Presiden Prabowo tak salah mengutip. Memang, ada studi yang mengatakan bahwa warga Indonesia adalah yang paling sejahtera dibandingkan negara lain. Jika kebahagiaan didominasi oleh negara Skandinavia; Indonesia unggul di bagian kesejahteraan.
Tapi, jangan ditelan mentah-mentah. Studi dari mana dan apa saja sih indikator kebahagiaan itu?
Sebuah temuan menunjukkan, Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan hidup tertinggi secara global. Temuan ini berasal dari Global Flourishing Study, sebuah riset kolaboratif berskala besar yang melibatkan Harvard Human Flourishing Program, Baylor University, Gallup, serta Center for Open Science.
Peneliti utama dari Baylor University, dr. Byron Johnson, menegaskan bahwa kekuatan utama studi ini terletak pada cakupannya yang luas. Ia menyebut penelitian ini mewakili sekitar 64% populasi dunia.
“Keunikan dari Global Flourishing Study adalah pada skalanya. Kami mengikuti sebanyak 207.000 partisipan dari seluruh dunia, menggunakan lebih dari 40 bahasa di enam benua berpenghuni. Artinya, penelitian ini mewakili sekitar 64% populasi dunia,” kata dr. Byron Johnson.
Selama periode 2022 hingga 2024, para peneliti melibatkan lebih dari 207.000 responden dari 23 negara dan wilayah, menggunakan lebih dari 40 bahasa, serta mencakup enam benua berpenghuni.
Hasil riset ini dipublikasikan secara open access di jurnal Nature Mental Health pada April 2025. Dalam publikasi tersebut, para peneliti tidak hanya menanyakan apakah seseorang merasa bahagia, tetapi juga menggali lebih dalam bagaimana kualitas hidup mereka secara menyeluruh. Inilah yang disebut sebagai flourishing.
Dalam konteks penelitian ini, flourishing menggambarkan kondisi ketika seseorang menjalani hidup yang baik secara utuh. Bukan hanya merasa senang, tetapi juga memiliki kesehatan yang memadai, hubungan sosial yang kuat, rasa aman secara finansial, karakter yang prososial, serta makna hidup yang dirasakan.
Tyler VanderWeele dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa konsep ini melampaui definisi kebahagiaan yang sempit dan individual.
Apa Hasil Risetnya?
Dari riset tersebut, ada berbagai fakta menarik. Negara-negara dengan pendapatan tinggi seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Swedia memang unggul dalam aspek keamanan finansial. Akan tetapi, mereka cenderung tertinggal dalam dimensi lain, terutama makna hidup, hubungan sosial, dan karakter prososial. Ini menunjukkan bahwa negara kaya belum tentu memiliki masyarakat yang sejahtera secara holistik.
Sebaliknya, Indonesia yang tidak masuk kategori negara berpendapatan tinggi justru menunjukkan skor tinggi dalam hubungan sosial dan makna hidup. Laporan tersebut menyebut bahwa kekuatan Indonesia terletak pada rasa kebersamaan yang masih hidup di masyarakatnya.
Banyak Pemuda Tidak Sepakat dengan Hasil Studi
Namun, temuan ini juga menyimpan catatan penting. Data menunjukkan bahwa generasi muda di banyak negara justru melaporkan tingkat flourishing yang lebih rendah dibanding kelompok usia yang lebih tua. Tyler VanderWeele menjelaskan bahwa jika data dari 22 negara digabungkan, tingkat kesejahteraan cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
Fenomena rendahnya tingkat flourishing pada kelompok usia muda juga disoroti oleh Felix Cheung, dosen psikologi dari University of Toronto. Ia menilai temuan ini sebagai sinyal bahwa sebagian anak muda menghadapi tekanan yang belum terjawab dengan baik, mulai dari kompetisi pendidikan hingga tantangan dunia kerja.
Dalam Global Flourishing Study sendiri, para peneliti menegaskan bahwa kesejahteraan bukan kondisi yang tetap. Tyler VanderWeele menjelaskan bahwa flourishing diukur melalui 12 pertanyaan inti yang mencerminkan berbagai dimensi kehidupan dan dapat berubah seiring waktu. Cheung pun menekankan bahwa kesejahteraan tidak semata berkaitan dengan kekayaan, melainkan juga dengan makna hidup dan kualitas hubungan sosial.
Cheung menegaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya bisa ditemukan di negara maju. Ia menyebut bahwa flourishing bukan soal menjadi kaya atau sukses, melainkan tentang memiliki makna, hubungan, dan rasa syukur yang membuat hidup terasa utuh.
Temuan Global Flourishing Study akhirnya menjadi pengingat penting di tengah dunia yang semakin individualistis. Di banyak negara maju, modernisasi kerap berjalan beriringan dengan meningkatnya rasa kesepian dan tekanan hidup. Indonesia, dengan segala keterbatasannya, justru menawarkan pelajaran berharga tentang arti hidup yang bermakna.
Intinya, Apa yang Membuat Masyarakat Indonesia Sejahtera?
- Kekayaan Bukan Penentu Utama
Negara-negara dengan pendapatan per kapita tinggi seperti Amerika Serikat, Swedia, atau Jepang ternyata berada di posisi menengah hingga bawah dalam studi ini. Mereka unggul dalam keamanan finansial, tetapi lebih lemah dalam hubungan sosial, makna hidup, dan karakter prososial.
- Indonesia Puncaki Daftar dengan Skor Tinggi Secara Menyeluruh
Data menunjukkan Indonesia berada di urutan teratas dengan skor rata-rata sekitar 8,47 dari 10—mengalahkan Israel, Filipina, dan Meksiko yang berada di belakangnya.
- Sosial & Budaya Jadi Kunci Kekuatan
Banyak analis menyebut ikatan komunitas yang kuat sebagai salah satu alasan Indonesia unggul. Kerja bakti, arisan, tahlilan, hingga obrolan santai di warung kopi. Kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas tetapi menjadi ruang di mana rasa memiliki dan dukungan sosial tumbuh subur.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


