Tahukah Kawan GNFI jika sebelum ada kereta petani seperti sekarang, ternyata pernah ada kereta khusus yang bisa mengangkut hewan ternak? Hewan-hewan seperti sapi, kambing, sampai kuda bisa diangkut dengan kereta khusus tersebut.
Salah satu layanan transportasi ternak yang pernah ada adalah di Stasiun Kandangan Surabaya. Stasiun ini dulunya adalah sentra pengangkutan hewan ternak di area Jawa Timur.
Secara harfiah, nama stasiun ini seperti mengingatkan pada kata ‘kandang’ yang berarti penampungan hewan. Namun, sebenarnya nama Stasiun Kandangan tidak berhubungan dengan fungsinya sebagai lokasi pengangkut hewan ternak.
Umumnya, nama sebuah tempat diambil dari nama lokasinya. Di Surabaya sendiri ada daerah yang bernama Kelurahan Kandangan. Akan tetapi, Stasiun Kandangan tidak benar-benar terletak di Kelurahan Kandangan, tetapi di sebelah timur wilayah itu.
Stasiun Kandangan berlokasi di Kelurahan Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya. Stasiun ini berada di ketinggian +2 meter di atas permukaan laut.
Stasiun Kecil yang Pernah Jadi Sentra Angkutan Hewan Ternak
Jalur khusus kereta ternak di Stasiun Kandangan | Aldio Yudha Trisandy/WikimediaCommons
Stasiun Kandnagan tergolong dalam stasiun kereta api kelas III/kecil. Stasiun ini berada di bawah tanggung jawab Daerah Operasi (Daop) VIII Surabaya.
Meskipun tegolong stasiun kecil, dulunya Stasiun Kandangan merupakan salah satu stasiun penting yang melayani pengangkutan hewan ternak. Ada gerbong yang dirancang khusus untuk bisa mengangkut hewan ternak.
Merangkum dari fikkia.unair.ac.id yang dikelola Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam Banyuwangi Universitas Airlangga, di tahun 1964, Perusahaan Nasional Kereta Api (PNKA) mendatangkan gerbong khusus angkutan ternak dengan tipe VR atau VVW dari Cekoslovakia.
Ada beberapa stasiun yang bertugas untuk melayani mobilitas hewan-hewan itu, salah satunya Stasiun Kandangan Surabaya. Stasiun ini bahkan punya jalur khusus ternak yang menuju ke Balai Karantina Hewan milik Kementerian Pertanian RI. Dulu, kantor ini ada di sisi selatan stasiun, tapi saat ini sudah tidak dipakai.
Pengangkutan hewan-hewan ternak dengan kereta ini serupa dengan pengangkutan dengan truk. Satu rangkaian kereta api dengan satu hingga dua lokomotif bisa menarik puluhan gerbong ternak dalam sekali jalan.
Hal ini dianggap sangat efektif, karena bisa mengangkut banyak hewan dalam satu waktu. Di sisi lain, penggunaan kereta juga merupakan langkah yang cukup bijak di masa itu karena belum ada tol lintas Jawa yang menghubungkan Jawa Timur dan wilayah-wilayah lainnya.
Namun, karena teknologi perkeretaapian belum begitu canggih. Di masa itu, jalur kereta masih menggunakan bogie lawas dan rel yang berukuran kecil, sehingga kereta api cenderung berjalan dengan kecepatan yang rendah dan banyak guncangan.
Meskipun demikian, hewan-hewan tetap diperlakukan dengan layak. Di dalam kereta sudah disediakan rumput dan jerami agar mereka tidak kelaparan selama perjalanan.
Melalui Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Surabaya, disebutkan jika hewan-hewan diangkut menuju Jakarta, tepatnya Stasiun Cipinang yang juga menjadi lokasi pengangkutan hewan ternak masa itu. Hewan-hewan diangkut di kereta malam.
Sayangnya, pengoperasian Stasiun Kandangan sebagai sentra angkutan ternak tidak berjalan lama. Eksistensi kereta ternak sirna di awal tahun 2001.
Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki kereta khusus sejenis yang didesain untuk mengangkut hewan-hewan yang dibudidayakan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan jika suatu saat nanti kereta ternak akan beroperasi kembali layaknya kereta khusus petani.
Kini, Stasiun Kandangan hanya melayani perjalanan kereta api lokal dan layanan komuter saja. Tidak banyak jadwal kereta api yang ada, mengingat stasiun ini adalah pemberhentian kelas III/kecil.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


