Batu Anyo-Anyo adalah sebuah batu berbentuk kapal yang terletak di sebelah timur Negeri Akoon, Nusalaut. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Maluku yang menceritakan tentang legenda Batu Anyo-Anyo tersebut.
Simak kisah lengkap dari legenda Batu Anyo-Anyo dalam artikel berikut ini.
Legenda Batu Anyo-Anyo, Cerita Rakyat dari Maluku
Dinukil dari artikel Ruth Tutupary, "Batu Anyo-Anyo" yang terbit di buku Antologi Cerita Rakyat Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, alkisah pada zaman dahulu bangsa Portugis datang ke daerah Maluku untuk mencari rempah-rempah di sana. Sayangnya, masyarakat yang ada di sana menjadi tertindas akibat kedatangan bangsa asing tersebut.
Hal ini juga dirasakan oleh masyarakat yang ada di Nusalaut. Terlebih Nusalaut menjadi salah satu daerah yang kaya dengan rempah-rempah, seperti cengkih dan pala.
Para raja dan masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan bangsa Portugis tersebut. Persenjataan yang mereka miliki sangat jauh berbeda dengan apa yang dimiliki oleh bangsa asing itu.
Setiap minggunya, kapal Portugis biasanya akan melintasi laut di Negeri Akoon untuk menuju Benteng Beverwijk yang ada di Negeri Sila. Pada awalnya masyarakat merasa kagum melihat kapal asing itu.
Namun ketika masyarakat tengah berkumpul di pinggir pantai, kapal tersebut justru melepaskan tembakan ke arah mereka. Hal ini membuat masyarakat ketakutan dan berlarian untuk menghindarinya.
Sejak saat itu, masyarakat selalu bersiap ketika ada kapal asing yang melintasi laut Akoon. Mereka tidak ingin mengalami hal yang sama seperti sebelumnya.
Di Gunung Hotuhahani yang berada di sebelah barat laut Negeri Akoon, hiduplah Marlehu. Dirinya adalah leluhur dari marga Berhitu.
Marlehu yang sudah berusia 50 tahun memiliki perawakan tinggi tegap dan berambut panjang. Sekilas orang yang tidak mengenalnya bisa saja takut ketika berjumpa Marlehu pertama kali.
Padahal Marlehu memiliki sifat yang baik hati dan ramah. Dia selalu membantu masyarakat di sekitar yang membutuhkan pertolongan.
Marlehu dikenal memiliki kesaktian yang mumpuni. Kekuatan inilah yang sering kali dia gunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Kabar tentang kapal asing yang melintas di laut Akoon juga terdengar di telinga Marlehu. Dirinya berniat untuk memberikan bantuan pada masyarakat atas kejadian tersebut.
Suatu ketika, kapal asing kembali melintas di laut Akoon. Dari puncak Gunung Hotuhahani, Marlehu sudah memperhatikan kapal tersebut sambil mengucapkan berbagai macam mantra.
Ketika kapal tersebut tiba di pelabuhan Akoon, Marlehu kemudian mengangkat tongkatnya dan menunjuk kapal asing tersebut. Tiba-tiba angin kencang langsung menerjang kapal itu hingga terombang-ambing.
Semua awak kapal menjerit ketakutan akibat hal itu. Tidak lama kemudian, kapal asing tersebut berubah menjadi batu beserta semua barang bawaan yang ada di dalamnya.
Nahkoda kapal tersebut, Halat berhasil kabur dari atas kapal. Dirinya berhasil melarikan diri bersama dua awak kapal yang berkebangsaan Cina dan Belanda.
Awal kapal berkebangsaan Cina ini kemudian melarikan diri ke arah utara dan berubah menjadi batu. Tempat awak tersebut menjadi batu ini kemudian dikenal dengan nama Tahasina.
Sementara itu, awak kapal berkebangsaan Belanda melarikan diri ke arah selatan. Sama seperti sebelumnya, dia juga berubah menjadi batu dan dikenal dengan nama Pupurwalanta.
Marlehu sendiri berhasil menangkap sang nahkoda kapal. Namun Marlehu memutuskan untuk memaafkan Halat.
Atas kejadian ini, Marlehu kemudian diangkat menjadi Kapitan marga Berhitu. Sementara itu, Halat diangkat menjadi saudara kandung Marlehu.
Konon kapal asing yang berubah menjadi batu akibat sihir dari Marlehu inilah yang dikenal sebagai asal usul Batu Anyo-Anyo.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


