menelusuri jejak sejarah kerajaan galuh dan warisan leluhur sunda di astana gede kawali - News | Good News From Indonesia 2026

Menelusuri Jejak Sejarah Kerajaan Galuh dan Warisan Leluhur Sunda di Astana Gede Kawali

Menelusuri Jejak Sejarah Kerajaan Galuh dan Warisan Leluhur Sunda di Astana Gede Kawali
images info

Menelusuri Jejak Sejarah Kerajaan Galuh dan Warisan Leluhur Sunda di Astana Gede Kawali


Kabupaten Ciamis memiliki banyak tempat bersejarah, terutama yang berkaitan dengan masa Kerajaan Galuh. Salah satunya adalah Situs Astana Gede Kawali. Tempat ini tidak hanya dikenal sebagai lokasi makam, tetapi juga diyakini sebagai bekas pusat pemerintahan Kerajaan Galuh serta menjadi penanda akhir perjalanan peradaban Kerajaan Sunda Galuh.

Dilansir dari news.detik.com, situs Astana Gede Kawali berada di Dusun Indrayasa, Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Lokasinya dapat ditempuh sekitar 40 menit dari pusat Kota Ciamis. Saat ini, Astana Gede Kawali dikembangkan sebagai objek wisata sejarah yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Ciamis dan telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya.

Konon pada masa lalu, Astana Gede dikenal dengan sebutan Kabuyutan Sanghyang Lingga. Tempat ini dipercaya sebagai lokasi sakral yang digunakan oleh para raja Kawali untuk melakukan pemujaan dan kegiatan keagamaan ketika ajaran Hindu masih berkembang di wilayah tersebut. K

abuyutan ini dianggap sebagai pusat spiritual dan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan kerajaan, karena menjadi tempat para raja memohon keselamatan, kekuatan, dan keseimbangan dalam menjalankan pemerintahan.

Seiring perubahan zaman dan masuknya pengaruh agama lain, fungsi Astana Gede pun mengalami pergeseran, namun jejak sejarah dan nilai kesakralannya tetap terjaga hingga sekarang.

Seiring berjalannya waktu, Astana Gede kemudian dimanfaatkan sebagai tempat pemakaman tokoh penting, yaitu Adipati Singacala, Raja Kawali yang memerintah pada tahun 1663–1718 M dan merupakan keturunan Sultan Cirebon yang telah memeluk agama Islam. Dilansir dari visitciamis.id, Astana Gede juga diyakini pernah menjadi pusat pemerintahan, dengan salah satu raja yang pernah berkuasa di tempat ini adalah Prabu Ajiguna Linggawisesa.

Saat berkunjung langsung ke Astana Gede Kawali, penulis melihat berbagai peninggalan bersejarah dari Raja Kerajaan Galuh yang masih terawat dengan baik. Di lokasi ini terdapat beberapa batu prasasti, yang jumlahnya diketahui ada enam prasasti.

Prasasti-prasasti tersebut memuat tulisan Sunda kuno yang menjadi bukti penting sejarah Kerajaan Galuh. Selain itu, penulis juga menyaksikan adanya cetakan telapak tangan dan telapak kaki yang dipercaya milik salah satu Raja Galuh, yaitu Prabu Niskala Wastukencana, yang semakin menambah kesan sakral dan nilai sejarah tempat ini.

Dilansir dari tatkala.co, dari enam prasasti yang ditemukan di Astana Gede Kawali, tiga di antaranya yaitu Prasasti Kawali I, II, dan VI memuat pesan-pesan moral yang masih relevan hingga sekarang. Prasasti Kawali I diperkirakan dibuat sebagai penanda untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kancana, raja Sunda yang pernah memerintah di Kawali.

Di kawasan ini juga terdapat Batu Palinggih, yang menurut cerita digunakan sebagai tempat pelantikan raja-raja Galuh ketika mulai berkuasa di wilayah Kawali.

Prasasti Kawali I memuat pesan penting berupa larangan untuk merusak, menginjak, atau bertindak sembarangan terhadap tempat serta peninggalan yang dianggap berharga. Melalui pesan tersebut, masyarakat diingatkan agar bersikap hati-hati dan memiliki rasa hormat terhadap warisan leluhur.

Prasasti ini tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai nasihat moral agar generasi penerus menjaga, merawat, dan tidak merusak peninggalan masa lalu yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan identitas masyarakat Kawali.

Sementara itu, Prasasti Kawali II berisi pesan dan harapan agar masyarakat Kawali dapat menjalani kehidupan yang sejahtera, hidup dengan sikap adil, serta memiliki keberanian dan kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk saat terjadi peperangan.

Pesan ini menunjukkan keinginan para pemimpin pada masa itu agar rakyatnya hidup rukun, saling menghormati, dan mampu menjaga wilayahnya dengan baik demi kelangsungan kehidupan bersama.

Prasasti Kawali VI menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa itu, terutama dalam hal perilaku sosial. Salah satu pesan yang disampaikan adalah larangan berjudi, karena perbuatan tersebut dianggap dapat membawa kesengsaraan dalam hidup.

Pesan ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu masyarakat sudah diajarkan nilai-nilai kebaikan dan aturan hidup agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri maupun orang lain, dan hal tersebut disampaikan melalui prasasti sebagai pengingat bersama.

Selain melihat prasasti, saat berada di Astana Gede Kawali penulis juga menyaksikan batu yang dipercaya sebagai tempat disemayamkannya abu jenazah Putri Diah Pitaloka atau Dewi Citra Resmi, beserta Prameswari dan Prabu Lingga Buana. Mereka dikenal sebagai tokoh penting Kerajaan Sunda yang gugur dalam peristiwa Palagan Bubat sekitar tahun 1357.

Keberadaan batu tersebut menghadirkan suasana haru dan khidmat, sekaligus mengingatkan penulis pada kisah sejarah kelam yang pernah terjadi dan meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan sejarah tanah Sunda.

Sebagai penutup, Astana Gede Kawali merupakan salah satu destinasi bersejarah yang layak dikunjungi, baik untuk belajar maupun berekreasi. Situs ini tidak hanya menyimpan jejak penting perjalanan Kerajaan Galuh dan Sunda, tetapi juga menghadirkan pesan-pesan moral yang masih relevan untuk kehidupan masa kini.

Melalui prasasti-prasasti, batu peninggalan, serta kisah para tokoh besar seperti Prabu Niskala Wastukencana, Prabu Lingga Buana, dan Putri Diah Pitaloka, pengunjung diajak mengenal nilai keberanian, keadilan, dan sikap menghormati warisan leluhur. Suasana Astana Gede Kawali yang tenang dan asri juga membuat kegiatan berkunjung terasa nyaman dan menyenangkan.

Dengan mengunjungi tempat ini, masyarakat tidak hanya dapat menambah wawasan sejarah, tetapi juga mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermakna. Oleh karena itu, Astana Gede Kawali patut dijadikan tujuan wisata edukatif yang memperkaya pengetahuan sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap sejarah dan budaya daerah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.