Visinema Studios kembali hadir membawa angin segar ke dunia perfilman Indonesia. Setelah sukses dengan Jumbo pada tahun 2025, kali ini Na Willa siap membawa penonton melihat dunia melalui sudut pandang penuh imajinasi seorang anak.
Mengajak untuk kembali menyelami dunia yang hangat, penuh impian, dan kebersamaan, film ini mulai bisa disaksikan pada tanggal 18 Maret 2026, dekat dengan momen Lebaran yang penuh suka cita.
Pada press screening dan press conference yang digelar pada selasa (12/3/2026) di Epicentrum XXI, sutradara, produser, hingga jajaran pemeran Na Willa berbagi cerita mengenai apa yang ingin dihadirkan melalui film ini.
Film yang menjadi Refleksi dan Pengingat
Meskipun melibatkan karakter anak-anak, Na Willa adalah film untuk semua umur dan keluarga.
“...kita tuh dulu punya sebuah lensa, lensa yang begitu jernih, begitu jujur, dan itu lensa ketika kita anak-anak...” tutur Ryan Adriandhy, sutradara Na Willa.
Anggia Kharisma, salah satu produser Na Willa menjelaskan, sinema ini merupakan surat cinta dan nostalgia untuk semua orang. Tayang pada momen Lebaran dengan harapan, dapat menjadi ruang aman dan memberikan perasaan yang bisa dibawa pulang lalu didiskusikan dengan diri dan keluarga. Menjadi film yang merefleksikan rasa syukur mencintai lebih banyak lagi.
Akan diputar juga pada Festival Imlek Nasional, Na Willa ingin perbedaan hadir untuk dirayakan, di ana menunjukan film ini dapat dinikmati oleh semua orang. Novia Puspa Sari, salah satu produser Na Willa, berharap karya tersebut dapat memberikan momen hangat untuk seluruh keluarga Indonesia, merasakan kembali menjadi anak-anak, dan keluar dari bioskop dengan bahagia.
Sudut Pandang Anak yang Diangkat
Ryan kembali menjelaskan, sejak awal, sudut pandang yang dituliskan Reda Gaudiamo dalam buku, lensa tersebut sangat jernih dan unik. Tidak terasa seperti orang dewasa yang berpura-pura seperti anak-anak.
Menurutnya, hal ini perlu didengar oleh banyak orang, agar tahu bahwa anak punya banyak dimensi perasaan.
Sinopsis Film Na Willa
Film ini menceritakan perjalanan dari sudut pandang seorang anak bernama Na Willa, yang tinggal bersama Mak dan Pak di rumah yang berada di gang krembangan. Berlatar Surabaya tahun 1960-an, Na Willa bersama sahabat-sahabatnya, Ida, Dul, dan Bud bermain, menjalani hari dengan bahagia.
Na Willa hidup dengan keberagaman yang terjalin hangat di sekitarnya. Melalui kegiatan sehari-hari yang terasa menyenangkan, Na Willa harus merasakan dan menghadapi perubahan. Terlebih saat Dul terkena celaka.
Penonton diajak untuk melihat dunia dari sudut pandang ajaib dan imajinasi Na Willa. Ikut serta dalam kegiatan sehari-hari seorang anak yang terasa ringan dan penuh dengan rasa ingin tahu. Keberagaman, kasih sayang keluarga, serta persahabatan tersaji dengan baik. Merasakan kembali menjadi anak-anak.
Ditemani Lagu yang Penuh Makna
Laeilmanino dipercaya untuk mengisi lagu dalam projek Ryan dan Visinema Studios. “Sikilku iso muni” adalah lagu yang dibuat Laeilmanino untuk film Na Willa. Berbeda dengan lagu pada film Jumbo, lagu ini bercerita tentang pengalaman Dul.
Menurut Nino, lagu tersebut unik karena menceritakan Dul yang emosional. Namun harapannya, penonton dapat mengambil pesan yang coba disampaikan. Lagu ini ingin mengajarkan bahwa kehilangan itu bukanlah akhir, tetapi sebuah perjalanan baru.
Mood dan suasananya yang vintage classic tahun ‘60-an sesuai dengan latar waktu pada film dengan genre Ragtime.
Disajikan Dengan Baik
Dalam produksi film Na Willa, Ryan menjelaskan tantangan yang hadir adalah menyamakan visi seluruh pemain. Namun tantangan tersebut dapat terlewati dengan kerja sama seluruh pemain yang melakukan reading berkali-kali. Memastikan seluruh dialog dan penyampaian bisa keluar alami dan tersaji dengan baik.
Menurut Junior Liem sebagai Pak, tata bahasa dan tata bicara tahun ‘60-an yang berbeda dengan saat ini sedikit membuat kesulitan. Namun hal itu bisa diatasi. Berbeda dengan Mak yang diperankan oleh Irma Rihi, sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan baku.
Kelanjutan Dunia Na Willa
Sama dengan Na Willa dalam versi tulisan yang memiliki 3 buku, Ryan mengatakan, dunia Na Willa dalam media film juga direncanakan terus berlanjut.
Pada film ini, difokuskan dari buku pertama. Sebab, menurut Ryan, Na Willa tumbuh dengan sangat signifikan, bagaimana hubungannya dengan sahabat, guru, dan orang tuanya, melalui tiga buku tersebut. Perjalanan yang sangat besar tersebut dirasa tidak adil, jika dipadatkan menjadi satu film.
“...jadi aku fokus di film pertama dulu, kita mengenal dunia kecilnya dulu, sahabat-sahabatnya di gang, keluarganya, bagaimana dia dari ulat menjadi kupu-kupu dulu, habis itu ya harusnya ada sekuelnya, insyaallah ada…” jelas Ryan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


