yang subur dengan aliran sungai yang jernih karena bersumber langsung dari mata air Gunung Muria. Terdapat tiga sungai utama yang mengalir di desa ini yaitu Sungai Kaliombo, Sungai Mbolang, dan Sungai Jambu. Airnya yang sangat dingin dan segar sering dimanfaatkan pengunjung untuk mandi atau sekadar membasuh wajah di sela-sela kegiatan penjelajahan.
Selain kekayaan alamnya desa ini menyimpan peninggalan sejarah yang sangat tua berupa Candi Angin dan Candi Bubrah yang terletak di Dusun Duplak. Sesuai namanya candi-candi ini ditemukan dalam kondisi reruntuhan batu yang berserakan tanpa catatan tahun pembuatan yang pasti. Meskipun arsitekturnya sudah tidak utuh lagi keberadaan situs ini menjadi bukti adanya peradaban kuno yang pernah menetap di ketinggian lereng Muria jauh sebelum masa pembangunan candi-candi besar di Jawa Tengah.
Selain candi terdapat juga peninggalan megalitikum seperti Sumur Batu Lumpang dan Batu Yoni yang tersebar di beberapa titik desa. Keberadaan situs-situs ini menjadikan Desa Tempur tidak hanya sebagai tempat rekreasi tetapi juga sebagai lokasi penelitian sejarah dan budaya yang menarik.
Aktivitas Pendakian dan Agrowisata Kopi Duplak
Bagi Kawan yang menyukai tantangan fisik Desa Tempur menyediakan jalur pendakian menuju Puncak Gajah Mungkur yang berada di ketinggian sekitar 1.000 Mdpl. Jalur ini sangat sesuai bagi pendaki pemula karena hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam untuk mencapai puncak yang bentuknya menyerupai punuk sapi. Dari ketinggian ini seluruh bentang alam desa dan perbukitan di sekelilingnya terlihat sangat jelas.
Sektor perkebunan juga menjadi daya tarik yang menonjol terutama kebun kopi seluas 352 hektare yang berada di titik tertinggi Dusun Duplak. Kopi yang dihasilkan di sini dikenal dengan nama Kopi Duplak yang memiliki cita rasa khas dan sedikit ampas saat diseduh. Kawan dapat melihat langsung proses pengolahan biji kopi mulai dari pemetikan hingga siap seduh di kedai-kedai lokal yang ada di sepanjang jalan desa.
Selain kopi hamparan sawah seluas 163 hektare juga menawarkan aktivitas edukasi bagi pengunjung yang ingin mencoba membajak sawah atau menanam padi secara tradisional. Struktur sawah yang berbentuk terasering mengikuti kontur bukit memberikan pemandangan yang sangat rapi dan menenangkan mata.
Harga Tiket Masuk dan Fasilitas di Lokasi
Mengunjungi berbagai spot wisata di Desa Tempur tidak memerlukan biaya yang besar karena tarif yang dikenakan sangat terjangkau bagi semua wisatawan. Untuk masuk ke area situs sejarah seperti Candi Angin atau mendaki ke Puncak Gajah Mungkur pengunjung hanya perlu membayar retribusi sekitar Rp5.000. Sementara untuk melihat Sumur Batu biaya yang dikenakan bahkan lebih murah yaitu sekitar Rp2.000 per orang.
Fasilitas pendukung di desa wisata ini sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar pengunjung selama berkunjung. Tersedia area parkir yang luas, toilet umum, kamar mandi untuk bilas setelah bermain di sungai, hingga mushola. Selain itu terdapat banyak warung makan dan kafe yang dikelola warga lokal sehingga sehingga Kawan tidak perlu khawatir mengenai kebutuhan logistik selama berada di sana.
Desa Wisata Tempur buka selama 24 jam penuh setiap hari namun waktu yang disarankan untuk berkunjung adalah pagi hingga sore hari. Hal ini bertujuan agar pengunjung dapat menikmati pemandangan perbukitan dengan pencahayaan alami yang maksimal dan menghindari jalur perjalanan yang minim penerangan saat malam hari.
Lokasi dan Jalur Perjalanan dari Pusat Jepara
Secara administratif Desa Wisata Tempur berada di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Jalur utama menuju lokasi ini dapat ditempuh dari pusat kota Jepara dengan melewati jalan raya menuju arah Kecamatan Keling. Perjalanan akan mulai menanjak dan berkelok-kelok saat mendekati area lereng Gunung Muria sehingga sehingga kondisi kendaraan harus dalam keadaan prima.
Meskipun letaknya cukup terpencil akses jalan menuju desa sudah beraspal dan dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Pemandangan sepanjang jalan menuju desa dihiasi oleh pepohonan rindang dan jurang yang cukup dalam di beberapa sisi sehingga sehingga pengemudi diimbau untuk selalu waspada. Lokasi desa ini juga sering menjadi pintu gerbang pendakian bagi mereka yang ingin menuju Puncak Songolikur Gunung Muria dari sisi utara.
Ayo Rasakan Kesegaran Alam di Desa Wisata Tempur Jepara
Menikmati kopi di tengah perkebunan dan menyusuri sungai jernih di lereng Gunung Muria akan memberikan pengalaman liburan yang sangat autentik di Jepara. Kedamaian suasana perdesaan dan kekayaan sejarah di Desa Tempur merupakan kombinasi yang sangat sulit ditemukan di tempat lain.
Jadi kapan Kawan akan merencanakan perjalanan untuk melihat hamparan terasering sawah di Desa Tempur ini
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


